Tamu
Saat ini ada 14 pengunjung yang online
Anggota: 430
Berita: 176
WebLinks: 54
Pengunjung: 674247
|
|
Perspektif
|
|
Minggu, 22 April 2007 |
|
Sebagian pihak memiliki pandangan yang cukup sederhana tentang globalisasi yaitu penyamaan lahiriah global. Artinya, globalisasi cukup dengan menyamakan tampilan lahiriah saja tanpa menyentuh sisi lainnya. Namun terbukti bahwa ide tersebut tidak berhasil baik pada masa lalu, kini, maupun era mendatang. Adapun di antara para pendukung makna penyatuan dalam globalisasi terdapat kelompok yang menyatakan bahwa globalisasi dapat direalisasikan jika didukung proses dialog antarperadaban.
|
|
Khutbah
|
|
Minggu, 08 April 2007 |
|
Oleh: Imam Ali Khamenei Tujuan Rasulullah saw. ialah menyampaikan pesan-pesan kebebasan, kesadaran dan kebahagian manusia ke segenap hati dan jiwa. Tujuan besar ini tidak akan tercapai kecuali dengan menciptakan sebuah sistem unggul dan model penuntun. Adapun sebasar apa umat Islam dapat melanjutkan pembangunan ini, dan sejuah apa generasi-genarasi setelahnya sanggup mendekatkan realitas hidup mereka dengan sistem dan model nabawi tersebut, ini amat bergantung pada kesungguhan itikad mereka sendiri. Rasulullah saw. telah membangun model dan mengetengahkannya ke hadapan semua bangsa dan sejarah.
|
|
Sejarah & Tokoh
|
|
Minggu, 08 April 2007 |
|
Oleh: Saleh Lapadi Ulama yang menjadi motor penggerak persatuan Islam dengan kedua maknanya, menyikapi dua fenomena ini secara berbeda. Ada memberikan penekanan pada Taqrib dan lemah dalam sikap dan tindakan sekaitan dengan Wahdah. Sebaliknya, ada juga yang lebih senang mengarahkan persatuan Islam hanya pada konotasi Wahdahnya saja, sementara sisi Taqribnya kurang diperhatikan. Sikap seperti ini sering membuat sebuah usaha mewujudkan persatuan Islam menjadi timpang. Persatuan Islam harus diwujudkan dengan mengikutsertakan kedua unsur ini.
|
|
Akhlak & Irfan
|
|
Minggu, 08 April 2007 |
Oleh: Muhsin Labib [REVISI] Sufi yang mengalami wahdahul syuhud tetapi menolak konsep wahdahul wujud, berpegang pada konsep wahdahul ma’abud adalah kepercayaan kepada keesaan Tuhan tanpa menafikan kewujudan makhluk ciptaan Tuhan. Sufi golongan ini mengakui bahwa wujud makhluk memang tidak berhakikat tetapi oleh karena makhluk diciptakan Tuhan maka makhluk mempunyai kewujudan yang teguh, stabil, tetap, kekal mempunyai tindakbalas dan sebagainya, bukan seperti wujud khayali yang dibuat oleh ahli silap mata. Jadi, wahdahul syuhud yang membawa sebahagian sufi kepada wahdahul wujud itu juga yang menetapkan sufi pada wahdahul ma’abud.
|
|
Perspektif
|
|
Sabtu, 31 Maret 2007 |
|
Oleh: Ammar Fauzi Heryadi Walaupun jangka waktu 60 hari belum menentukan apa yang akan terjadi setelah itu, namun bagi Amerika, resolusi itu dan resolusi-resolusi yang lain merupakan poin-poin untuk menggenapkan force ke dalam bentuk penyerangan militer terhadap Iran. Dan bila ini terjadi, maka sejarah kontemporer bangsa kita akan mencatat jejak-jejak dukungan kita di belakangan bayangan amunisi Amerika. Mendukung resolusi lebih membuka tantangan serius bagi pemerintah dan bangsa Indonesia dalam skala dalam dan luar negeri.
|
|
Perspektif
|
|
Sabtu, 31 Maret 2007 |
|
Oleh: Muhsin Labib Dukungan ‘tak berarti’ Indonesia atas resolusi DK tersebut makin menunjukkan bahwa kebaradaan RI sebagai anggota tidak tetap DK PBB hanyalah asesoris dan simbolik karena sikap tersebut telah mengisolir Indonesia dari opini umum umat Islam di seluruh dunia. Indonesia bukan hanya anggota tidak tetap DK PBB karena tidak punya hak veto, tapi menjadi anggota yang ‘sangat tidak tetap’ karena sikapnya yang plin-plan. Tendensi ‘ingin diterima’ oleh semua pihak telah menjadikannya objek cemooh para penentang kezaliman dan anti imperilaisme di seluruh dunia.
|
|
Teologi & Filsafat
|
|
Selasa, 27 Maret 2007 |
|
Oleh: NanoWarno Hal ini mirip dengan pandangan strukturalis dimana manusia terjebak dalam lingkaran budaya yang dijalinnya; ia masuk dalam struktur, ia memiliki peran dan meskipun ia mampu membuat struktur tapi ia akan kembali kepada struktur yang ada. Juga senada dengan faktisitasnya Heidegar yang menyebutkan bahwa manusia terlempar ke dunia tanpa ia mampu berunding terlebih dahulu. Namun menurut Levi Strauss, ketidaksadaran adalah bagian dari diri manusi sehingga hubungan manusia berada dalam sistem yang tidak disadari. Dan ini berbeda dengan pendapat Heidegger yang mengharuskan manusia bertanggung jawab secara pribadi atas hidupnya. Manusia bukan manusia massal yang diombang-ambingkan oleh keadaan.
|
|
Sejarah & Tokoh
|
|
Minggu, 25 Maret 2007 |
|
Oleh: Usman Al-hadi Itulah mengapa disebutkan bahwa Imam Husein as dengan revolusinya berhasil menjaga kemurnian agama Islam. Sebuah ungkapan yang menarik “Islam muncul dengan Nabi Muhammad saw dan kekal dengan Imam Husein as”. Imam Husein as adalah lambang perjuangan menentang penguasa yang lalim. Penguasa yang tidak hanya hidup di zaman itu, Yazid hanya sebuah simbol. Penguasa lalim ada dan hidup di setiap masa. Semboyan “Pantang Hina” yang diucapkan oleh Imam Husein as tetap abadi dan tidak pudar oleh ruang dan waktu. Di sini perjuangan Imam Husein as menang. Kemenangan karena dilandasi oleh keimanan.
|
|
Teologi & Filsafat
|
|
Jumat, 16 Maret 2007 |
|
Oleh: Musa Musawir Pada abad pertengahan manusia sepenuhnya berada dalam posisi pasif dan merasa tidak memiliki daya apapun tanpa ada kekuatan gaib. Bahkan untuk menyelamat diri dari kejahatan pun tidak ada jalan lain untuk mereka kecuali mengandalkan peninggalan-peninggalan suci. Rasionalisasi secara logis dan konseptual terhadap keyakinan mereka dan segala sesuatu yang terjadi menyangkut urusan dunia mereka anggap sebagai pembangkangan terhadap ketundukan kepada kekuatan-kekuatan gaib yang menguasai alam.
|
|
Perspektif
|
|
Jumat, 16 Maret 2007 |
|
Oleh: Muhsin Labib Namun Wahabisme tidak selalu bernasib baik. Dalam perkembangannya radikalisme yang berkembang di lingkungan kelompok ini akhirnya memancing keretakan dan konflik horizontal diantara mereka sendiri Fenomena radikalisme Juhaiman yang menguasai Masjidil Haram beberapa tahun silam, Ben Laden dengan Al-Qaedah serta Talibanisme membuat melahirkan perpecahan dalam simpul-simpul Wahabisme. Di Arab Saudi, tempat kelahirannya, wahabisme radikal mulai mendapatkan tekanan dari aparat Kerajaan. Islam Sunni yang semula dianaktirikan, mulai mendapatkan kelonggaran. Muslim Syiah, yang menjadi mayoritas di wilayah Timur, mulai diperlakukan dengan baik.
|
| | << Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 Selanjutnya > Akhir >>
| | Hasil 101 - 120 dari 135 |
|
|
Berita
Cache Directory Unwriteable
|