Wajah Negeriku Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Saturday, 06 September 2008

Oleh: Muhammad Alcaff

 

Sejak menginjakkan kaki di tanah tercinta Indonesia Raya, ada dua fenomena kontradiktif yang saya saksikan di layar kaca: pertama, keluarga salah satu pengusaha terkenal di Jakarta yang merayakan pesta pernikahan yang menghabiskan milyaran rupiah dan kedua bocah belasan tahun yang beratnya cuma sekitar 6 kilo karena kekurangan gizi. Di sisi lain, acara hiburan dan gosip kehidupan artis masih mendominasi rating TV di tanah air dan mampu menyedot perhatian pemirsa secara fantastis.

Tentu saja berita kriminal wa bil khusus kasus pembantaian berantai ala Jombang masih ditunggu kelanjutannya oleh banyak pemirsa dan pembaca dan bersaing secara ketat dengan dunia glamor artis. Sementara itu, pilkada dan persiapan pemilu tahun depan juga tak kalah serunya. Masing-masing pihak berlomba-lomba untuk memenangkan jagoannya dengan pelbagai cara.

 

Bahkan salah satu calon pejabat di daerah nekat telanjang bulat karena gagal terpilih. Yang menarik, artis kenamaan pun tak mau ketinggalan untuk mencicipi tumpeng pemilihan pilkada, dan sebagian mereka berhasil menduduki jabatan sebagai wakil kepala daerah.

 

Saya tidak bermaksud menghimpun berita. Dan masih banyak peristiwa di tanah air yang tidak mungkin saya potret satu persatu karena saya bukan wartawan harian dan tidak si sini tempatnya. Saya hanya mencoba berbagi kebingungan dengan Anda. Indonesia yang telah merdeka ke-63 tahun ini sedang menuju kemana? Di mana patriot-patriot bangsa yang merindukan kedamaian, keadilan dan kesejahteraan bagi Indonesia? Bila terjadi pelbagai tindak kriminal di masyarakat, maka dimana para ulama dan kyai? Dimana para penegak hukum? Apakah kita selama ini telah melakukan intropeksi bahwa masing-masing umara dan ulama telah menjalankan fungsi dan tugasnya dengan baik? Mereka yang bersemangat untuk duduk di kursi panas jabatan publik, apalagi punya cita-cita besar menjadi presiden dengan motivasi apa dan niat apa mereka akan memimpin? Apakah dengan semangat basmalah, yakni melayani sesama manusia atau dengan nama tahta dan popularitas?

 

Masyarakat kita sedang sakit dan tidak seharusnya kita menambah beban dan derita mereka. Kerusakan moral yang terjadi di tengah lingkungan kita, utamanya semakin maraknya peredaran narkoba dan para penggunanya menandakan bahwa ada yang salah dalam proses pembinaan masyarakat selama ini. Menurut hemat saya, salah satu kesalahan besar kita selama ini adalah kita tidak menjadikan rumah kita sebagai surga kita. Anak-anak kita gagal meneladani orang tuanya. Rumah tidak menjadi tempat yang nyaman, teduh, asri dan harmonis buat anggota keluarga. Rumah-rumah kita lebih sering diisi dengan nyayian cenggeng dan lagu-lagu murahan serta tontonan yang tidak mendidik daripada lantunan ayat suci al Qur’an. Marilah back to home. Marilah kita jadikan rumah sebagai madrasah bagi anak-anak kita. Ketahuilah bahwa kenakalan anak-anak didahului oleh kenakalan orang tuanya.

 

Para ulama harus menjadi figur panutan umat, khususnya kalangan muda. Para ulama harus mengkontrol acara-acara TV yang tidak mendidik. Daripada melihat berita gosip murahan, mendingan kehidupan para ulama diekspos untuk diteladani oleh generasi muda. Namun pertanyaannya adalah, adakah dan seberapa banyak ulama-ulama kita yang kehidupannya dapat menjadi teladan bagi generasi bangsa ini dan umat Islam.

 

Para pahlawan bangsa memerdekan negeri ini atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dengan harapan bangsa kita menjadi bangsa yang makmur, bermartabat dan berkeadilan. Cita-cita agung para pahlawan tersebut akan sirna dan pupus bila kita tidak mensyukuri nikmatnya kemerdekaan dan berusaha membangun negeri kita secara sungguh-sungguh dan berkesinambungan. Dan para pemimpin bangsa baik umara maupun ulama adalah orang-orang yang paling bertanggung jawab di hadapan Tuhan berkaitan dengn maju-mundurnya Republik Tercinta Indonesia Raya.

Selamat dan Jaya Negeriku!

Merdeka!

 

Penulis: Ketum HPI Periode 2008-2009

 

Diskusi: (12) >> feed
perlu dipikirkan kita punya tv sendiri
Oleh: amin anggawi, September 06, 2008

yang anehnya lagi umat Islam indonesia jumlahnya kurang lebih mugkin 200 jutaan, tapi tidak memiliki tv muslim. tv-tv yang ada adalah tv-tv para pemilik modal yang tidak peduli umat islam mau baik mau tidak yang penting mereka dapat memjual produknya. karenanya tidak heran kalau banyak program televisi yang tidak mendidik umat Islam Indonesia. Coba tiap umat islam suruh andil 1000 rupiah tiap jum at. satu tahun kita bisa punya tv sendiri

perlu dipikirkan kita punya tv sendiri
Oleh: amin anggawi, September 06, 2008

yang anehnya lagi umat Islam indonesia jumlahnya kurang lebih mugkin 200 jutaan, tapi tidak memiliki tv muslim. tv-tv yang ada adalah tv-tv para pemilik modal yang tidak peduli umat islam mau baik mau tidak yang penting mereka dapat memjual produknya. karenanya tidak heran kalau banyak program televisi yang tidak mendidik umat Islam Indonesia. Coba tiap umat islam suruh andil 1000 rupiah tiap jum at. satu tahun kita bisa punya tv sendiri

perlu dipikirkan kita punya tv sendiri
Oleh: amin anggawi, September 06, 2008

yang anehnya lagi umat Islam indonesia jumlahnya kurang lebih mugkin 200 jutaan, tapi tidak memiliki tv muslim. tv-tv yang ada adalah tv-tv para pemilik modal yang tidak peduli umat islam mau baik mau tidak yang penting mereka dapat memjual produknya. karenanya tidak heran kalau banyak program televisi yang tidak mendidik umat Islam Indonesia. Coba tiap umat islam suruh andil 1000 rupiah tiap jum at. satu tahun kita bisa punya tv sendiri

refleksi inner beast
Oleh: tholib ali, September 06, 2008

Salam Sejahtera & Puji Tuhan,
Perilaku manusia tidak merupakan refleksi kecantikan atau kebobrokan dimensi batiniah (inner state. Jadi ga usah heran ketika manusia Indonesia banyak yang suka berita infotainment/gossip. Karena memang mereka 'suka' nge'gosip' dalam kehidupannya bahkan sudah menjadi kepuasan batin bila sudah bisa nge'gosip'...
Budaya 'wah' suka dipuji orang pun masih erat melekat dalam masyarakat.. maka ga heran jika pesta yang meriah bisa terlaksana karena memang itu merupakan kepuasan batin meraka yang 'punya'.. mgkin juga karena aji mumpung kaya... entah darimana hartanya diperoleh... Dah ga sempat lagi lihat sekelilingnya...
Semoga ini bisa berubah...masyarakat Indonesia mau dan mampu ber'revolusi' utuk bisa lbh baik tidak hanya sekedar ngikuti trend dan hawa nafsu..Amin

refleksi inner beast
Oleh: tholib ali, September 06, 2008

Salam Sejahtera & Puji Tuhan,
Perilaku manusia tidak merupakan refleksi kecantikan atau kebobrokan dimensi batiniah (inner state. Jadi ga usah heran ketika manusia Indonesia banyak yang suka berita infotainment/gossip. Karena memang mereka 'suka' nge'gosip' dalam kehidupannya bahkan sudah menjadi kepuasan batin bila sudah bisa nge'gosip'...
Budaya 'wah' suka dipuji orang pun masih erat melekat dalam masyarakat.. maka ga heran jika pesta yang meriah bisa terlaksana karena memang itu merupakan kepuasan batin meraka yang 'punya'.. mgkin juga karena aji mumpung kaya... entah darimana hartanya diperoleh... Dah ga sempat lagi lihat sekelilingnya...
Semoga ini bisa berubah...masyarakat Indonesia mau dan mampu ber'revolusi' utuk bisa lbh baik tidak hanya sekedar ngikuti trend dan hawa nafsu..Amin

refleksi inner beast
Oleh: tholib ali, September 06, 2008

Salam Sejahtera & Puji Tuhan,
Perilaku manusia tidak merupakan refleksi kecantikan atau kebobrokan dimensi batiniah (inner state. Jadi ga usah heran ketika manusia Indonesia banyak yang suka berita infotainment/gossip. Karena memang mereka 'suka' nge'gosip' dalam kehidupannya bahkan sudah menjadi kepuasan batin bila sudah bisa nge'gosip'...
Budaya 'wah' suka dipuji orang pun masih erat melekat dalam masyarakat.. maka ga heran jika pesta yang meriah bisa terlaksana karena memang itu merupakan kepuasan batin meraka yang 'punya'.. mgkin juga karena aji mumpung kaya... entah darimana hartanya diperoleh... Dah ga sempat lagi lihat sekelilingnya...
Semoga ini bisa berubah...masyarakat Indonesia mau dan mampu ber'revolusi' utuk bisa lbh baik tidak hanya sekedar ngikuti trend dan hawa nafsu..Amin

Salam Kenal
Oleh: Budi S, September 21, 2008

Kalau boleh ngasih masukan. Dulu tulisan di Islam Alternatif kok menarik ya, tapi sekarang ini kualitasnya tambah turun drastis. Bayangkan, apa tulisan di atas ini tidak sebaiknya di tayangkan di blog gratisan saja? Coba dech pihak redaksi memikirkan lagi. O ya..tampilannya juga gak menarik sama sekali lho...Maaf ini sekedar kritik dan saran.

Salam Kenal
Oleh: Budi S, September 21, 2008

Kalau boleh ngasih masukan. Dulu tulisan di Islam Alternatif kok menarik ya, tapi sekarang ini kualitasnya tambah turun drastis. Bayangkan, apa tulisan di atas ini tidak sebaiknya di tayangkan di blog gratisan saja? Coba dech pihak redaksi memikirkan lagi. O ya..tampilannya juga gak menarik sama sekali lho...Maaf ini sekedar kritik dan saran.

Salam Kenal
Oleh: Budi S, September 21, 2008

Kalau boleh ngasih masukan. Dulu tulisan di Islam Alternatif kok menarik ya, tapi sekarang ini kualitasnya tambah turun drastis. Bayangkan, apa tulisan di atas ini tidak sebaiknya di tayangkan di blog gratisan saja? Coba dech pihak redaksi memikirkan lagi. O ya..tampilannya juga gak menarik sama sekali lho...Maaf ini sekedar kritik dan saran.

Merenung
Oleh: zet hasan, October 05, 2008

merenung
Saya bersyukur semakin banyak orang yang perduli pada nasib Bangsa Indonesia....analisis yang anda kemukakan sangat tepat...akan tetapi ada lagi bahaya yang sangat mengancam Indonesia bahkan Islam.....Apa itu.....?ketika Kebenaran dan Islam dilakukan dengan cara kekerasan dan Agama dijadikan kendaraan politik (adanya Politisasi Agama)....Apa jadinya Apabila Tuhan Dijadikan Kendaraan Politik....Sudah waktu kita kembali pada perenungan kembali akan dasar Islam yang telah diberikan kepada Rasul saaw...Aklak (menghargai nilai-nilai kemanusiaan baik itu umat beragama atau yang tidak beragama)selama dia manusia...
saya senang dengan adanya situs ini ada ruang diskusi yang menghargai perbedaan

Merenung
Oleh: zet hasan, October 05, 2008

merenung
Saya bersyukur semakin banyak orang yang perduli pada nasib Bangsa Indonesia....analisis yang anda kemukakan sangat tepat...akan tetapi ada lagi bahaya yang sangat mengancam Indonesia bahkan Islam.....Apa itu.....?ketika Kebenaran dan Islam dilakukan dengan cara kekerasan dan Agama dijadikan kendaraan politik (adanya Politisasi Agama)....Apa jadinya Apabila Tuhan Dijadikan Kendaraan Politik....Sudah waktu kita kembali pada perenungan kembali akan dasar Islam yang telah diberikan kepada Rasul saaw...Aklak (menghargai nilai-nilai kemanusiaan baik itu umat beragama atau yang tidak beragama)selama dia manusia...
saya senang dengan adanya situs ini ada ruang diskusi yang menghargai perbedaan

Merenung
Oleh: zet hasan, October 05, 2008

merenung
Saya bersyukur semakin banyak orang yang perduli pada nasib Bangsa Indonesia....analisis yang anda kemukakan sangat tepat...akan tetapi ada lagi bahaya yang sangat mengancam Indonesia bahkan Islam.....Apa itu.....?ketika Kebenaran dan Islam dilakukan dengan cara kekerasan dan Agama dijadikan kendaraan politik (adanya Politisasi Agama)....Apa jadinya Apabila Tuhan Dijadikan Kendaraan Politik....Sudah waktu kita kembali pada perenungan kembali akan dasar Islam yang telah diberikan kepada Rasul saaw...Aklak (menghargai nilai-nilai kemanusiaan baik itu umat beragama atau yang tidak beragama)selama dia manusia...
saya senang dengan adanya situs ini ada ruang diskusi yang menghargai perbedaan

Aturan Diskusi: Seluruh komentar yang masuk akan melalui proses seleksi dan pengeditan terlebih dahulu di meja redaksi sebelum kami tampilkan di Situs. Komentar yang ditulis dengan bahasa yang baik, sopan, tidak bersifat adu domba, menghujat dan membangun lebih mendapat perhatian redaksi, sehingga komentar tersebut akan dimuat di situs lebih besar. Setiap komentar bisa di komentari secara imbal balik. Redaksi berhak menolak setiap tanggapan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Selamat berdiskusi!.
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Tulis Kode:


busy
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >