|
Kamis, 10 Mei 2007 |
|
Oleh: M Anis Maulachela Sayang sekali, tanpa disadari beliau telah terjebak dalam propaganda yang dihembuskan dan dimotori Amerika, yang didukung oleh kelompok takfiriyah (yaitu segelintir ekstremis Muslim yang menganggap kafir Muslim lainnya yang tak sepaham dengan mereka), dan sisa-sisa pengikut Saddam atau partai Ba’ats. Rekaman video juga membuktikan bahwa tentara AS telah melakukan aksi-aksi teror dengan mengenakan pakaian milisi Irak. Dan sebagaimana yang diberitakan, sekitar 70 persen dari korban tewas akibat teror yang dilakukan selama ini adalah justru orang-orang Syi’ah di Samarra, Kazhimain, Najaf, Karbala, dan kantung-kantung Syi’ah lainnya melalui aksi-aksi bom mobil dan bom bunuh diri yang mengatasnamakan jihad. Jadi, sebenarnya tak ada konflik sektarian di Irak, melainkan kaum Syiah dan Sunni telah sama-sama menjadi korban konspirasi musuh.
|
|
Kamis, 01 Pebruari 2007 |
|
Oleh: Yusuf Bafagih, Ammar Fauzi Heryadi Saturday, June 10 2006 Pengembangan awal atas studi-studi filsafat Islam di negeri kita melalui bahasa asing (baca: asing dari bahasa filsafat Islam, juga asing dari bahasa Indonesia itu sendiri) sebagaimana dikurikulumkan di sebagian kuliah filsafat Islam di tanah air, tidak hanya telah menyia-nyiakan potensi bahasa Indonesia, tetapi juga tidak membantu pembudayaan filsafat Islam di bumi ini. Namun begitu, tidak semestinya mengimbangi kedangkalan ini dengan cara mengindonesiakan filsafat Islam sampai ada kalanya terkesan pemaksaan yang berlebihan, sebagaimana yang tampak pada “Buku Daras Filafat Islam”. Dua fenomena ini seringkali dituturkan sebagai dua langkah ‘ifrath wa tafrith’.
|
|