Tamu
Saat ini ada 10 pengunjung yang online
Anggota: 430
Berita: 176
WebLinks: 54
Pengunjung: 674318
|
Akhlak & Irfan
|
Kamis, 07 Januari 2010 |
|
Kalaulah lidah kita bisa menyembunyikan pengalaman dan kesadaran baik-buruk kita dengan kebohongan kepada orang lain, mata hati kita masih lebih tajam dari sekedar menutup-nutupinya. Dalam ukuran orang normal, kezaliman dengan segala bentuknya akan sangat mengganggu kedamaian jiwa pelakunya meski ia tampil kalem dan dingin. Kezaliman itu pula yang dapat menggoyang ketenangan jiwa kita yang melihatnya sampai kadang mengumpat dari belakang. Ada semacam kecamuk dan keresahan yang bahkan bisa terbaca di raut wajah, denyutan yang terasa di urat nadi, dan deg-degan yang teraba di dada sebagai perlawanan dari mata hati.
|
|
Minggu, 18 Oktober 2009 |
Oleh Yulian Rama Zakaria, seorang pemuda Kufah beragama Kristen memutuskan untuk masuk Islam karena ia melihat akhlak orang Islam dan kesempurnaan bahasa Al-Quran. Ia pergi ke Mekkah untk melaksanakan haji, dan ketika pulang ia singgah untuk menemui Imam Ja’far Ash-Shadiq. “Wahai Putera Rasulullah, ayah, ibuku dan keluargaku yang lain masih beragama Kristen. Bagaimana saya harus bersikap dengan mereka? Ibu saya buta, sudah tua, dan perlu perawatan. Apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya memutuskan hubungan dengannya.”
|
|
Selasa, 15 Juli 2008 |
|
Oleh: Prof. Abdul Hadi. W. M. Terus terang, saya merasa kikuk ketika perama kali diminta berbicara dalam majelis ini dengan topik yang tertera dalam surat panitia kepada saya. Soalnya, saya telah lama tidak membaca buku-buku atau karangan-karangan Ayatullah Khomeini berkenaan dengan `irfan atau tasawuf. Tetapi setelah saya membaca lagi sebuah edisi Indonesia buku Syarh al-Arba`in Haditsan suntingan Muza Kashim, yang diterjemahkan menjadi 40 Hadis: Telaah Hadis-hadis Mistis dan Akhlak (Bandung: Mizan, 2004) saya lantas memperoleh keberanian untuk menyajikan pembahasan dalam forum ini.
|
|
Minggu, 20 Mei 2007 |
|
Oleh: Abdurahman Arfan Sebagian kalangan beranggapan bahwa kedua modal yang dimilikinya itu sudah cukup sehingga ia tidak perlu berhubungan dengan orang lain dan menimba ilmu dari orang lain. Sebagian lagi selalu ingin membandingkan dan membenturkan pandangannya dengan pandangan orang lain. Sudah pasti, kelompok kedualah yang akan menemukan kebenaran. Bukankah Imam Ali as pernah bersabda: “Benturkan sebagian pandangan yang kalian miliki dengan pandangan yang lain; maka akan muncul kebenaran”. Maksud dari hadis ini adalah bahwa perkembangan sebuah ilmu dapat diperoleh melalui tanya-jawab, kritik, sanggahan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, orang yang memperoleh ilmu melalui penelitian dan menganalisa sebuah pandangan akan memiliki nilai tambah dari sisi keilmuannya.
|
|
Senin, 07 Mei 2007 |
|
Oleh: Syaikh Shaduq
1. Dari Ayahandaku, semoga Allah swt memberi rahmat kepadanya, ia mengatakan telah meriwayatkan kepadaku Ali Bin Husain Asyad Abadi dari Jabir bin Ju’fi, ia mengatakan telah berkata Abu Ja’far,: “Apakah cukup yang menjadi syiah dengan hanya mengatakan cinta kepada Ahlulbait? Imam menjawab, “Demi Allah , tiada lain Syiah kami adalah mereka yang bertakwa kepada Allah dan mentaati-Nya, Mereka hanya dikenal dengan ketawadhuan, kekhusyu’an, menunaikan amanat, dan banyak berdzikir kepada Allah, shaum, shalat, berbuat baik kepada orang tua, baik kepada tetangga yang miskin, yang fakir, yang punya hutang, anak-anak yatim, jujur, membaca Quran, menjaga lisan kecuali dengan perkataan yang baik, Orang-orang syiah adalah amanah bagi para keluarga mereka”. Jabir kemudian mengatakan,:“Wahai putra Rasulullah saw, kami mengenal mereka tetapi tidak memiliki sifat-sifat seperti ini”. ikh Shâduq (305-381)
|
|
Minggu, 08 April 2007 |
Oleh: Muhsin Labib [REVISI] Sufi yang mengalami wahdahul syuhud tetapi menolak konsep wahdahul wujud, berpegang pada konsep wahdahul ma’abud adalah kepercayaan kepada keesaan Tuhan tanpa menafikan kewujudan makhluk ciptaan Tuhan. Sufi golongan ini mengakui bahwa wujud makhluk memang tidak berhakikat tetapi oleh karena makhluk diciptakan Tuhan maka makhluk mempunyai kewujudan yang teguh, stabil, tetap, kekal mempunyai tindakbalas dan sebagainya, bukan seperti wujud khayali yang dibuat oleh ahli silap mata. Jadi, wahdahul syuhud yang membawa sebahagian sufi kepada wahdahul wujud itu juga yang menetapkan sufi pada wahdahul ma’abud.
|
|
Jumat, 02 Pebruari 2007 |
|
Wednesday, January 24 2007 Oleh: Emi Nur Hayati Ma'sum Said Ikatan perkawinan merupakan sebuah ikatan suci yang terjadi karena adanya kebutuhan dan daya tarik antara laki-laki dan perempuan secara timbal balik. Namun, kehidupan harmonis yang bisa membawa pasangan suami istri menuju ke puncak materi dan spiritual, semata-mata karena adanya unsur "kasih sayang". Mungkinkah ada rumah tangga yang bertahan dan kontinu dengan tanpa adanya kasih sayang kendati sesaat pun? Mungkinkah masing-masing suami istri mampu bertahan menghadapi pasangannya tanpa adanya kasih sayang secara timbal balik dan hubungan kemanusiaan? Sementara Allah mendasari kehidupan rumah tangga dengan fondasi "cinta dan kasih sayang".
|
|
Jumat, 02 Pebruari 2007 |
|
Saturday, September 23 2006 Oleh: Emi Nur Hayati Ma’sum Sa’id Demikian juga dengan puasa Allah mewajibkan kepada hamba-hamba-Nya agar mereka menjadi orang-orang yang bertakwa. “Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan juga kepada orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertakwa”.[5] Dalam khotbahnya Imam Ali juga disebutkan bahwa Allah swt mewajibkan kepada hamba-hamba-Nya untuk salat, zakat dan puasa dengan tujuan agar anggota badan manusia menjadi tenang, pandangannya menjadi tunduk, jiwanya menjadi lembut, dan rendah hati serta hilanglah kesombongan darinya. Dengan sujud manusia meletakkan bagian wajahnya yang paling bagus ke tanah.
|
|
|
|
Berita
Cache Directory Unwriteable
|