Tamu
Saat ini ada 9 pengunjung yang online
Anggota: 430
Berita: 176
WebLinks: 54
Pengunjung: 674211
|
|
Perspektif
|
|
Senin, 05 Pebruari 2007 |
|
Oleh: Saleh Lapadi Aljazeera telah berjudi dengan mempertaruhkan nyawa ratusan pejuang muslim Somalia dengan isu rendahan balas dendam Syi'ah atas Sadam sebagai wakil Sunni. Bila saja Aljazeera secara proporsional memberitakan bagaimana tentara Ethiopia dan pasukan pemerintah Somalia, yang di kontrol oleh Amerika membunuh dan membantai kaum muslimin, negara-negara Arab dan Islam akan melakukan protes dan Amerika tidak bakal semudah itu menguasai Somalia. Ketika kota terakhir yang dikuasai oleh pejuang-pejuang muslim digempur oleh pasukan Ethiopia dan pemerintah, Aljazeera asik memprovokasi dunia Islam untuk memusuhi Syi'ah lewat tokoh bengis Sadam. Akhirnya, dengan tanpa korban jiwa seorang pun, Amerika masuk dan menguasai Somalia.
|
|
Perspektif
|
|
Jumat, 02 Pebruari 2007 |
|
Oleh: Rasul Ja'fariyan Pada masa sekarang, dengan segala eksistensinya, kaum Syiah pengikut Ayatullah Syistani telah terdidik untuk turut menjaga hak-hak segenap kelompok-kelompok di Irak. Hingga saat ini, mereka tidak bersedia untuk menulis -walau hanya separuh baris- sebuah fatwa anti Sunni. Namun anehnya, pemimpin dan tokoh yang dianggap paling netral di dalam tubuh Ahlusunah seperti Yusuf Qardhawi –pasca peristiwa Samara- tiba-tiba berceramah menentang Syiah, dan pada khutbah shalat Jumat -pada Jumat kedua pasca pelaksanaan eksekusi Saddam Husein- ia mati-matian telah membela Saddam.
|
|
Perspektif
|
|
Jumat, 02 Pebruari 2007 |
|
Monday, January 29 2007 Oleh: Saleh Lapadi Statemen Ayatullah Sayyid Ali Sistani tidak pernah digubris. Ayatullah Sayyid Ali Sistani mengutuk pembunuhan masyarakat sipil di Irak. Ayatullah Sistani, selaku tokoh Syi’ah Irak tidak pernah melemparkan kesalahan dan pemicu ini ke pundak Ahli Sunah Irak. Ayatullah Sistani dalam setiap kesempatan melemparkan penyebab ini kepada Amerika dan Inggris, sisa-sisa anggota Ba’ts dan kelompok takfir. Hal sama yang ditekankan oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamene’i dalam ceramah-ceramahnya.
|
|
Perspektif
|
|
Jumat, 02 Pebruari 2007 |
|
Saturday, January 27 2007 Oleh: Irman Abdurrahman Dapat ditegaskan bahwa tidak pernah ada “fatwa perang” yang keluar dari para ulama Syiah dan Sunni. Satu-satunya deklarasi perang justru keluar dari mulut seorang Yordan, Abu Musab al-Zarqawi, pentolan al-Qaidah di Irak, pada September 2005. Tentu saja, deklarasi perang ini ditujukan al-Zarqawi terhadap Syiah. Asosiasi Ulama Muslim (Hay`at Ulamâ`u al-Muslimûn), organisasi ulama Sunni Irak, pun langsung mengecam deklarasi al-Zarqawi tersebut.
|
|
Teologi & Filsafat
|
|
Jumat, 02 Pebruari 2007 |
|
Sunday, January 14 2007 Oleh: Muchtar Luthfi Pada masa kenabian Musa (as) agama taslim ada pada agama Yahudi, pada zaman kenabian nabi Isa (as) agama taslim ada pada agama Nasrani sehingga semua pengikut Yahudi harus mengikutinya. Sedang pada masa kenabian Muhammad saww, agama taslim terdapat pada agama Islam Muhammadi dan umat Yahudi-Nasrani pun harus mengikutinya. Dengan kata lain, setiap orang dari agama apa pun “harus menyesuaikan diri” terhadap agama nabi setiap zamannya. Orang-orang yang hidup pasca pengutusan Muhammad wajib untuk mengikuti agama Nabi Muhammad karena dia adalah nabi terakhir dan ajarannya merupakan penyempurna dari seluruh ajaran para nabi pendahulunya.
|
|
Teologi & Filsafat
|
|
Jumat, 02 Pebruari 2007 |
|
Saturday, January 06 2007 Oleh: Otong Sulaeman Namun demikian, tidak berarti bahwa Islam melarang umatnya untuk bersikap toleran terhadap umat beragama lain. Dalam kehidupan sosial, justru ajaran Islam mengharuskan umatnya untuk bersikap lemah lembut, penuh kasih sayang, adil, dan tidak zalim kepada sesama umat manusia, apapun agama, ras, dan bangsanya. Toleransi tidak bisa diartikan menerima semua agama dan menganggap semuanya benar. Seorang muslim yang baik adalah bersifat eksklusif terhadap agamanya sendiri, namun di saat yang sama dia pun toleran terhadap pemeluk agama lain.
|
|
Akhlak & Irfan
|
|
Jumat, 02 Pebruari 2007 |
|
Wednesday, January 24 2007 Oleh: Emi Nur Hayati Ma'sum Said Ikatan perkawinan merupakan sebuah ikatan suci yang terjadi karena adanya kebutuhan dan daya tarik antara laki-laki dan perempuan secara timbal balik. Namun, kehidupan harmonis yang bisa membawa pasangan suami istri menuju ke puncak materi dan spiritual, semata-mata karena adanya unsur "kasih sayang". Mungkinkah ada rumah tangga yang bertahan dan kontinu dengan tanpa adanya kasih sayang kendati sesaat pun? Mungkinkah masing-masing suami istri mampu bertahan menghadapi pasangannya tanpa adanya kasih sayang secara timbal balik dan hubungan kemanusiaan? Sementara Allah mendasari kehidupan rumah tangga dengan fondasi "cinta dan kasih sayang".
|
|
Akhlak & Irfan
|
|
Jumat, 02 Pebruari 2007 |
|
Saturday, September 23 2006 Oleh: Emi Nur Hayati Ma’sum Sa’id Demikian juga dengan puasa Allah mewajibkan kepada hamba-hamba-Nya agar mereka menjadi orang-orang yang bertakwa. “Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan juga kepada orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertakwa”.[5] Dalam khotbahnya Imam Ali juga disebutkan bahwa Allah swt mewajibkan kepada hamba-hamba-Nya untuk salat, zakat dan puasa dengan tujuan agar anggota badan manusia menjadi tenang, pandangannya menjadi tunduk, jiwanya menjadi lembut, dan rendah hati serta hilanglah kesombongan darinya. Dengan sujud manusia meletakkan bagian wajahnya yang paling bagus ke tanah.
|
|
Hukum Islam
|
|
Jumat, 02 Pebruari 2007 |
|
Sunday, August 27 2006 Oleh: Euis Daryati Agama tidak pernah melarang manusia untuk mengikuti mode. Karena mode dan seni adalah salah satu pengejawantaan dari budaya. Sedang budaya adalah bagian primer dari kehidupan manusia, dimana tanpa budaya manusia tidak akan dapat menuju kesempurnaan yang diidamkan oleh hati sanubari setiap manusia berakal sehat. Akan tetapi, Islam adalah agama yang hendak membebaskan manusia dari berbagai bentuk perbudakan dan keterkekangan dari segala macam belenggu, termasuk diperbudak dan dikekang oleh mode. Mode tidak lebih hanya sekedar sarana untuk mencapai kesempurnaan, bukan tujuan utama.
|
|
Hukum Islam
|
|
Jumat, 02 Pebruari 2007 |
|
Monday, March 20 2006 Oleh: Saleh Lapadi Al-Qathifi, salah seorang guru hadis al-Hurr al-‘Amili penulis buku al-Wasail as-Syiah sebuah ensiklopedia hadis fikih Syiah, berkata: “Ketahuilah bahwa Usul Fiqih tidak berdiri sendiri namun terbentuk dari beberapa disiplin ilmu dan terdiri dari beragam masalah yang sebagiannya benar sementara lainnya tidak benar dan batil. Usul Fiqih disusun pertama kali oleh Ahli Sunah disebabkan adanya kekurangan akan hadis-hadis yang terkait dengan masalah hukum fiqih.”[1]
|
| | << Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 Selanjutnya > Akhir >>
| | Hasil 121 - 135 dari 135 |
|
|
Berita
Cache Directory Unwriteable
|