Tamu
Saat ini ada 10 pengunjung yang online
Anggota: 401
Berita: 176
WebLinks: 54
Pengunjung: 580985
|
Perspektif
|
Rabu, 10 Pebruari 2010 |
|
Legitimasi pemerintahan demokrasi adalah hal penting. Urgensitas ini, ada baiknya apabila kita soroti lebih cermat prinsip paling penting dari setiap sistem politik. Perlu dipahami bahwa arti legitimasi dalam politik bukanlah “kesesuaian” aturan-aturan agama (Islam: syari’at), kendatipun, keduanya terkait sangat erat. Lebih jauh lagi, legitimasi politik bukanlah kesesuaian dengan undang-undang (konstitusi) karena permasalahan ini justru mempertanyakan legitimasi segala bentuk sistem konstitusi.
|
|
Rabu, 06 Januari 2010 |
|
Tulisan ini terinspirasi dari sebuah diskusi yang berjudul "Sosialisme Vs Kapitalisme (dimana keberpihakan anda??)". Di awal artikelnya, penulis menjewer kuping kapitalis dengan mengatakan, “kapitalisme adalah akumulasi, eksploitasi, dan ekspansi, yang ujung-ujungnya adalah sebuah pertumbuhan ekonomi. Dan di antara ketiga hal tersebut, yang menjadikan kapitalisme sangat tidak manusiawi adalah EKSPLOITASI”. Selanjutnya penulis memuja puji sosialis demikian, “sedangkan sosialisme, lebih memegang prinsip kontrol penuh negara dalam perencanaan ekonomi, dan diharamkan adanya pemilik modal.” Tentu saja dua paragraph diatas cukup menggelitik jiwa awam saya, kenapa ..?. Kalau mau jujur, sebenarnya dua ideology diatas yakni sosialis maupun kapitalis sama-sama mengalami krisis eksistensialis. Saya sangat-sangat percaya dengan analisis Robert Heilbroner, seorang ekonom terkemuka di Amerika Serikat yang di kenal sebagai bapak pembela Sosialis dalam sebuah makalahnya “The Triumph of Capitalism”, The New Yorker, edisi 23 Januari 89 di katakannya: ”Pertarungan kapitalisme dan sosialisme sudah berakhir. Sosialis keok, kapitalis menang”. Juga pernyataan lain, dia sangat yakin kapitalisme runtuh. Lihat bukunya “The Nature and Logic of Capitalism”, (New York, W.W. Norton, 1985,p.143)
|
|
Minggu, 16 Agustus 2009 |
Oleh : Irfan Hilmi Khomeini Pembahasan mengenai relasi antara agama dan politik dalam Islam adalah isu yang selalu hangat untuk didiskusikan. Banyak sekali pendapat berkembang seputar pembahasan ini yang satu sama lain memiliki sudut pandang yang berbeda.
Perbedaan pandangan ini disebabkan oleh perbedaan dalam mendefinisikan din (agama). Ada yang mendefinisikan din dengan mengadopsi pemikiran dari para pemikir di luar Islam, di mana din diartikan dengan makna yang sempit dan terbatas yang hanya mengurusi masalah-masalah ritual keagamaan saja. Pendapat lain mendefinisikan sebaliknya dari apa yang sudah didefinisikan oleh pendapat sebelumnya. Mereka memahami Islam sebagai agama yang komprehensif, luas, sempurna dan menyentuh seluruh aspek dari kehidupan manusia.
|
|
Sabtu, 11 April 2009 |
|
Oleh : Muhammad Alcaff Mukadimah Manusia besar memiliki kebesaran/keistimewaan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa. Karakter, kebiasaan, dan gaya hidup manusia yang besar berbeda dengan manusia biasa. Apalagi jika manusia besar yang kita bicarakan adalah utusan Tuhan alias nabi atau rasul, maka perbedaannya dengan manusia biasa semakin besar. Lebih dari itu, bila yang kita bandingkan dengan manusia biasa adalah nabi terbaik dan utusan Allah Swt termulia maka perbedaannya dengan manusia biasa semakian jauh lebih besar. Sebab, Nabi termulia ini jangankan dengan manusia biasa seperti kita, dengan nabi-nabi lainnya pun beliau dibedakan.
|
|
Rabu, 18 Maret 2009 |
|
Oleh: Ridho Habsyi Suatu permasalahan yang sangat jelas bahwa agama Islam menolak sebuah konsepatauideologi fanatisme dan nasionalisme kesukuan atau kebangsaan. Islam adalah agama yang bersifat universal dengan memandang dan memperhatikan semua suku, kaum dan bangsa yang beraneka ragam, dan tidak memandang suku, kaum dan bansa tertentu. Dan Islam sejak awal kemunculannya telah mengajak kepada seluruh manusia untuk mencabut dan menghancurkan akar-akar kefanatisan suatu kaum atau suku
|
|
Senin, 24 November 2008 |
|
Oleh: Ismail Amin Catatan lepas dari Training Strategi Pembelajaran dengan Mutiple Intelligency Himpunan Pelajar Indonesia Iran Di Asia Tenggara indeks pembangunan manusia Indonesia menempati posisi ke-7 di bawah Vietnam. Negara kitapun masuk Guines Book of Record karena menjadi negara perusak hutan tercepat di dunia. Walaupun telah gundul, masih saja terjadi penebangan liar yang merugikan negara sekitar USD 2 Miliar.
|
|
Senin, 17 November 2008 |
Oleh : Ali Reza Alatas Prakarsa Timur Tengah Besar yang dipublikasikan oleh Negara-negara Industri G-8 mencakup empat aspek utama yaitu Politik, Sosial, Budaya dan Ekonomi. Keempat aspek ini memaksa Negara-negara Industri G8 berkewajiban membantu AS dan negara-negara kawasan untuk merealisasikan Ide dan prakarsa ambisius tersebut.
|
|
Senin, 17 November 2008 |
Oleh: Ismail AminPada dasarnya, sejak dahulu rakyat di negeri ini sadar dengan adanya kemajemukan bangsa. Namun kemajemukan itu tidaklah dijadikan dalih untuk saling menyudutkan, justru dijadikan sebagai kekuatan pemersatu menuju terbentuknya republik. Kelompok nasionalis berlatar belakang sekuler, kalangan agamis (Islam), dan kelompok komunis melakukan konsolidasi di bawah payung ideologis bernama keindonesiaan.
|
|
Sabtu, 06 September 2008 |
|
Oleh: Muhammad Alcaff Sejak menginjakkan kaki di tanah tercinta Indonesia Raya, ada dua fenomena kontradiktif yang saya saksikan di layar kaca: pertama, keluarga salah satu pengusaha terkenal di Jakarta yang merayakan pesta pernikahan yang menghabiskan milyaran rupiah dan kedua bocah belasan tahun yang beratnya cuma sekitar 6 kilo karena kekurangan gizi. Di sisi lain, acara hiburan dan gosip kehidupan artis masih mendominasi rating TV di tanah air dan mampu menyedot perhatian pemirsa secara fantastis.
|
|
Selasa, 15 Juli 2008 |
|
Oleh: Prof. Abdul Hadi. W. M. Sebenarnya sudah lama masyarakat AS tahu bahwa Bush adalah seorang pengikut fundamentalis Kristen yang fanatik. Ia adalah anggota jemaah Gereja Southern Baptist Convention, sebuah gereja yang semula tidak begitu menonjol di Amerika. Sampai tahun 1980an keberadaannya kalah menonjol misalnya dibanding Gereja Advent, Mormons, Pantekosta, dan Presbyterian. Semua gereja ini masing-masing telah pula melahirkan kelompok-kelompok fundamentalis yang militan dan radikal. Tetapi setelah Bush memegang tampuk pemerintahan, gereja yang berpusat di selatan itu tumbuh menjadi gereja Protestan terbesar di Amerika.
|
|
Kamis, 03 April 2008 |
|
Oleh: Afifah Ahmad Potret Dunia Islam Hari ini, dunia Islam masih berduka. Pesta pembantaian umat manusia yang digelar Amerika di Irak dan Afganistan belum lagi usai, genderang perang sudah kembali ditiupkan di Gaza dan Libanon Selatan. Umat Islam, bertubi-tubi harus menanggung penderitaan yang berkepanjangan. Berdasarkan hasil penelitian OBA[1] yang dikutip Harian Sore menyebutkan selama invasi Amerika di Irak, lebih dari sejuta warga Irak tewas, empat juta kehilangan tempat tinggal sedang hampir separuhnya telah mengungsi ke negara-negara tetangga. Muslim di Palestina, tentu saja mengalami nasib yang lebih buruk, para peneliti kesulitan menentukan angka korban secara pasti. Karena setiap harinya, jumlah korban terus melonjak. Demikian pula, Afganistan dan negara-negara lainnya.
|
|
Kamis, 03 April 2008 |
|
(Membumikan Taklif dalam Aksi Lokal) Oleh: Siti Rabiah Aidiah Pengantar Lembaran sejarah manusia dipenuhi oleh perseteruan antara orang-orang yang berbuat kebaikan dengan pelaku kejahatan. Perusak keseimbangan itu terdiri dari orang atau kelompok yang mengedepankan kepuasan sementaranya ketimbang nilai-nilai luhur. Sementara itu, pribadi-pribadi mulia selalu berdiri di hadapan mereka, melawan segala bentuk penindasan dan bahkan membebaskan masyarakat yang berada dalam cengkeraman mereka.
|
|
Sabtu, 08 Desember 2007 |
|
Oleh: Afifah Ahmad Pendahuluan Dunia tidak ada yang tak mengenalnya. Sejarah mencatat perjalannya yang gemilang. Nama Ali diabadikan pada nama-nama Imam lain seperti Ali Zaenal Abidin as, Ali Ridha as dan Ali al-Hadi as. Nama Ali juga menjadi Favorit di kalangan Bani Hasyim dan suku Arab. Kini, namanya menjadi nama dari jutaan penduduk muslim di Dunia. Di Iran sendiri, nama Ali hampir dapat ditemukan pada setiap keluarga yang memiliki anak laki-laki. Siapakah gerangan pemilik nama pertama yang menjadi sumber penisbatan bagi jutaan nama-nama Ali lainnya?
|
|
Sabtu, 08 Desember 2007 |
|
Oleh: Muhsin Labib Sejak lama saya berencana untuk membahas masalah yang super senditif ini. Namun keterbatasan kemampuan terutama dalam forum umum, selalu mengurungkannya. Namun niat itu kali ini sudah tidak terbendung lagi karena beberapa faktor dan peristiwa, meski ditulis tanpa persiapan (bahkan mungkin banyak ditemukan salah ketik), dan tidak didukung dengan sumber-sumber yang memadai. Saya merasa terpanggil untuk membuka masalah ini karena beban psikologis yang terus menghimpit dada saya dan orang-orang yang senasib (baca: yang kejatuhan predikat 'sayyid') dengan saya.
|
|
Sabtu, 01 Desember 2007 |
|
Oleh: Muhammad Alkaf Kriteria lain premanisme internal adalah para peserta dan pendukungnya rata-rata berpendidikan rendah, "bonek" (bondo nekat), dan tidak tahu-menahu masalah dengan baik. Karena itu, mereka yang ototnya paling kuat bak kawat dan tulangnya paling kokoh bak wesi (baca: besi) berada di depan untuk memimpin gerakan anarkis kolektif ini supaya dengan energik dapat meneriakkan yel-yel kebencian dan melantunkan lagu permusuhan serta nyayian kutukan. Dengan kata lain, orang-orang yang terlibat premanisme internal adalah orang-orang "kelas kampung" dan "kelas desa" yang galtek (gagal tehnologi) alias tidak pernah bersentuhan dengan peradaban lain. Mereka hanya kenal satu selera dan satu menu. Ibarat mereka hanya kenal tahu dan tempe. Mereka paksa orang lain untuk hanya membeli dan mengkonsumsi makanan yang selalu mereka makan, tidak peduli orang lain suka atau tidak, berselera atau tidak.
|
|
Sabtu, 01 Desember 2007 |
|
Oleh: Muhsin labib
Senin dini hari (26 November 2007) sekitar pukul 00.30 warga kota Bangil dikegetkan oleh konvoi truk dan sepeda motor. Mereka bukan geng motor sebagaimana di Bandung. Tapi gerombolan orang awam yang diprovokasi. Seorang yang dikenal anti persatuan Islam memprovokasi sejumlah anggota masyarakat untuk konvoi keliling Bangil dan melakukan perusakan rumah sejumlah mubalig dan pengelola SMU Al-Ma’had al-Islami yang dianggap sebagai penganut aliran sesat. Padahal SMU ini telah berada lama di kota tersebut dan memberikan kontribusi nyata dalam bidang pendidikan dan dakwah Islam.
|
|
Sabtu, 17 November 2007 |
|
Oleh: Saleh Lapadi Pada tahun 1847 Marx dan Engel mendeklarasikan manifesto komunis. Sejak itu, ideologi komunis mencederai seluruh tubuh Eropa. Namun, saat itu tak seorangpun yang menilai bahwa manifesto itu justru menandai munculnya Eropa baru. Percaya atau tidak, saat ini fenomena serupa terulang kembali di Eropa, namun dengan nama Islam. 50 tahun lalu Islam merupakan agama yang tidak diperhitungkan di Eropa, tapi kini peringkatnya naik menjadi agama kedua di beberapa negara Eropa seperti, Perancis, Inggris, Jerman, bahkan Belanda.
|
|
Senin, 08 Oktober 2007 |
|
Oleh: Muhammad Alkaf Pasca kemenangan historis dan dramatik pasukan “majelis taklim” Hizbullah, Lebanon, rencana Amerika dan Israel untuk membangun Timur Tengah Baru dengan peta dari Tel Avif, sungai Furat sampai sungai Nil kini tinggal mimpi belaka. Sekarang telah muncul “Timur Tengah Baru” yang didesain oleh kehendak perjuangan tak kenal lelah Hizbullah. Mitos pasukan Israel yang tak terkalahkan sudah terhapus dari benak dan otak. Sudah tinggal cerita masa lalu bahwa Israel mampu mengalahkan beberapa negara Arab hanya dalam tempo tiga hari selama perang Arab-Israel.
|
|
Rabu, 03 Oktober 2007 |
|
Oleh: M Turkan Jelas, persoalan Palestina ini bukanlah permasalahan Sunnah dan Syiah, bukan pula kepetingan Arab atau Ajam. Palestina milik Islam dan seluruh kaum Muslimin dunia. Dukungan dan bantuan dalam bentuk apa pun terhadap bangsa terjajah di sana adalah kewajiban moral, tugas manusiawi dan hukum agama. Justru yang perlu dipertanyakan dan dipikirkan adalah; di mana letak Bulan Sabit Syiah? Bukankah ini hanya sekedar tuduhan yang tidak beralasan dan cara mendistorsi opini kaum Muslimin dari saudara-saudara mereka di Palestina?!
|
|
Jumat, 21 September 2007 |
|
Oleh: M Turkan Tangga politik yang mereka injak adalah semata-mata demi kekuasaan dan perut mereka. Kalau saja para politikus itu ketika membuat partai dan menjadikan partai itu sebagai sekolah untuk mendidik para calon politikus untuk melayani masyarakat dan negara, atau ketika mereka duduk di tempat-tempat terhormat, dia akan menghabiskan waktunya untuk melayani rakyat; bukan untuk mengganyang rakyat. Yang lebih parah dari itu, saat Indonesia mulai beranjak ke demokrasi dan multipartai, mereka duduk di kursi empuk dan mengkotak-kotak negara dengan dalih menyejahterakan rakyat.
|
|
Sabtu, 08 September 2007 |
|
Oleh: Saleh Lapadi “Kepribadian dan pengetahuan Muhammad dibentuk oleh lingkungannya. Leluhurnya dikenal menaati prosedur dan ajaran kenabian. Salah satunya adalah kaum cerdik pandai Kristen.” Ungkapan ini adalah tulisan pembuka Mohamad Guntur Romli, Aktivis Jaringan Islam Liberal. Ia dengan setia kembali mengulangi konsepnya dengan mengatakan Muhammad bukanlah nabi yang datang dari dunia antah berantah. Dan ditutupnya dengan kesimpulan, kenabian dan pewahyuan itu adalah hasil dari eksperimen kolektif setelah melalui proses kreatif yang sangat panjang. Menarik menyimak tulisan yang menggugah cara pandang lama tentang masalah kenabian. Kita dibombardir sejumlah data-data untuk meyakini bahwa begitu besar pengaruh lingkungan, yang dalam hal ini diwakili oleh koalisi Kristen (Waraqah bin Naufal dan Utsman bin al-Huwairits) dan Al-Hanifiyah Abdul Mutthalib). Ternyata, peran komunitas Kristen tidak kecil dalam membentuk kepribadian Muhammad saw. Rata-rata para “penasehat spiritual” yang disebut-sebut pendeta dalam sejarah berhasil meyakinkan Muhammad agar tidak perlu khawatir, karena ia bakal menjadi Nabi terakhir.
|
|
Sabtu, 01 September 2007 |
|
Oleh: Muhsin Labib Revolusi Islam Iran yang diletuskan oleh Imam Khomeini telah menjadi momentum historis bagi tersebarnya ajaran Ahlul-bait ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Keberhasilan Imam Khomeini menumbangkan monarki Pahlevi yang menjadi anak emas Amerika di Timut Tengah telah membuat bangsa Indonesia terbelalak. Para pemuda dan mahasiswa dengan antusiasme tinggi mempelajari buku-buku yang ditulis oleh cendekiawan revolusioner Iran, seperti Murtadha Muthahhari dan Ali Syariati. Sejak saat itulah terjadilah gelombang besar masyarakat Indonesia memasuki mazhab Ahlulbait. Maraknya antusiasme kepada mazhab Ahlulbait Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar dan paling berpengaruh di Asia Tenggara, tentu berpengaruh terhadap berkembangnya ajaran Ahlulbait di Malaysia dan kawasan Asia Tengggara.
|
|
Sabtu, 01 September 2007 |
|
Oleh: Muhammad Anis Maulachela Seiring dengan bergulirnya revolusi industri pada abad ke-18 M, para kapitalis (pemilik modal) berlomba-lomba membangun perusahaan industri, dari hulu hingga hilir. Tak ayal, nasib perekonomian negara pun berada di tangan mereka. Ketergantungan inilah yang kemudian menjadikan mereka merambah dunia politik. Sehingga, terbentuklah pemerintahan kapitalis, yang kemudian berkembang menjadi korporatokrasi (kekuasaan yang dikendalikan oleh elit politik, pengusaha, dan bank). Namun pada akhirnya kapitalisme ini tidak hanya bersifat lokal, melainkan dikembangkan secara global. Kaum kapitalis rupanya tidak hanya puas menguasai negaranya, mereka juga ingin menguasai dunia. Mereka berpendapat bahwa ekonomi tidak memiliki batasan teritorial, dan pemerintah tidak semestinya mencampuri urusan pasar. Sehingga muncullah gagasan dan praktik demokrasi pasar, liberalisasi ekonomi, korporasi global, perdagangan bebas, deregulasi ekonomi, privatisasi, hutang luar negeri, globalisasi, dan lain-lain.
|
|
Jumat, 03 Agustus 2007 |
|
Oleh: Irman Abdurrahman Pada awalnya, saya berpikir asumsi-asumsi “liar” Vali Reza Nasr (saya katakan demikian setelah membaca beberapa esainya yang tampaknya mencerminkan ide dasar dari buku tersebut) hanya akan bergema di dinding-dinding Gedung Putih, atau di jurnal-jurnal para pemikir neokonservatif Amerika. Tapi ternyata saya salah, setidaknya ketika Diwan hendak menerbitkan bukunya, The Shi’a Revival: How Conflict within Islam Will Shape the Future, yang menjadi referensi favorit para pemikir dan jurnalis neokon. Dan kemudian, secara singkat, diulas Azyumardi Azra dalam kolom “resonansi” di Republika.
|
|
Senin, 18 Juni 2007 |
|
Oleh: Muhammad M Marhaban Sebagai seorang mantan Presiden, Gus Dur seharusnya bisa melihat persoalan ini secara proporsional dengan tidak melakukan tirani-intelektual, serta memaksakan pendapatnya bahwa bangsa Indonesia harus percaya kepada peristiwa Holocoust. Sebab, bagi orang-orang yang cermat di dalam mengamati perkembangan Yudaisme di dunia, maka mereka jelas akan menertawakan seminar non-akademis yang dilakukan Gus Dur di Bali bersama pemimpin spiritual Hindu, Sri Sri Ravi Shankar, dan Direktur the Pardes Institute of Jewish studies, Rabbi Daniel Lande.
|
|
Minggu, 20 Mei 2007 |
|
Oleh: Herry Supryono Ahmadi Nejad pernah mengatakan kepada Amerika dan sekutunya kenapa kami harus percaya kepada anda sementara anda tidak pernah mempercayai kami. Pada saat yang sama Iran telah berkali-kali membuktikan kepada dunia bahwa ia layak dipercaya misalnya dengan keikutsertaannya dalam IAEA dan menandatangai program NPT yang digagas barat. Ia bahkan siap untuk diawasi setiap saat oleh badan ini yang kemudian justeru malah mengkhianati Iran dan selalu membuka celah diplomasinya dengan Eropa. Tapi sebaliknya Amerika sampai saat ini justeru tidak menunjukkan sedikitpun usaha memperbaiki kepercayaan dunia internasional.
|
|
Kamis, 10 Mei 2007 |
|
Oleh: Irman Abdurrahman Zaman boleh berubah, aktor pelaku sejarah pun dapat berganti wajah, tetapi karakter penjajah tampaknya tak pernah bisa enyah. Belum genap dua dasawarsa, warga dunia menyaksikan akhir dari kepedihan rakyat Jerman akibat Tembok Berlin yang didirikan rezim komunis Jerman Timur. Belum juga hilang dari ingatan ketika mantan presiden AS Bill Clinton menyebut tembok yang memisahkan dua Korea sebagai 'tempat paling menyeramkan di dunia'. Tentu saja masih tampak jelas betapa tembok barikade yang dibangun Israel di sepanjang Tepi Barat perlahan tapi pasti merampas, bukan hanya inci demi inci tanah Palestina, tetapi juga kemerdekaan dan hak hidup bangsa Palestina. Kini komunitas internasional dipaksa menyaksikan sebuah tembok pemisah baru, yang ditegakkan militer AS di Baghdad.
|
|
Senin, 07 Mei 2007 |
|
Oleh: Saleh Lapadi Hal ini jugalah yang membuat Wahabi/Salafi tidak mampu mengembangkan pengaruhnya secara maksimal meskipun ditopang dengan biaya besar dan telah dikerahkan seluruh daya dan upaya untuk mengembangkan pengaruhnya di kalangan kaum muslimin. Kekakuan dalam beragama yang mereka terapkan tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh Khawarij karena mereka membuat batasan yang kaku dan ekstrim dalam mendefinisikan kekufuran dan keimanan, dan ini tidak dapat diterima oleh banyak kalangan.
|
|
Senin, 23 April 2007 |
|
Oleh: Muhsin Labib Di tengah polarisasi dua kelompok dan kecenderungan itu, ada sebuah kelompok kritis yang menggabungkan rasionalitas dan teks. Mereka bukan jadi-jadian. Kelompok ini memiliki akar sejarah yang berpendar dalam filsafat, Kelompok ini muncul sebagai respon atas keberhasilan Imam Khomaini menumbangkan rezim monarki 2000 tahun Pahlevi dan makin kuat setelah kemunculan Mahmoud Ahmadinejad sebagai David di tengah angkara Goliath dunia tak pelak telah melambungkan popularitas mazhab Syiah dan diperlakukan sebagai jalan tengah yang membelah jalan Islam liberal (Islib) dan Islam literal (Islit). Syiah mulai dilirik sebagai Islam alternatif (Islat).
|
|
Minggu, 22 April 2007 |
|
Apapun akar dari penstereotipan kaum perempuan, namun fenomena ini telah menjadi isu dan topik perdebatan beberapa dekade lalu. Pada saat itu, di Barat muncul gerakan-gerakan feminisme yang mengkritik sistem sosial masyarakat yang menjadikan perempuan sebagai warga kelas dua. Kata feminisme yang diartikan sebagai gerakan pembelaan terhadap hak-hak perempuan, untuk pertama kalinya digunakan pada dekade 1970-an. Namun, perjuangan kaum perempuan untuk meraih hak-hak mereka yang selama ini terampas memiliki sejarah yang lebih panjang dari itu.
|
|
Minggu, 22 April 2007 |
|
Terlepas dari masalah tadi, AS sendiri juga telah memperluas jangkauan konfrontasinya dengan dunia Islam dengan menggulirkan prakarsa Timur Tengah Raya dan jargon pemberantasan terorisme. Apalagi AS berniat menindaklajuti politiknya itu secara lebih ekstrim dan agresif. Perlu diingat bahwa agresi ke Irak dan Afghanistan merupakan bagian dari pencegahan kebangkitan Islam. Adapun terkait negara-negara tetangga Iran dan di luar kawasan Timur Tengah, AS dan sekutunya juga tampak lebih cerdik dan terperinci dalam meredam gelombang kebangkitan Islam. Caranya adalah dengan menekan pihak pemerintah untuk lebih mempersempit ruang gerak organisasi islami negara negara yang bersangkutan.
|
|
Minggu, 22 April 2007 |
|
Sebagian pihak memiliki pandangan yang cukup sederhana tentang globalisasi yaitu penyamaan lahiriah global. Artinya, globalisasi cukup dengan menyamakan tampilan lahiriah saja tanpa menyentuh sisi lainnya. Namun terbukti bahwa ide tersebut tidak berhasil baik pada masa lalu, kini, maupun era mendatang. Adapun di antara para pendukung makna penyatuan dalam globalisasi terdapat kelompok yang menyatakan bahwa globalisasi dapat direalisasikan jika didukung proses dialog antarperadaban.
|
|
Sabtu, 31 Maret 2007 |
|
Oleh: Ammar Fauzi Heryadi Walaupun jangka waktu 60 hari belum menentukan apa yang akan terjadi setelah itu, namun bagi Amerika, resolusi itu dan resolusi-resolusi yang lain merupakan poin-poin untuk menggenapkan force ke dalam bentuk penyerangan militer terhadap Iran. Dan bila ini terjadi, maka sejarah kontemporer bangsa kita akan mencatat jejak-jejak dukungan kita di belakangan bayangan amunisi Amerika. Mendukung resolusi lebih membuka tantangan serius bagi pemerintah dan bangsa Indonesia dalam skala dalam dan luar negeri.
|
|
Sabtu, 31 Maret 2007 |
|
Oleh: Muhsin Labib Dukungan ‘tak berarti’ Indonesia atas resolusi DK tersebut makin menunjukkan bahwa kebaradaan RI sebagai anggota tidak tetap DK PBB hanyalah asesoris dan simbolik karena sikap tersebut telah mengisolir Indonesia dari opini umum umat Islam di seluruh dunia. Indonesia bukan hanya anggota tidak tetap DK PBB karena tidak punya hak veto, tapi menjadi anggota yang ‘sangat tidak tetap’ karena sikapnya yang plin-plan. Tendensi ‘ingin diterima’ oleh semua pihak telah menjadikannya objek cemooh para penentang kezaliman dan anti imperilaisme di seluruh dunia.
|
|
Jumat, 16 Maret 2007 |
|
Oleh: Muhsin Labib Namun Wahabisme tidak selalu bernasib baik. Dalam perkembangannya radikalisme yang berkembang di lingkungan kelompok ini akhirnya memancing keretakan dan konflik horizontal diantara mereka sendiri Fenomena radikalisme Juhaiman yang menguasai Masjidil Haram beberapa tahun silam, Ben Laden dengan Al-Qaedah serta Talibanisme membuat melahirkan perpecahan dalam simpul-simpul Wahabisme. Di Arab Saudi, tempat kelahirannya, wahabisme radikal mulai mendapatkan tekanan dari aparat Kerajaan. Islam Sunni yang semula dianaktirikan, mulai mendapatkan kelonggaran. Muslim Syiah, yang menjadi mayoritas di wilayah Timur, mulai diperlakukan dengan baik.
|
|
Minggu, 04 Maret 2007 |
|
Oleh: Emi Nur Hayati Ma’sum Said Dengan demikian maka jelaslah bahwa poligami bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan sebagaimana sebagian orang merasa ketakutan dengan poligami, khususnya kaum perempuan, yang menjadi korban dan budak nafsu kaum laki-laki pelaku poligami. Tentu saja harus dilihat juga bahwa di antara perempuan-perempuan yang dimadu, sering muncul penyakit hasud dan cemburu sesama mereka sendiri secara berlebihan dan pada akhirnya menimbulkan ketidakharmonisan dengan suami dan keterlantaran anak-anak. Hal ini dapat timbul karena sikap suami yang tidak menjaga keadilan sesama mereka.
|
|
Kamis, 15 Pebruari 2007 |
|
Oleh: Muchtar Luthfi Islam yang bertumpu pada ajaran tauhid yang didukung berbagai argumentasi –histories, teks, akal sehat dan fitrah sebagai esensi dasar manusia- telah mengizinkan beberapa bentuk tindak kekerasan. Dengan sangat jelas batasan-batasan itu diperinci oleh Islam dalam ajarannya. Dengan tidak lagi mengindahkan batasan-batasan tersebut meniscayakan seseorang telah keluar dari hukum-hukum Islam, sehingga tidak dapat mengatasnamakan tindaannya tersebut sebagai gerakan Islam yang sakral, jihad.
|
|
Jumat, 09 Pebruari 2007 |
|
Oleh: Muchtar Luthfi Ia menegaskan: "Jangan biarkan ada pihak-pihak yang hendak menyamakan antara aksi penyerangan dengan melakukan pertahanan (reaktif), bahkan harus ditekankan untuk selalu membedakannya"Tidak ada agama yang menjelaskan hal itu secara terperinci dan detail melainkan Islam yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah saww yang tongkat estafet kepemimpinannya dilanjutkan oleh para manusia suci dari keluarga beliau. Jadi jelas sekali bahwa ada beberapa tindak kekerasan yang dilegalkan oleh akal dan agama. Sebagaimana ada pula yang tidak mendapat legalisir agama dan akal. Hal itu pula yang pernah disampaikan oleh Karl Poper dalam sebuah ungkapannya.
|
|
Senin, 05 Pebruari 2007 |
|
Oleh: Saleh Lapadi Aljazeera telah berjudi dengan mempertaruhkan nyawa ratusan pejuang muslim Somalia dengan isu rendahan balas dendam Syi'ah atas Sadam sebagai wakil Sunni. Bila saja Aljazeera secara proporsional memberitakan bagaimana tentara Ethiopia dan pasukan pemerintah Somalia, yang di kontrol oleh Amerika membunuh dan membantai kaum muslimin, negara-negara Arab dan Islam akan melakukan protes dan Amerika tidak bakal semudah itu menguasai Somalia. Ketika kota terakhir yang dikuasai oleh pejuang-pejuang muslim digempur oleh pasukan Ethiopia dan pemerintah, Aljazeera asik memprovokasi dunia Islam untuk memusuhi Syi'ah lewat tokoh bengis Sadam. Akhirnya, dengan tanpa korban jiwa seorang pun, Amerika masuk dan menguasai Somalia.
|
|
Jumat, 02 Pebruari 2007 |
|
Oleh: Rasul Ja'fariyan Pada masa sekarang, dengan segala eksistensinya, kaum Syiah pengikut Ayatullah Syistani telah terdidik untuk turut menjaga hak-hak segenap kelompok-kelompok di Irak. Hingga saat ini, mereka tidak bersedia untuk menulis -walau hanya separuh baris- sebuah fatwa anti Sunni. Namun anehnya, pemimpin dan tokoh yang dianggap paling netral di dalam tubuh Ahlusunah seperti Yusuf Qardhawi –pasca peristiwa Samara- tiba-tiba berceramah menentang Syiah, dan pada khutbah shalat Jumat -pada Jumat kedua pasca pelaksanaan eksekusi Saddam Husein- ia mati-matian telah membela Saddam.
|
|
Jumat, 02 Pebruari 2007 |
|
Monday, January 29 2007 Oleh: Saleh Lapadi Statemen Ayatullah Sayyid Ali Sistani tidak pernah digubris. Ayatullah Sayyid Ali Sistani mengutuk pembunuhan masyarakat sipil di Irak. Ayatullah Sistani, selaku tokoh Syi’ah Irak tidak pernah melemparkan kesalahan dan pemicu ini ke pundak Ahli Sunah Irak. Ayatullah Sistani dalam setiap kesempatan melemparkan penyebab ini kepada Amerika dan Inggris, sisa-sisa anggota Ba’ts dan kelompok takfir. Hal sama yang ditekankan oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamene’i dalam ceramah-ceramahnya.
|
|
Jumat, 02 Pebruari 2007 |
|
Saturday, January 27 2007 Oleh: Irman Abdurrahman Dapat ditegaskan bahwa tidak pernah ada “fatwa perang” yang keluar dari para ulama Syiah dan Sunni. Satu-satunya deklarasi perang justru keluar dari mulut seorang Yordan, Abu Musab al-Zarqawi, pentolan al-Qaidah di Irak, pada September 2005. Tentu saja, deklarasi perang ini ditujukan al-Zarqawi terhadap Syiah. Asosiasi Ulama Muslim (Hay`at Ulamâ`u al-Muslimûn), organisasi ulama Sunni Irak, pun langsung mengecam deklarasi al-Zarqawi tersebut.
|
|
|
|
Berita
Cache Directory Unwriteable
|