|
Senin, 18 Juni 2007 |
|
Oleh: Saleh Lapadi Melihat porsi pembahasan tanah Fadak dalam khotbah Sayyidah Fathimah as bila dibandingkan dengan keseluruhan khotbah yang cukup panjang itu, dapat diamati bahwa tujuan Sayyidah Fathimah as lebih mulia dari sekedar yang dibayangkan oleh sebagian orang. Mereka menganggap Sayyidah Fathimah as menuntut tanah Fadak karena tidak beliau berbeda dengan orang lain yang juga begitu menitikberatkan masalah materi. Bila tujuan Sayyidah Zahra as adalah sekadar memenuhi kebutuhan materi sekalipun dari jalan halal karena itu adalah miliknya, maka masalah Fadak akan menyita sebagian besar dari khotbah itu.
|
|
Jumat, 02 Pebruari 2007 |
Friday, September 08 2006 Oleh: M Turkan
Seorang mukmin sejati yang memiliki keyakinan tentang Mahdiisme seharusnya terus beraktifitas sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan oleh al-Quran dan Hadist dalam proses menyambut kehadiran Sang Juru Selamat. Hendaklah ia mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Persiapan awal untuk proses penyambutan Imam Mahdi adalah mengikrarkan keimannya kepada Imam Mahdi dan mengaplikasikannya dalam segala bentuk aktivitas. Sebagai contoh adalah ucapan Imam Khomeini qs tentang motif revolusi Islam Iran.
|
|
Jumat, 02 Pebruari 2007 |
Friday, July 07 2006 Oleh: Muchtar Luthfi
Tetapi anehnya, para pengikut Ibnu Taimiyah yang juga ikut-ikutan mengatasnamakan dirinya “penghidup ajaran Salaf” (Salafy/Wahaby), masih terus bersikeras untuk diakui sebagai pengikut Ahlussunah, padahal di sisi lain, mereka masih terus menjunjung tinggi ajaran dan doktrin Ibnu Taimiyah yang jelas-jelas telah keluar dari kesepakatan (konsensus) ulama Ahlussunah beserta "ajaran resmi" Ahlussunah wal Jamaah. Mereka berpikir, jalan pintas yang paling aman dan mudah untuk mendapat pengakuan itu adalah dengan memusuhi Syiah. Mengangkat isu-isu ikhtilaf Sunnah-Syiah adalah sarana paling efektif untuk menempatkan kaum Salafy supaya diterima dalam lingkaran Ahlussunnah.
|
|