Tamu
Saat ini ada 18 pengunjung yang online
Anggota: 430
Berita: 176
WebLinks: 54
Pengunjung: 674245
|
|
Ulumul Quran
|
|
Senin, 14 Januari 2008 |
|
Oleh: Abdullah Nasri Ruh Menurut Al-Quran Sebuah pertanyaan yang sampai saat ini jawabannya belum mampu memuaskan manusia adalah, apakah hakikat wujud manusia? Apakah wujud manusia hanya sebongkah badan materiel, atau juga membawa hakikat selain materi? Dengan kata lain, apakah al-Quran mengakui bahwa manusia adalah hakikat selain materi yang disebut dengan ruh atau menolaknya? Bila mengakui demikian, lalu bagaimana kitab suci ini menjelaskan hubungan ruh dengan badan? Apakah ruh ada setelah kejadian badan atau sebelumnya? Apakah al-Quran mengakui bahwa setelah kehancuran badan, ruh tetap ada atau tidak?
|
|
Khutbah
|
|
Sabtu, 29 Desember 2007 |
|
Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang Puja dan Puji Bagi Allah SWT Segala puja dan puji hanya bagi Allah SWT yang begitu tinggi dalam ke-Esaan-Nya, dan yang begitu dekat dalam kesendirian-Nya. Maha Agung dalam kekuasaan-Nya dan Maha besar dalam kekokohan-Nya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu sementara Dia tetap pada derajat-Nya. Semua makhluk ciptaan-Nya tunduk dibawah kekuasaan dan hujjah-Nya. Ia senantiasa disyukuri dan dipuji. Ia memiliki keagungan yang abadi. Ia yang memulakan dan Ia pula yang akan mengembalikan, dan semua perbuatan akan kembali kepada-Nya.
|
|
Wawancara
|
|
Sabtu, 29 Desember 2007 |
|
Wawancara Bersama Dr. Nasr Hamid Abu Zaid Kebanyakan orang berkeyakinan, Syeikh Amin Al-Khuli sebagai pelopor studi Al-Quran kontemporer. Ia juga orang pertama yang mengkaji Al-Quran lewat pendekatan sastera. Lalu bagaimana Anda melihat diri Anda dengan pemikiran Amin Al-Khuli? Dan Apakah Anda sebelumnya pernah mengenalnya dari dekat? Saya tidak mengenal Syeik Amin Al-Khuli dari dekat, namun ia adalah orang pertama yang mencetak makalah saya di majalah Al-Adab. Pada waktu itu saya masih remaja. Sejak masa itu saya mulai punya hubungan batin dengannya. Setelah memasuki universitas dan sepeninggal Al-Khuli, saya mempelajari dengan teliti buku-bukunya dan beberapa penelitian Muhammad Ahmad Khalaf Allah. Kajian saya kali ini berbarengan dengan kesadaran saya akan krisis studi-studi keislaman di Fakultas Bahasa Arab dan masalah yang mendera Universitas Al-Azhar. Salah seorang dosen paling berpengaruh dalam pemikiran saya adalah Syukri Iyad. Ia adalah murid Syeikh Al-Khuli. Penulisan tesis S2 saya berjudul Yaum Al-Hisab Fi Al-Quran di bawah bimbingannya. Syukri Iyad terpaksa membanting setir dari jurusan kajian dan mata kuliah yang diberikannya dari studi-studi keislaman menjadi studi yang terkait dengan kritik.
|
|
Khutbah
|
|
Senin, 17 Desember 2007 |
|
Bismillâhirromânirrohîm Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang Puji syukur bagi Allah; Tuhan alam semesta. Salawat dan salam atas junjungan kita; Muhammad Al-Mushtofa, dan atas keluarganya yang termulia serta sahabat-sahabatnya yang terpilih. Salam kepada para pengunjung rumah Allah Swt., kepada para tamu tanah kekasih, dan kepada para penyambut seruan-Nya! Juga salam khusus kepada hati-hati yang kembali segar dari mengingat Allah Swt., dan yang masih mengetuk pintu limpahan karunia dan rahmat-Nya!
|
|
Perspektif
|
|
Sabtu, 08 Desember 2007 |
|
Oleh: Afifah Ahmad Pendahuluan Dunia tidak ada yang tak mengenalnya. Sejarah mencatat perjalannya yang gemilang. Nama Ali diabadikan pada nama-nama Imam lain seperti Ali Zaenal Abidin as, Ali Ridha as dan Ali al-Hadi as. Nama Ali juga menjadi Favorit di kalangan Bani Hasyim dan suku Arab. Kini, namanya menjadi nama dari jutaan penduduk muslim di Dunia. Di Iran sendiri, nama Ali hampir dapat ditemukan pada setiap keluarga yang memiliki anak laki-laki. Siapakah gerangan pemilik nama pertama yang menjadi sumber penisbatan bagi jutaan nama-nama Ali lainnya?
|
|
Perspektif
|
|
Sabtu, 08 Desember 2007 |
|
Oleh: Muhsin Labib Sejak lama saya berencana untuk membahas masalah yang super senditif ini. Namun keterbatasan kemampuan terutama dalam forum umum, selalu mengurungkannya. Namun niat itu kali ini sudah tidak terbendung lagi karena beberapa faktor dan peristiwa, meski ditulis tanpa persiapan (bahkan mungkin banyak ditemukan salah ketik), dan tidak didukung dengan sumber-sumber yang memadai. Saya merasa terpanggil untuk membuka masalah ini karena beban psikologis yang terus menghimpit dada saya dan orang-orang yang senasib (baca: yang kejatuhan predikat 'sayyid') dengan saya.
|
|
Perspektif
|
|
Sabtu, 01 Desember 2007 |
|
Oleh: Muhammad Alkaf Kriteria lain premanisme internal adalah para peserta dan pendukungnya rata-rata berpendidikan rendah, "bonek" (bondo nekat), dan tidak tahu-menahu masalah dengan baik. Karena itu, mereka yang ototnya paling kuat bak kawat dan tulangnya paling kokoh bak wesi (baca: besi) berada di depan untuk memimpin gerakan anarkis kolektif ini supaya dengan energik dapat meneriakkan yel-yel kebencian dan melantunkan lagu permusuhan serta nyayian kutukan. Dengan kata lain, orang-orang yang terlibat premanisme internal adalah orang-orang "kelas kampung" dan "kelas desa" yang galtek (gagal tehnologi) alias tidak pernah bersentuhan dengan peradaban lain. Mereka hanya kenal satu selera dan satu menu. Ibarat mereka hanya kenal tahu dan tempe. Mereka paksa orang lain untuk hanya membeli dan mengkonsumsi makanan yang selalu mereka makan, tidak peduli orang lain suka atau tidak, berselera atau tidak.
|
|
Perspektif
|
|
Sabtu, 01 Desember 2007 |
|
Oleh: Muhsin labib
Senin dini hari (26 November 2007) sekitar pukul 00.30 warga kota Bangil dikegetkan oleh konvoi truk dan sepeda motor. Mereka bukan geng motor sebagaimana di Bandung. Tapi gerombolan orang awam yang diprovokasi. Seorang yang dikenal anti persatuan Islam memprovokasi sejumlah anggota masyarakat untuk konvoi keliling Bangil dan melakukan perusakan rumah sejumlah mubalig dan pengelola SMU Al-Ma’had al-Islami yang dianggap sebagai penganut aliran sesat. Padahal SMU ini telah berada lama di kota tersebut dan memberikan kontribusi nyata dalam bidang pendidikan dan dakwah Islam.
|
|
Wawancara
|
|
Senin, 26 November 2007 |
|
Wawancara dengan Abdul Karim ayah Sayyid Hasan Nasrullah Ia diberi julukan “Mahbub Arab” (kecintaan Arab). Ia adalah Sayyid Hasan Nasrullah, Sekjen Hizbullah. Saat ini ia menjadi pusat perhatian para pemimpin negara-negara Arab dan media massa dunia. Tidak banyak berbicara, tapi bila berbicara, ia akan melakukannya secara tepat dan singkat. Kalimat singkat itu merasuk mencerahkan pemikiran para pendengarnya dan hal ini yang membuatnya semakin dicintai. Sayyid Hasan Nasrullah menjadi kebanggaan pecintanya, sekaligus menggetarkan musuh-musuhnya. Banyak orang yang ingin mengetahui masa kanak-kanak dan remaja Sayyid Hasan Nasrullah. Dalam wawancara ini, Anda akan membaca sekilas masa kanak-kanak dan remajanya. Bagaimana lingkungan tempat ia tinggal yang meneladani kepribadiannya. Semua ini akan Anda temui dalam wawancara dengan Abdul Karim Nasrullah, ayah Sayyid Hasan Nasrullah yang beberapa waktu lalu menjadi tamu Teheran.
|
|
Teologi & Filsafat
|
|
Minggu, 18 November 2007 |
|
Oleh: Muhsin Labib Eksistensi Tuhan adalah salah satu masalah paling fundamental manusia, karena penerimaan maupun penolakan terhadapnya memberikan konsekuensi yang fundamental. Alam luas yang diasumsikan sebagai produk sebuah kekuatan yang maha sempurna dan maha bijaksana dengan tujuan yang sempurna berbeda dengan alam yang diasumsikan sebagai akibat dari kebetulan atau insiden. Manusia yang memandang alam sebagai hasil penciptaan Tuhan Maha Bijaksana adalah manusia yang optimis dan bertujuan. Sedangkan manusia yang memandang alam sebagai akibat dari serangkaian peristiwa acak atau chaos adalah manusia yang pesimis, nihilis, absurd dan risau akan kemungkinan-kemungkinan yang tak dapat diprediksi.
|
| | << Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 Selanjutnya > Akhir >>
| | Hasil 37 - 56 dari 135 |
|
|
Berita
Cache Directory Unwriteable
|