Tamu
Anggota: 432
Berita: 176
WebLinks: 54
Pengunjung: 676596
|
|
Teologi & Filsafat
|
|
Jumat, 16 Maret 2007 |
|
Oleh: Musa Musawir Pada abad pertengahan manusia sepenuhnya berada dalam posisi pasif dan merasa tidak memiliki daya apapun tanpa ada kekuatan gaib. Bahkan untuk menyelamat diri dari kejahatan pun tidak ada jalan lain untuk mereka kecuali mengandalkan peninggalan-peninggalan suci. Rasionalisasi secara logis dan konseptual terhadap keyakinan mereka dan segala sesuatu yang terjadi menyangkut urusan dunia mereka anggap sebagai pembangkangan terhadap ketundukan kepada kekuatan-kekuatan gaib yang menguasai alam.
|
|
Perspektif
|
|
Jumat, 16 Maret 2007 |
|
Oleh: Muhsin Labib Namun Wahabisme tidak selalu bernasib baik. Dalam perkembangannya radikalisme yang berkembang di lingkungan kelompok ini akhirnya memancing keretakan dan konflik horizontal diantara mereka sendiri Fenomena radikalisme Juhaiman yang menguasai Masjidil Haram beberapa tahun silam, Ben Laden dengan Al-Qaedah serta Talibanisme membuat melahirkan perpecahan dalam simpul-simpul Wahabisme. Di Arab Saudi, tempat kelahirannya, wahabisme radikal mulai mendapatkan tekanan dari aparat Kerajaan. Islam Sunni yang semula dianaktirikan, mulai mendapatkan kelonggaran. Muslim Syiah, yang menjadi mayoritas di wilayah Timur, mulai diperlakukan dengan baik.
|
|
Sejarah & Tokoh
|
|
Senin, 12 Maret 2007 |
|
Oleh: Nasir Dimyati Apa lagi dari sudut pandang irfan, mereka lebih senang meniru keangkuhan dan pembangkangan iblis saat iblis diperintah untuk sujud di hadapan Adam daripada meneladani ketaatan malaikat, mereka lebih mendahulukan pendapat mereka sendiri daripada firman Tuhan; terbukti agama samawi yang menjulang mereka putarbalikkan menjadi agama biasa dan agama Ilahi menjadi agama sekular. Saya teringat surat jawaban ayah khalifah pertama yang berada di Tha’if pada saat Rasulullah saw. wafat sedang anaknya hendak mengambil bai’at dari sang ayah. Sang anak berkata dalam suratnya:
|
|
Sejarah & Tokoh
|
|
Jumat, 09 Maret 2007 |
|
Oleh: Euis Daryati Sayyidah Zainab al-Kubro tumbuh dan berkembang di rumah tempat para malaikat berlalu lalang. Di rumah tempat nama-nama suci Allah selalu dikumandangkan, yang para penghuninya merupakan pengejawantahan segala kesempurnaan; kezuhudan, keberanian, kedermawanan, ahklak mulia, penghambaan, keadilan dan segala sifat sempurna lainnya. Kakeknya Rasulullah saww yang merupakan manusia tersempurna di alam semesta dan penghulu para nabi cukup memberikan pengaruh positif pada pertumbuhan kepribadian beliau. Nabi Muhammad saww senantiasa memperhatikan para putra dan putri Sayyidah Fathimah Zahro as dengan sepenuhnya serta mengasihi mereka.
|
|
Teologi & Filsafat
|
|
Minggu, 04 Maret 2007 |
|
Oleh: Musa Musawir Pada tahun-tahun terakhir jargon humanisme lazim digunakan dalam pengertian tatanan nilai yang mengaksentuasikan kompetensi kepribadian setiap individu manusia. Namun jargon ini tidak mengandung keimanan kepada Tuhan. Dan kendati dalam humanisme terlihat bingkai transparan yang berlandaskan paham ateisme, namun para humanis juga menggunakan berbagai format religius untuk mempromosikan norma-norma kemanusiaan. Contohnya, pada abad ke 19 Auguste Comte, seorang positivis Prancis, sengaja mendirikan agama kemanusiaan yang berlandaskan ateisme hanya dengan tujuan membenahi situasi sosial. Kecuali itu, serangkaian doktrin humanistik yang berasaskan ateisme juga terlihat mendapat minat dari kalangan elit agama Kriten sehingga mereka menganggap kekristenan sebagai agama humanistik.
|
|
Perspektif
|
|
Minggu, 04 Maret 2007 |
|
Oleh: Emi Nur Hayati Ma’sum Said Dengan demikian maka jelaslah bahwa poligami bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan sebagaimana sebagian orang merasa ketakutan dengan poligami, khususnya kaum perempuan, yang menjadi korban dan budak nafsu kaum laki-laki pelaku poligami. Tentu saja harus dilihat juga bahwa di antara perempuan-perempuan yang dimadu, sering muncul penyakit hasud dan cemburu sesama mereka sendiri secara berlebihan dan pada akhirnya menimbulkan ketidakharmonisan dengan suami dan keterlantaran anak-anak. Hal ini dapat timbul karena sikap suami yang tidak menjaga keadilan sesama mereka.
|
|
Sejarah & Tokoh
|
|
Minggu, 25 Pebruari 2007 |
|
Oleh: Saleh Lapadi Penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw tidak pernah berhenti di Barat. Benar, Imam Khomeini pernah mengeluarkan fatwa hukuman mati atas Salman Rushdi. Namun, penghinaan terhadap Nabi Islam, Muhammad saw tidak pernah selesai. Permusuhan Barat terhadap Islam masih tetap berlangsung. Pemuatan karikatur yang menghina Nabi Muhammad saw di Denmark masih satu jalur dengan Ayat-ayat Setan Salman Rushdi. Sekalipun didemo di mana-mana, masih saja di sebagian negara-negara seperti Inggris, Azerbaijan dan terakhir Prancis yang proses pengadilannya tengah berlangsung, melakukan penghinaan.
|
|
Hukum Islam
|
|
Jumat, 23 Pebruari 2007 |
|
Oleh: M Turkan Yang lebih penting lagi adalah bahwa jika pelaksanaan secara individu dalam amar makruf tidak membuahkan hasil atau nilai maka, kewajiban yang harus dilakukan bagi pelaku amar makruf adalah dengan cara berkelompok. Artinya jika seseorang melihat bahwa perbuatan sipendosa itu hanya bisa diatasi dengan sepuluh orang maka, wajib bagi pelaku amar makruf untuk mencari orang dengan jumlah tersebut, jika memerlukan dua puluh orang maka dia wajib mencari dua puluh orang begitu seterusnya.
|
|
Sejarah & Tokoh
|
|
Sabtu, 17 Pebruari 2007 |
|
Oleh: Euis Daryati Nyawa manusia memang terhormat dan harus dijaga. Namun ketika bahaya menyerang agama, pada saat itu agama harus lebih diutamakan kendati nyawa akan melayang. Itulah yang dilakukan Imam Husain as di Karbala. Tapi yang menjadi pertanyaan ialah; Apakah Asyuro cukup sampai di sini? Siapakah duta-duta di balik tragedi Asyuro yang harus menyampaikan pesan Asyuro? Bagaimanakah peranan perempuan dalam hal ini?
|
|
Perspektif
|
|
Kamis, 15 Pebruari 2007 |
|
Oleh: Muchtar Luthfi Islam yang bertumpu pada ajaran tauhid yang didukung berbagai argumentasi –histories, teks, akal sehat dan fitrah sebagai esensi dasar manusia- telah mengizinkan beberapa bentuk tindak kekerasan. Dengan sangat jelas batasan-batasan itu diperinci oleh Islam dalam ajarannya. Dengan tidak lagi mengindahkan batasan-batasan tersebut meniscayakan seseorang telah keluar dari hukum-hukum Islam, sehingga tidak dapat mengatasnamakan tindaannya tersebut sebagai gerakan Islam yang sakral, jihad.
|
| | << Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 Selanjutnya > Akhir >>
| | Hasil 109 - 128 dari 135 |
|
|
Berita
Cache Directory Unwriteable
|