Tamu
Saat ini ada 11 pengunjung yang online
Anggota: 430
Berita: 176
WebLinks: 54
Pengunjung: 674267
|
|
Hukum Islam
|
|
Rabu, 30 Mei 2007 |
|
Oleh: Murtadha Mutahhari Kent Gubino, dalam bukunya Tiga Tahun di Iran, meyakini bahwa hijab yang sangat keras di zaman Dinasti Sasani masih tersisa ketika Islam masuk di kalangan orang-orang Iran. Ia juga berkeyakinan bahwa hijab yang ada di Iran Sasani bukan hanya penutup bagi wanita tetapi menyembunyikan dan mengasingkan wanita di dalam rumah. Di saat yang sama, para raja dan keluarganya memperlakukan wanita dengan semena-mena. Apabila mereka melihat wanita cantik di suatu rumah, maka mereka akan mengambil dan membawanya dengan paksa.
|
|
Perspektif
|
|
Minggu, 20 Mei 2007 |
|
Oleh: Herry Supryono Ahmadi Nejad pernah mengatakan kepada Amerika dan sekutunya kenapa kami harus percaya kepada anda sementara anda tidak pernah mempercayai kami. Pada saat yang sama Iran telah berkali-kali membuktikan kepada dunia bahwa ia layak dipercaya misalnya dengan keikutsertaannya dalam IAEA dan menandatangai program NPT yang digagas barat. Ia bahkan siap untuk diawasi setiap saat oleh badan ini yang kemudian justeru malah mengkhianati Iran dan selalu membuka celah diplomasinya dengan Eropa. Tapi sebaliknya Amerika sampai saat ini justeru tidak menunjukkan sedikitpun usaha memperbaiki kepercayaan dunia internasional.
|
|
Akhlak & Irfan
|
|
Minggu, 20 Mei 2007 |
|
Oleh: Abdurahman Arfan Sebagian kalangan beranggapan bahwa kedua modal yang dimilikinya itu sudah cukup sehingga ia tidak perlu berhubungan dengan orang lain dan menimba ilmu dari orang lain. Sebagian lagi selalu ingin membandingkan dan membenturkan pandangannya dengan pandangan orang lain. Sudah pasti, kelompok kedualah yang akan menemukan kebenaran. Bukankah Imam Ali as pernah bersabda: “Benturkan sebagian pandangan yang kalian miliki dengan pandangan yang lain; maka akan muncul kebenaran”. Maksud dari hadis ini adalah bahwa perkembangan sebuah ilmu dapat diperoleh melalui tanya-jawab, kritik, sanggahan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, orang yang memperoleh ilmu melalui penelitian dan menganalisa sebuah pandangan akan memiliki nilai tambah dari sisi keilmuannya.
|
|
Bedah / Resensi Buku
|
|
Kamis, 10 Mei 2007 |
|
Oleh: M Anis Maulachela Sayang sekali, tanpa disadari beliau telah terjebak dalam propaganda yang dihembuskan dan dimotori Amerika, yang didukung oleh kelompok takfiriyah (yaitu segelintir ekstremis Muslim yang menganggap kafir Muslim lainnya yang tak sepaham dengan mereka), dan sisa-sisa pengikut Saddam atau partai Ba’ats. Rekaman video juga membuktikan bahwa tentara AS telah melakukan aksi-aksi teror dengan mengenakan pakaian milisi Irak. Dan sebagaimana yang diberitakan, sekitar 70 persen dari korban tewas akibat teror yang dilakukan selama ini adalah justru orang-orang Syi’ah di Samarra, Kazhimain, Najaf, Karbala, dan kantung-kantung Syi’ah lainnya melalui aksi-aksi bom mobil dan bom bunuh diri yang mengatasnamakan jihad. Jadi, sebenarnya tak ada konflik sektarian di Irak, melainkan kaum Syiah dan Sunni telah sama-sama menjadi korban konspirasi musuh.
|
|
Perspektif
|
|
Kamis, 10 Mei 2007 |
|
Oleh: Irman Abdurrahman Zaman boleh berubah, aktor pelaku sejarah pun dapat berganti wajah, tetapi karakter penjajah tampaknya tak pernah bisa enyah. Belum genap dua dasawarsa, warga dunia menyaksikan akhir dari kepedihan rakyat Jerman akibat Tembok Berlin yang didirikan rezim komunis Jerman Timur. Belum juga hilang dari ingatan ketika mantan presiden AS Bill Clinton menyebut tembok yang memisahkan dua Korea sebagai 'tempat paling menyeramkan di dunia'. Tentu saja masih tampak jelas betapa tembok barikade yang dibangun Israel di sepanjang Tepi Barat perlahan tapi pasti merampas, bukan hanya inci demi inci tanah Palestina, tetapi juga kemerdekaan dan hak hidup bangsa Palestina. Kini komunitas internasional dipaksa menyaksikan sebuah tembok pemisah baru, yang ditegakkan militer AS di Baghdad.
|
|
Perspektif
|
|
Senin, 07 Mei 2007 |
|
Oleh: Saleh Lapadi Hal ini jugalah yang membuat Wahabi/Salafi tidak mampu mengembangkan pengaruhnya secara maksimal meskipun ditopang dengan biaya besar dan telah dikerahkan seluruh daya dan upaya untuk mengembangkan pengaruhnya di kalangan kaum muslimin. Kekakuan dalam beragama yang mereka terapkan tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh Khawarij karena mereka membuat batasan yang kaku dan ekstrim dalam mendefinisikan kekufuran dan keimanan, dan ini tidak dapat diterima oleh banyak kalangan.
|
|
Akhlak & Irfan
|
|
Senin, 07 Mei 2007 |
|
Oleh: Syaikh Shaduq
1. Dari Ayahandaku, semoga Allah swt memberi rahmat kepadanya, ia mengatakan telah meriwayatkan kepadaku Ali Bin Husain Asyad Abadi dari Jabir bin Ju’fi, ia mengatakan telah berkata Abu Ja’far,: “Apakah cukup yang menjadi syiah dengan hanya mengatakan cinta kepada Ahlulbait? Imam menjawab, “Demi Allah , tiada lain Syiah kami adalah mereka yang bertakwa kepada Allah dan mentaati-Nya, Mereka hanya dikenal dengan ketawadhuan, kekhusyu’an, menunaikan amanat, dan banyak berdzikir kepada Allah, shaum, shalat, berbuat baik kepada orang tua, baik kepada tetangga yang miskin, yang fakir, yang punya hutang, anak-anak yatim, jujur, membaca Quran, menjaga lisan kecuali dengan perkataan yang baik, Orang-orang syiah adalah amanah bagi para keluarga mereka”. Jabir kemudian mengatakan,:“Wahai putra Rasulullah saw, kami mengenal mereka tetapi tidak memiliki sifat-sifat seperti ini”. ikh Shâduq (305-381)
|
|
Perspektif
|
|
Senin, 23 April 2007 |
|
Oleh: Muhsin Labib Di tengah polarisasi dua kelompok dan kecenderungan itu, ada sebuah kelompok kritis yang menggabungkan rasionalitas dan teks. Mereka bukan jadi-jadian. Kelompok ini memiliki akar sejarah yang berpendar dalam filsafat, Kelompok ini muncul sebagai respon atas keberhasilan Imam Khomaini menumbangkan rezim monarki 2000 tahun Pahlevi dan makin kuat setelah kemunculan Mahmoud Ahmadinejad sebagai David di tengah angkara Goliath dunia tak pelak telah melambungkan popularitas mazhab Syiah dan diperlakukan sebagai jalan tengah yang membelah jalan Islam liberal (Islib) dan Islam literal (Islit). Syiah mulai dilirik sebagai Islam alternatif (Islat).
|
|
Perspektif
|
|
Minggu, 22 April 2007 |
|
Apapun akar dari penstereotipan kaum perempuan, namun fenomena ini telah menjadi isu dan topik perdebatan beberapa dekade lalu. Pada saat itu, di Barat muncul gerakan-gerakan feminisme yang mengkritik sistem sosial masyarakat yang menjadikan perempuan sebagai warga kelas dua. Kata feminisme yang diartikan sebagai gerakan pembelaan terhadap hak-hak perempuan, untuk pertama kalinya digunakan pada dekade 1970-an. Namun, perjuangan kaum perempuan untuk meraih hak-hak mereka yang selama ini terampas memiliki sejarah yang lebih panjang dari itu.
|
|
Perspektif
|
|
Minggu, 22 April 2007 |
|
Terlepas dari masalah tadi, AS sendiri juga telah memperluas jangkauan konfrontasinya dengan dunia Islam dengan menggulirkan prakarsa Timur Tengah Raya dan jargon pemberantasan terorisme. Apalagi AS berniat menindaklajuti politiknya itu secara lebih ekstrim dan agresif. Perlu diingat bahwa agresi ke Irak dan Afghanistan merupakan bagian dari pencegahan kebangkitan Islam. Adapun terkait negara-negara tetangga Iran dan di luar kawasan Timur Tengah, AS dan sekutunya juga tampak lebih cerdik dan terperinci dalam meredam gelombang kebangkitan Islam. Caranya adalah dengan menekan pihak pemerintah untuk lebih mempersempit ruang gerak organisasi islami negara negara yang bersangkutan.
|
| | << Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 Selanjutnya > Akhir >>
| | Hasil 91 - 110 dari 135 |
|
|
Berita
Cache Directory Unwriteable
|