Tamu
Saat ini ada 10 pengunjung yang online
Anggota: 430
Berita: 176
WebLinks: 54
Pengunjung: 674224
|
Teologi & Filsafat
|
Minggu, 18 Oktober 2009 |
Oleh Ibnu Husein al Hadi Sesuai dengan fitrahnya yang selalu ingin mendapatkan yang terbaik untuk dirinya dan selalu ingin bersama kebenaran kapanpun dan dimanapun ia berada, manusia dalam mengarungi kehidupannya selalu berfikir dan merenungi fenomena-fenomena yang terjadi di planet bumi ini. Proses tersebut menumbuhkan benih-benih pemikiran yang dapat membuahkan sesuatu yang bernama ilmu. Tetapi yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, apakah ilmu itu sebenarnya? Lebih dalamnya lagi, apakah hakikat ilmu itu sebenarnya? Kemudian bagaimanakah cara untuk mendapatkan ilmu tersebut? dan apa konsekuensi yang muncul setelah mendapatkan ilmu tersebut? Apa yang akan dicapai manusia dengan ilmu yang telah diperolehnya? dan pertanyaan terakhir adalah, buah ilmu yang sebenarnya itu apa? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang selalu dicari jawabannya oleh setiap manusia.
|
|
Selasa, 15 September 2009 |
|
Oleh: Najaf Lek Zai Seringkali kajian mengenai masalah pemerintahan selalu diawali dengan pembahasan tentang prinsip keurgensian sebuah pemerintahan, karena itu maka kajian inipun diawali dengan pembahasan urgensitas sebuah pemerintahan yang religius. Orang-orang yang menyebut hal itu sebagai “anarchist”, sepertinya mereka menafikan seorang marja kekuasaan dan komando. Kajian tentang masalah pemerintahan terkadang pula berputar di sekitar pembahasan yang berkenaan dengan bentuk pemerintahan. Dan tentunya setelah menerima keharusan adanya pemerintahan, pertanyaannya kemudian adalah apakah bentuk pemerintahan tersebut adalah pemerintahan yang religius atau non religius? Kajian kita kali inipun akan berputar di sekitar permasalahan tersebut.
|
|
Minggu, 16 Agustus 2009 |
Tanya: Apakah konsep beragama merupakan hak individual manusia ataukah merupakan kewajiban? Jawab: Terkadang pertanyaan di atas diungkapkan dengan bentuk lain seperti; dahulu manusia menerima hal-hal yang berkaitan dengan perbudakan dan kesewenang-wenangan dengan menerima berbagai kewajiban dan tanggungjawab yang harus ia pikul. Tetapi berbeda dengan manusia di zaman modern dan peradaban baru, di mana manusia di zaman tersebut selalu mencari dan menelusuri hak-hak individualnya. Manusia modern akan selalu mencari dan menuntut hak-hak tersebut baik dari alam, Tuhan, agama ataupun dari ilmu pengetahuan. Hal inilah yang menjadi kunci penyebab kemajuan umat manusia. Oleh karena itu, jika sebuah agama ingin mendapatkan masa kejayaannya, hendaknya agama tersebut tidak berbicara tentang tanggungjawab (taklif) ataupun ketaatan kepada Tuhan, nabi ataupun pemimpin pemerintahan agama (hakim syar’i). Akan tetapi, hendaknya agama berbicara tentang berbagai macam hak yang dimiliki manusia.
|
|
Selasa, 11 Agustus 2009 |
|
Ayatullah Muhammad Taqi Mishbah Yazdi (Ulama dan Filosof Kontemporer Iran) (Bag 1) Definisi kebebasan Tanya: Apakah definisi dari kebebasan? Jawab: Sebelum menjawab pertanyaan di atas ada satu hal yang perlu dicatat bahwa, suatu konsep (mafhum) dapat dibagi menjadi dua bagian, pertama; adalah pemahaman objektif dan konkrit (mafhum aini / inzImami), dan kedua; pemahaman abstrak (mafhum zihni / intiza’i). Sewaktu kita dihadapkan pada pemahaman objektif dan konkrit niscaya kita tidak akan banyak menemui kesulitan. Hal itu sebagaimana dapat kita praktekkan pada pemahaman kita tentang hal-hal yang berkenaan dengan disiplin ilmu eksakta seperti pengetahuan kita tentang air, gerak, listrik begitu pula pengetahuan kita tentang hal-hal yang berkenaan dengan disiplin ilmu kedokteran, seperti pemahaman kita tentang mata, telinga, lambung, dan yang lainnya. Itu semua adalah bagian dari pemahaman objektif dan konkrit yang dapat dipahami dan dicerna dengan baik oleh setiap orang yang mendengarnya. Walaupun terkadang mungkin juga ada beberapa ketidakjelasan dalam sebagian objek konsep tersebut, seperti apakah air sari bunga termasuk ke dalam kategori air atau bukan?
|
|
Minggu, 19 April 2009 |
|
Oleh : Mohammad Adlany Dalam sejarah peradaban Yunani, tercatat bahwa pengkajian dan kontemplasi tentang eksistensi Tuhan menempati tempat yang khusus dalam bidang pemikiran filsafat. Contoh yang paling nyata dari usaha kajian filosofis tentang eksistensi Tuhan dapat dilihat bagaimana filosof Aristoteles menggunakan gerak-gerak yang nampak di alam dalam membuktikan adanya penggerak yang tak terlihat (baca: Tuhan).
|
|
Rabu, 08 April 2009 |
|
Oleh : Mohammad Adlany Tradisi argumentasi filosofis tentang eksistensi Tuhan, sifat dan perbuatan-Nya ini kemudian secara berangsur-angsur masuk dan berpengaruh ke dalam dunia keimanan Islam. Tapi tradisi ini, mewujudkan semangat baru di bawah pengaruh doktrin-doktrin suci Islam dan kemudian secara spektakuler melahirkan filosof-filosof seperti Al Farabi dan Ibnu Sina, dan secara riil, tradisi ini juga mempengaruhi warna pemikiran teologi dan tasawuf (irfan) dalam penafsiran Islam.
|
|
Minggu, 25 Januari 2009 |
|
Oleh : Akmal Kamil Bahasa Irfan adalah bahasa penyingkapan (kasyf) dan syuhud (penyaksian). Penyingkapan-penyingkapan irfani memberikan ungkapan dan pandangan khusus kepada lisan dan mata seorang arif tentang keberadaan dan kosmos eksistensi. Ungkapan dan pandangan ini merupakan hasil dari pengalaman esoterik dan temuan-temuan irfani. Dan ketika terkait dalam batasan teori dan penalaran (reasoning) ia berada dalam ruang-lingkup irfan teoritis, dua hal yang harus tuntas dalam pembahasan epistemologi irfani.
|
|
Senin, 17 November 2008 |
Oleh: Mohammad AdlanyAntara agama dan akal terdapat hubungan dua arah dimana hubungan ini berada dalam bentuk yang sedemikian eratnya sehingga mustahil membayangkan adanya pemisahan di antara keduanya. Makna hubungannya bisa dijabarkan dalam bentuk yang lain.
|
|
Sabtu, 18 Oktober 2008 |
Oleh: Muhammad Adlany
Abu Hayyan Tauhidi, dalam kitab al-Imta' wa al-Muânasah, berkata, "Filsafat dan syariat senantiasa bersama, sebagaimana syariat dan filsafat terus sejalan, sesuai, dan harmonis"[1] Ahmad bin Sahl Balkhi yang dipanggil Abu Yazid, dilahirkan pada tahun 236 Hijriah di desa Syamistiyan. Ketika baligh ia berangkat ke Baghdad dan mendalami filsafat dan ilmu kalam (teologi).
|
|
Minggu, 18 November 2007 |
|
Oleh: Muhsin Labib Eksistensi Tuhan adalah salah satu masalah paling fundamental manusia, karena penerimaan maupun penolakan terhadapnya memberikan konsekuensi yang fundamental. Alam luas yang diasumsikan sebagai produk sebuah kekuatan yang maha sempurna dan maha bijaksana dengan tujuan yang sempurna berbeda dengan alam yang diasumsikan sebagai akibat dari kebetulan atau insiden. Manusia yang memandang alam sebagai hasil penciptaan Tuhan Maha Bijaksana adalah manusia yang optimis dan bertujuan. Sedangkan manusia yang memandang alam sebagai akibat dari serangkaian peristiwa acak atau chaos adalah manusia yang pesimis, nihilis, absurd dan risau akan kemungkinan-kemungkinan yang tak dapat diprediksi.
|
| |
|
|
Berita
Cache Directory Unwriteable
|