Ke-sayyid-an, Berkah atau Beban? Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Saturday, 08 December 2007

Oleh: Muhsin Labib

Sejak lama saya berencana untuk membahas masalah yang super senditif ini. Namun keterbatasan kemampuan terutama dalam forum umum, selalu mengurungkannya. Namun niat itu kali ini sudah tidak terbendung lagi karena beberapa faktor dan peristiwa, meski ditulis tanpa persiapan (bahkan mungkin banyak ditemukan salah ketik), dan tidak didukung dengan sumber-sumber yang memadai. Saya merasa terpanggil untuk membuka masalah ini karena beban psikologis yang terus menghimpit dada saya dan orang-orang yang senasib (baca: yang kejatuhan predikat 'sayyid') dengan saya.

Tanpa berpretensi melakukan justifikasi, apologi dan pembelaan atau memojokkan salah satu pihak, izinkan saya, Muhsin Labib (nama ini sejak di Yapi tidak pernah bersanding dengan marga dan pasti tidak diawali dengan kata sayyid, habib, syarif dan atribut-atribut sejenisnya sebagaimana di Iran) memberikan sebuah analisis sederhana.   

Kata 'sayyid' adalah bentuk kata kerja (ism fa'il) yang berasal dari kata baku (mashdar) 'siyadah' atau kata kerja lampau 'sada' (dengan fathah dan alif setelah huruf sin), berarti 'menguasai' dan 'memimpin'. 

Karena penghargaan abadi kepada para tokoh Ahlul-Bait itulah, setiap alawi atau yang memiliki garis keturunan yang terbukti membimbing umat juga dipanggil dengan predikat 'sayyid'. Artinya, gelar ini bukanlah semata-mata pengharagaan dan pemujaan simbolik, namun juga isyarat dan mekanisme alami untuk senantiasa mengingatkan mereka yang merasa berasal dari garis nasab Ahlul-Bait untuk senantiasa mewakafkan diri sebagai abdi dan pemandu umat. Sayyid sejati sangat berjiwa rakyat, peka terhadap derita umat, dan pantang dilayani apalagi minta disanjung. Penghormatan dan pengistimewaan umat terhadap para alawi karena kontribusi dan  pengorbanan mereka demi umat.

Apabila peran dan kontribusi nir-laba ini tidak lagi diberikan, pada seorang alawi tidak patut menunggu orang memanggilnya dengan 'sang pemimpin' (sayyid). Artinya, ada kalanya seorang alawi tidak menyandang predikat 'sayyid'.

Ke-alawi-an (saya lebih suka menggunakan kata ini ketimbang 'sayyid') dapat pula dilihat dari dua perspektif, yaitu ke-alawi-an biologis, dan ke-alawi-an ideologis. Ke-alawi-an jenis pertama dan kedua bisa terhimpun dalam satu sosok, seperti Imam Khomeini dan Hasan nasrullah, namun bisa juga terpisah, sehingga tidak semua alawi biologis menyandang ke-alawi-an ideologis, begitu pula sebaliknya. Salman Farisi, sahabat yang berasal dari ras non Arab, telah diangkat oleh sebagai 'alawi ideologis' dengan sabdanya yang terkenal, "Salman dari kami, Ahlul-Bait'. Hanya saja, alawi ideologis (non biologis) tidak bisa diperalkaukan sama dengan alawi  bilogis dalam bidang fikih. Sebaliknya 'sayyid' yang membenci mazhab Ahlubait dan menghahalkan darah para penganutnya adalah 'Kan'an' (miniatur dari putra Nabi Nuh as).     

Dengan persepsi yang luas ini, semestinya pendekotomian dan pengangakatan isu-isu sensitif seputar kesayyidan dan ke-alawi-an tidak perlu mendominasi ruang-ruang diskusi dan membuat kita lupa akan agenda-agenda serta proyeksi dakwah ke depan.

Pesoalan ini menjadi memalukan dan memilukan mana kala tendensi negatif menjadi salah satu faktor di balik pewacanaannya. Isu kesayyidan telah memakan banyak korban dan menggerus militansi bahkan merenggangkan hubungan emosional kepada para tokoh Ahlul-Bait apabila diungkapkan dengan diksi yang sangat dangkal dan ambigu.

Harus diakui, predikat 'sayyid' di kalangan komunitas Syiah di Indonesia telah menjadi beban determinan. Bagaimana tidak, sering kali kesalahan seseorang bisa ditimpakan atas sebuah predikat atau bahkan atas sebuah keluarga besar dan argumentum ad hominem kerap menjadi senjata yang sangat efektif. Bila itu terjadi, maka kesayyidan adalah bencana karena diperlakukan sebagai dosa bersama.

Tidak sedikit generasi alawi yang bermazhab Syiah di Indonesia yang cenderung membenci kodrat diri sendiri (baca: kesayyidan yang diperoleh secara determinan) demi menegaskan bahwa apabila sikap kritis alawi terhadap prilaku sesama alawi lebih menjamin kebersihan dari b ias atau tendensi negatif yang sangat kontra-produktif. Saya sendiri dan beberapa teman yang merasa sesak karena 'ketiban' kesayyidan telah memulai sebuah gerakan auto-kritik yang tidak kalah 'pedas' dibanding dengan orang-orang yang tidak ketiban beban ini.

Apabila kita jujur dan membuka hati kita selebar lapangan Senayan, maka kita semua –baik yang ketiban maupun yang tidak- mesti berkesimpulan bahwa kesyiahan meniscayakan kecintaan dan ketaatan kepada Nabi dan keluarganya serta penghormatan kepada anak keturunannya.

Lalu mengapa isu ini masih saja mencuat ke permukaan? Banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satunya adalah lragam atarbelakang orientasi keagamaan masyarakat Indonesia, termasuk tradisi dan pola interkasi terhadap kominitas alawi yang berimplikasi terhadap intensitas yang beragam menyangkut persoalan kesayyidan –sebelum mengenal mazhab Syiah- . Tradisi dan pola penghormatan, yang sebagian irasional, terhadap alawi di kalangan sunni trasdisional seperti NU, yang memiliki hubungan historis dan emosional dengan para pendakwah dari Yaman, sangat berbeda dengan pola perlakuan kaum pembaharuan, seperti Muhammadiyah dan lainnya. Dua latar belakang orientasi keagamaan yang berbeda ini –akibat proses konversi ke mazhab Syiah- bertemu dalam sebuah komunitas yang masih baru di indonesia. Terjadilah pergesekan kecil, dari sekadar lontaran-lontaran gurau hingga meletus menjadi isu paling kontraproduktif.

Komunitas Syiah di indonesia, yang masih baru dan terdiri dari dua latar belakang yang bersebarang ini, memang sedang berproses untuk menemukan jatidirinya yang baru, bukan ala NU yang tradisionalis dan bukan pula ala Muhammdiyah, bukan ala Iran yang berbeda dengan karakter Indonesia, dan bukan pula ala Irak yang tidak mirip dengan identitas Indonesia.

Selain masalah kesayyidan, isu-isu taqlid, marja'iyah, khumus dan wilayah al-faqih juga tidak semestinya dijadikan sebagai alasan untuk berlomba mencari kata yang paling efektif untuk merawat kebencian dan menyuburkan rasa saling curiga. Menjadi alawi (sayyid biologis) bukanlah pilihan. Dan karena ia bukan pilihan, maka seseorang tidak layak dicemooh, didengki atau dijadikan sebagai alasan untuk sombong dan pongah. Sopir metromini yang ugal-ugalan tidak patut dicemooh karena kebatakannya, namun layak ditegur karena caranya mengemudi mobil. Ia tidak memilih menjadi sihombing atau Ginting. Demikian pula orang yang berkulit hitam atau bertubuh pendek, tidak layak dicemooh atau ditertawakan, karena itu bukanlah sesuatu yang diperoleh karena kerja keras atau prestasi. Bila seorang alawi (sayyid) melakukan perbuatan tercela, maka yang patut dicela bahkan, bila perlu dihukum mati, karena perbuatannya, buka karena kesayyidannya.

Setiap alawi yang bermazhab Syiah pasti meyadari bahwa kesayyidan bukanlah alat dongkrak kesombongan, apalagi memang sejauh ini perlakuan istimewa itu tidak akan pernah didapat di tengah komunitas yang semi-NU dan mantan Muhammadiyah ini. Tapi, apabila ia bukan anugerah dan bintang jasa, setidaknya para non sayyid juga tidak menjadikannya sebagai jurus mematikan setiap kali terjadi polemik. Kasarnya, kalau bukan anugerah dan berkah, paling tidak, jangan jadi bencana.

Saya yakin, para sayyid yang menganut mazhab Ahlul-Bait adalah orang-orang yang telah rela untuk tidak mendapatkan hak-hak istimewa sebagaimana bisa dinikmatinya bila tetap Sunni, terutama bila hidup di sentra-sentra otoritas tradisional alawi di sejumlah kota di Indonesia. Kesyiahan mereka semestinya dilihat dengan positive thinking sebagai dekalarasi bahwa kesayyidan tanpa ketaatan kepada Nabi dan keluarganya adalah bumerang.

Setiap penganut mazhab Ahlul-Bait berpeluang untuk menjadi sayyid dan menjadi salman Farisi dan Muhammad bin Abu Bakr. Setiap orang yang memegang teguh tawalli dan tabarri adalah putra-putri Ali bin Abi Thalib.[]

 

Penulis: Alumnus Hauzah Ilmiah Qom, Republik Islam Iran. Kandidat Doktor Filsafat Islam di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini aktif sebagai dosen ICAS-Paramadina Jakarta, Menejer Penerbit AL-HUDA, Direktur Penerbit CITRA, Anggota Dewan Redaksi majalah dwimingguan ADIL

 

 

Diskusi: (4) >> feed
...
Oleh: Satrio Pinginit, December 10, 2007

benar apa yang di tulis oleh Ustad.sekarang kita pada era kebangkitan cara berfikir,jadi tugas kita dikomunitas mana kita berada,jadilah kita sebagai pendamai/penyejuk,dengan kata lain apabila kita mendengar atau sekaligus melihat oknum-oknum menilai miring terhadap seseorang atau kelompok,maka berusahalah kita untuk meluruskannya sehingga kita kuat ukhuwah.berusahalah jangan berbicara yang bisa merugikan persatuan,apalagi berbicara yang sensitif yang esensinya merenggangkan antar kelompok atau serupanya.kebanyakan orang awam senang menafsirkan kearah yang negatif yang cenderung men-generalkan.kita sudah sama-sama tahu bahwa orang yang mulia disisi Allah adalah ketaqwaan.ada kiat pemersatu untuk ikhwan dan akhwat.kalau ada individu menegatifkan individu atau kelompok,yang harus kita lakukan adalah menjelaskan kepada individu tersebut kebaikan individu yang dinegatifkannya.setiap individu pasti ada positifnya,-ceritan kebaikan orang lain/jasa orang lain/kontribusi orang dan tutup jangan ceritakan keburukannya-,agar hati kita menjadi bersih.kalau tidak,kita lari dari mendengarkan gunjingan individu tersebut.perluh diingat bahwa gerakan Mahdi adalah pemersatu golongan-golongan.jadikan dalam hati kita,- kita tidak enak/risih -bila mendengar saudarakita yang lain dinegatifkan oleh saudarakita yang ada dihadapan kita,jadi berusahalah untuk meluruskannya.Anda adalah pengikut mahdi.amiin.bihaqqi MUHAMMAD WA AALI MUHAMMAD.

...
Oleh: Satrio Pinginit, December 10, 2007

benar apa yang di tulis oleh Ustad.sekarang kita pada era kebangkitan cara berfikir,jadi tugas kita dikomunitas mana kita berada,jadilah kita sebagai pendamai/penyejuk,dengan kata lain apabila kita mendengar atau sekaligus melihat oknum-oknum menilai miring terhadap seseorang atau kelompok,maka berusahalah kita untuk meluruskannya sehingga kita kuat ukhuwah.berusahalah jangan berbicara yang bisa merugikan persatuan,apalagi berbicara yang sensitif yang esensinya merenggangkan antar kelompok atau serupanya.kebanyakan orang awam senang menafsirkan kearah yang negatif yang cenderung men-generalkan.kita sudah sama-sama tahu bahwa orang yang mulia disisi Allah adalah ketaqwaan.ada kiat pemersatu untuk ikhwan dan akhwat.kalau ada individu menegatifkan individu atau kelompok,yang harus kita lakukan adalah menjelaskan kepada individu tersebut kebaikan individu yang dinegatifkannya.setiap individu pasti ada positifnya,-ceritan kebaikan orang lain/jasa orang lain/kontribusi orang dan tutup jangan ceritakan keburukannya-,agar hati kita menjadi bersih.kalau tidak,kita lari dari mendengarkan gunjingan individu tersebut.perluh diingat bahwa gerakan Mahdi adalah pemersatu golongan-golongan.jadikan dalam hati kita,- kita tidak enak/risih -bila mendengar saudarakita yang lain dinegatifkan oleh saudarakita yang ada dihadapan kita,jadi berusahalah untuk meluruskannya.Anda adalah pengikut mahdi.amiin.bihaqqi MUHAMMAD WA AALI MUHAMMAD.

...
Oleh: zet hasan, January 23, 2008

Bagi saya setiap manusia yang lahir ke dunia ini pasti dia tidak tahu mau menjadi suku A....atau...keturunan B.....dan warna kulitnya hitam atau putih...atau dengan embel embel apa saja.
Manusia lahir secara fitrah dan tidak ada dosa. Sudah barang tentu itu pun terjadi pada Muhsin Labib dan Saudara Syiah lainnya termasuk diri saya.
Menjadi Sayyid dan menjadi Syiah itu adalah ketentuan,mau atau tidak mau harus saudara jalankan. kalau Anda menganggap itu Diskriminasi maka Anda telah melecehkan Tuhan Allah SWT....
bagi Saya menjadi Sayyid dan Syiah tidak perlu malu/takut.....karena bagi Saya Sayyid adalah Anugerah dari Ilahi Rabby dan Syafaat dari Muhammad Saaw..dan saya harus bersyukur yaitu dengan belajar sedikit demi sedikit merubah diri saya sendiri dan keluarga saya. Menjadi Syiah bagi saya adalah kebenaran...karena sudah pasti karena saya cucu Muhammad sang Pembawa Risalah, Ali dan Fatimah Az zahra, Hasan dan Husein....maka saya menjadi Syiah mereka......malahan lucu kalau ada seorang sayyid yang tidak mau mengikuti Syiah kakeknya sendiri. lalu saya bangga dengan orang-orang non Sayyid karena mereka Syiah.
Toh.....Semuanya manusia entah itu Sayyid atau bukan tetap saja akan akan dihisab dan tidak akan luput dari Mizannya Allah..
(sebenarnya hal seperti itu tidak perlu dibahas)itulah yang menjadi senjata ampuh memecah belah umat islam. sudah waktunya umat ini saling menghargai satu sama lain... mau syiah...mau Sunni...atau lainnya..
Siapa yang konsisten berjuang dan sabar akan nilai kemanusiaan itulah sejati Islam...

...
Oleh: ari.ponty, February 15, 2008

assalamualaikum.ust.labib ana sanagt setuju dengan bahasan antum.seperti dulu di yapi,antum sering protes dan bahkan mau bagi bagi sama orang yang mau ambil sayyid kita.tentu sajaa,kita tidak oernah minta lahir sbg sayyid.tapi kita tidak juga mau dipandang sebagai batu ganjalan.ya gak.
jika anda sebagai pengikut mazhab ahlul bait,yg kebetulan ketiban sayyid,tunjukkan lah bahwa anda dapat menjadi teladan.dalam hal ibadah,ahlak,kedermawanan,empati,dan keberfihakan kpd kaum mustadafin.terutama sesama sayyid,yang masih banyak lepas dari perhatian kita.viva ust.maju terus

Aturan Diskusi: Seluruh komentar yang masuk akan melalui proses seleksi dan pengeditan terlebih dahulu di meja redaksi sebelum kami tampilkan di Situs. Komentar yang ditulis dengan bahasa yang baik, sopan, tidak bersifat adu domba, menghujat dan membangun lebih mendapat perhatian redaksi, sehingga komentar tersebut akan dimuat di situs lebih besar. Setiap komentar bisa di komentari secara imbal balik. Redaksi berhak menolak setiap tanggapan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Selamat berdiskusi!.
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Tulis Kode:


busy
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >