Tamu

Saat ini ada 12 pengunjung yang online
Anggota: 430
Berita: 176
WebLinks: 54
Pengunjung: 674225

Daftar Anggota






Saya lupa passwordnya?
Belum punya Username & Password? Daftar Baru!
Depan
Memandang Romli dari ‘Atas’ (1)
Perspektif
Sabtu, 08 September 2007

Oleh: Saleh Lapadi

“Kepribadian dan pengetahuan Muhammad dibentuk oleh lingkungannya. Leluhurnya dikenal menaati prosedur dan ajaran kenabian. Salah satunya adalah kaum cerdik pandai Kristen.” Ungkapan ini adalah tulisan pembuka Mohamad Guntur Romli, Aktivis Jaringan Islam Liberal. Ia dengan setia kembali mengulangi konsepnya dengan mengatakan Muhammad bukanlah nabi yang datang dari dunia antah berantah. Dan ditutupnya dengan kesimpulan, kenabian dan pewahyuan itu adalah hasil dari eksperimen kolektif setelah melalui proses kreatif yang sangat panjang.

Menarik menyimak tulisan yang menggugah cara pandang lama tentang masalah kenabian. Kita dibombardir sejumlah data-data untuk meyakini bahwa begitu besar pengaruh lingkungan, yang dalam hal ini diwakili oleh koalisi Kristen (Waraqah bin Naufal dan Utsman bin al-Huwairits) dan Al-Hanifiyah Abdul Mutthalib). Ternyata, peran komunitas Kristen tidak kecil dalam membentuk kepribadian Muhammad saw. Rata-rata para “penasehat spiritual” yang disebut-sebut pendeta dalam sejarah berhasil meyakinkan Muhammad agar tidak perlu khawatir, karena ia bakal menjadi Nabi terakhir.

 
Hijab: Menuju Keshalihan Sosial
Hukum Islam
Sabtu, 08 September 2007

Oleh: Afifah Ahmad

Pendahuluan
Dewasa ini, hijab kembali menjadi isu hangat, seiring menguatnya fenomena semangat menerapkan nilai-nilai keagamaan di tanah air. Berbagai perda yang memuat peraturan hijab telah disahkan, seperti Instruksi Walikota Nomor 451.422/Binsos-III/2005, tertanggal 7 Maret di Padang. Sebelumnya beberapa tempat lain, termasuk Aceh, telah lebih dahulu memulai. Tentu saja, beberapa perda ini memancing silang pendapat hebat di berbagai lapisan masyarakat. Bahkan, ada pula yang memandangnya sebagai upaya pemenjaraan terhadap hak-hak perempuan.

Terlepas dari pro kontra yang mengemuka, nampaknya ada celah positif yang perlu ditanggapi secara serius; spirit memperbaiki moralitas masyarakat. Meskipun tidak hanya cukup sampai di sini. Kerja besar lainnya yang lebih penting adalah memberikan pemahaman secara benar tentang makna, hukum serta hikmah hijab kepada  masyarakat.

 
Hijab sebagai Pilar Keluarga
Hukum Islam
Sabtu, 01 September 2007

Oleh: Siti Rabiah Aidhiah

 
Pendahuluan
Hijab seperti tema yang berkaitan dengan isu perempuan semisal poligami, mahar dan hak talak dalam perceraian di kalangan dan di luar umat Islam masih diperdebatkan sebagai aturan yang hari ini tidak perlu dilaksanakan lagi, dipermasalahkan karena ia bukan berasal dari Islam, atau didakwa sebagai pemasung kebebasan bahkan pencerabutan hak wanita.

 
Seiring dengan pemahaman tentang keadilan dan hikmah Tuhan, maka setiap aturan berupa perintah dan larangan-Nya tentu memiliki tujuan yang tidak lain adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Pemahaman akan hal ini menjadi sangat penting, terutama di era  ini ketika peradaban manusia telah berkembang sejalan dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Segala sesuatu yang hanya bersifat doktrin kaku tanpa dibarengi penjelasan hikmah dan alasan ilmiah akan tertolak, sebagaimana seorang anak yang beranjak dewasa tidak lagi percaya bahwa di dalam gelap ada sesuatu yang menakutkan.

 
Syiah di Indonesia: Antara Tantangan dan Masa Depan
Perspektif
Sabtu, 01 September 2007
Oleh: Muhsin Labib

Revolusi Islam Iran yang diletuskan oleh Imam Khomeini telah menjadi momentum historis bagi tersebarnya ajaran Ahlul-bait ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Keberhasilan Imam Khomeini menumbangkan monarki Pahlevi yang menjadi anak emas Amerika di Timut Tengah telah membuat bangsa Indonesia terbelalak.

Para pemuda dan mahasiswa dengan antusiasme tinggi mempelajari buku-buku yang ditulis oleh cendekiawan revolusioner Iran, seperti Murtadha Muthahhari dan Ali Syariati. Sejak saat itulah terjadilah gelombang besar masyarakat Indonesia memasuki mazhab Ahlulbait. Maraknya antusiasme kepada mazhab Ahlulbait Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar dan paling berpengaruh di Asia Tenggara, tentu berpengaruh terhadap berkembangnya ajaran Ahlulbait di Malaysia dan kawasan Asia Tengggara.

 
Nasib Bangsa
Perspektif
Sabtu, 01 September 2007

Oleh: Muhammad Anis Maulachela

Seiring dengan bergulirnya revolusi industri pada abad ke-18 M, para kapitalis (pemilik modal) berlomba-lomba membangun perusahaan industri, dari hulu hingga hilir. Tak ayal, nasib perekonomian negara pun berada di tangan mereka. Ketergantungan inilah yang kemudian menjadikan mereka merambah dunia politik. Sehingga, terbentuklah pemerintahan kapitalis, yang kemudian berkembang menjadi korporatokrasi (kekuasaan yang dikendalikan oleh elit politik, pengusaha, dan bank).

Namun pada akhirnya kapitalisme ini tidak hanya bersifat lokal, melainkan dikembangkan secara global. Kaum kapitalis rupanya tidak hanya puas menguasai negaranya, mereka juga ingin menguasai dunia. Mereka berpendapat bahwa ekonomi tidak memiliki batasan teritorial, dan pemerintah tidak semestinya mencampuri urusan pasar. Sehingga muncullah gagasan dan praktik demokrasi pasar, liberalisasi ekonomi, korporasi global, perdagangan bebas, deregulasi ekonomi, privatisasi, hutang luar negeri, globalisasi, dan lain-lain.

 
Peran Islam dalam Masa Depan Eropa
Wawancara
Sabtu, 25 Agustus 2007

Wawancara dengan Mohammad Arkoun

 

Apa fokus gerakan Islam dan proses perkembangannya? Apakah gerakan ini awal kelahiran Islam Prancis atau Islam Eropa? Dalam ringkasan wawancara ini, Muhammad Arkoun mengulas keadaan Islam di Prancis secara khusus dan Eropa secara Umum. Menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, dia mengidentifikasi persoalan utama terletak pada ketidaksiapan intelektual umat Islam dan kaum imigran ke Eropa.

 

Dia percaya bahwa mereka ini secara keliru telah menerangkan topik-topik keislaman dan menisbatkan berbagai hal fiktif dan palsu kepada Islam. Karenanya, gejala ini—menurutnya—menyebabkan Islam di Eropa lemah dalam mengambil peran yang berarti, kecuali jika ia bisa menciptakan perubahan besar dalam kancah ilmu pengetahuan. Tentunya, tugas ini menuntut; pertama, pembangunan sebuah landasan yang kuat dan; kedua, kebebasan penuh dalam lingkungan ilmu dan pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu Humaniora dan agama yang perlu ditelaah secara mendalam.

 
Keutamaan Sholat di Awal Waktu
Ulumul Quran
Sabtu, 25 Agustus 2007

Oleh: Haedar Yusuf

Pandangan Alquran dan Hadits,  serta Perjalanan Hidup Para Imam Maksum dan Ulama

Pendahuluan

Alhamdulillah, puja dan puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt dan sholawat serta salam kita haturkan kepada junjungan nabi besar islam Muhammad saww dan kepada keluarganya yang suci dan jauhkanlah rahmatmu ya Allah atas orang-orang yang memusuhi mereka.

Sholat adalah salah satu dari rukun-rukun islam yang sangat ditekankan kepada seluruh ummat islam untuk menjalankannya bahkan anjuran dari nabi besar Muhammad saw untuk tidak meninggalkannya, karena seluruh perbuatan baik dan buruk  tergantung pada yang satu ini. Jika sholat kita baik maka seluruh perbuatan kita juga akan baik, karena sholat yang kita lakukan setiap hari sebanyak lima waktu itu subuh, dzuhur, asar, magrib dan isya akan mencegah kita dari perbuatan jelek, namun sebaliknya jika kita mendirikan sholat dan masih juga melakukan hal yang tidak terpuji maka kita harus kembali pada diri kita masing-masing dan mengkoreksi kembali apakah sholat yang kita dirikan itu benar-benar sudah memenuhi syarat atau ketika kita mendirikannya, benak dan pikiran kita masih dikuasai atau diganggu oleh pikiran-pikiran selain Allah. Itu semua perlu juga kita perhatikan.

 
Vali Nasr dan Respon Terhadap Azyumardi Azra
Perspektif
Jumat, 03 Agustus 2007
Oleh: Irman Abdurrahman

Pada awalnya, saya berpikir asumsi-asumsi “liar” Vali Reza Nasr (saya katakan demikian setelah membaca beberapa esainya yang tampaknya mencerminkan ide dasar dari buku tersebut) hanya akan bergema di dinding-dinding Gedung Putih, atau di jurnal-jurnal para pemikir neokonservatif Amerika. Tapi ternyata saya salah, setidaknya ketika Diwan hendak menerbitkan bukunya, The Shi’a Revival: How Conflict within Islam Will Shape the Future, yang menjadi referensi favorit para pemikir dan jurnalis neokon. Dan kemudian, secara singkat, diulas Azyumardi Azra dalam kolom “resonansi” di Republika.

 
REKOMENDASI
Seminar
Rabu, 01 Agustus 2007

REKOMENDASI  

KONFERENSI KE-6  BADAN KERJASAMA PERHIMPUNAN PELAJAR INDONESIA

SE-TIMUR TENGAH DAN SEKITARNYA (BKPPI)

Qom, Republik Islam Iran, 15-20 Juli 2007

 

I. DASAR PEMIKIRAN    

Indonesia adalah negara yang luas wilayahnya, banyak penduduknya, dan kaya alamnya. Kuantitas-kuantitas besar ini merupakan kenyataan sejarah bangsa yang dari satu sisi amat efektif sebagai peluang pembangunan, pemberdayaan dan pengembangan, dan dari lain sisi sangat potensial sebagai tantangan yang menutup pintu-pintu peluang tersebut.

Sejarah mencatat bahwa lebih dari 300 tahun, bangsa Indonesia hidup di bawah penjajahan dan penghinaan. Selama itu pula, perlawanan dan usaha merebut kembali kehormatan dan hak menentukan hidup mandiri terus berlangsung. Sebagai negara kepulauan, perjuangan bangsa bertebaran di berbagai tempat. Betapa banyak pengorbanan yang dikerahkan. Betapa banyak darah kesatriaan yang ditumpahkan. Dan, betapa banyak nama yang gugur sebagai pahlawan perjuangan. Semua dipersembahkan untuk sebuah nama; nama Indonesia yang kelak menyatukan kepulauan, membatasi keluasan wilayah, dan mendefisisikan satu identitas bagi suku-suku yang banyak. Itulah asas Bhineka Tunggal ika.

 
DEKLARASI
Seminar
Rabu, 01 Agustus 2007
DEKLARASI
KONFERENSI KE-6  BADAN KERJASAMA PERHIMPUNAN PELAJAR INDONESIA
SE-TIMUR TENGAH DAN SEKITARNYA (BKPPI)

 
 
Kami BKPPI setimur tengah dan sekitarnya dengan ini menyatakan:

1. Bertekad meningkatkan peran dan fungsi BKPPI.
2. Bertekad mempererat ukhuwah islamiyah dan tali silaturahmi antar pelajar dan mahasiswa Indonesia di Timur Tengah dan sekitarnya melalui visi dan misi BKPPI.
3. Bertekad meningkatkan kemampuan intelektualitas dengan saling tukar pikiran, informasi dan pengalaman dalam bentuk aktifitas yang  berorientasi pada kemaslahatan bangsa dan negara.
4. Bertekad melaksanakan kegiatan kerjasama di bidang pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum dan hak asasi manusia.
5. Bertekad menjalin hubungan yang lebih erat dengan ikatan Alumni Timur Tengah dan sekitarnya dan instansi-instansi lainnya di tanah air.
6. Bertekad ikut aktif dalam mempelopori dan mengikuti kegiatan mahasiswa tingkat nasional dan internasional.
7.  Bertekad melaksanakan fungsi kontrol sosial secara konsekuen.
8.  Bertekad aktif memberikan sumbangan pemikiran dan hasil-hasil kajian dalam berbagai bidang.
9. Bertekad mentransfer ilmu-ilmu keislaman dan sains ke tanah air sebagai upaya pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia Indonesia.
10. Bertekad membantu pemerintah dan pihak-pihak lainnya dalam meningkatkan  dan mempererat jalinan kerjasama dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.
11.  Bertekad untuk memperluas jaringan kerjasama antara BK-PPI se-Timur Tengah dan sekitarnya dengan PPI lain se-dunia.
 
 
Dideklarasikan di Qom
Tanggal, 18 Juli 2007
               4 Rajab 1428
 
1. HPI Iran 2. PPMI Mesir 3. PPI Syiria 4. PPMI  Pakistan 5. HIPMI Jordania 6. HPMI Yaman 7. PPI Maroko 8. PPI India
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 Selanjutnya > Akhir >>

Hasil 55 - 74 dari 135
 
Advertisement