Tamu

Saat ini ada 3 pengunjung yang online
Anggota: 394
Berita: 175
WebLinks: 54
Pengunjung: 564347

Daftar Anggota






Saya lupa passwordnya?
Belum punya Username & Password? Daftar Baru!
Ilmu Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Minggu, 18 Oktober 2009
Oleh Ibnu Husein al Hadi

Sesuai  dengan fitrahnya yang selalu ingin mendapatkan yang terbaik untuk dirinya dan selalu ingin bersama kebenaran kapanpun dan dimanapun ia berada, manusia dalam mengarungi kehidupannya selalu berfikir dan merenungi fenomena-fenomena yang terjadi di planet bumi ini. Proses tersebut menumbuhkan benih-benih pemikiran yang dapat membuahkan sesuatu yang bernama ilmu. Tetapi yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, apakah ilmu itu sebenarnya? Lebih dalamnya lagi, apakah hakikat ilmu itu sebenarnya? Kemudian bagaimanakah cara untuk mendapatkan ilmu tersebut? dan apa konsekuensi yang muncul setelah mendapatkan ilmu tersebut? Apa yang akan dicapai manusia dengan ilmu yang telah diperolehnya? dan pertanyaan terakhir adalah, buah ilmu yang sebenarnya itu apa? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang selalu dicari jawabannya oleh setiap manusia.


Ilmu dan hakikat ilmu
Jikalau kita ingin mengetahui sesuatu, maka yang pertama kali harus kita lakukan  adalah menganalisa objek yang ingin kita ketahui tersebut, mulai dari keberadaannya, sifat-sifat yang disandangnya, keistimewaan dan kekurangannya, dan begitu seterusnya sampai pada pertanyaan terakhir apakah buah yang dapat dihasilkan oleh pengetahuan terhadap objek tersebut. Adalah sesuatu yang pasti bahwasanya hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah dan dapat di lakukan oleh setiap manusia, hanya mereka yang mencintai pengetahuan serta mau berjalan seiring dengan kodrat yang ditentukan oleh Yang Maha Kuasa pada dirinya, dan yang mau menggerakkan fasilitas kodrat tersebut sebagai jalan untuk mencapai hakikat sajalah yang dapat melakukannya, sehingga pada akhirnya proses tersebut dapat mengantarkannya kepada kebahagian dunia dan akhiratnya kelak.

Kita beranjak dari pertanyaan yang pertama, apakah ilmu itu, dengan kata lain apakah hakikat ilmu itu? Untuk menjawab pertanyaan pertama ini, kita membutuhkan kepada beberapa analisa masalah. Jika kita menengok kembali peradaban manusia mulai dari Nabi Adam as hingga sekarang, maka kita akan menemukan begitu banyak persepektif tentang ilmu dari para ilmuwan yang hidup sepanjang sejarah.

Terlepas dari siapakah ilmuwan tersebut, sebagian mereka mengungkapkan bahwa ilmu adalah kebisaan seseorang untuk melakukan suatu hal, sebagian yang lain menyatakan bahwa ilmu adalah suatu kekuatan yang dapat mengantarkan manusia pada tujuannya dan sebagian lagi meyakini bahwa ilmu adalah ruh yang dapat menghidupkan manusia. Masih banyak lagi persepektif lainnya tentang definisi ilmu tersebut, sampai pada masa kejayaan Yunani kuno, di mana kejayaan tersebut berhasil menembus dunia Islam yang pada akhirnya melahirkan tokoh-tokoh filosof ternama.

Apabila kita masuk kepada wilayah filosofis, yang mana akar-akar pemikirannya banyak bergantung pada akal murni (Logical Knowledge), maka di situpun kita akan menemukan berbagai persepektif dalam mendefinisikan ilmu yang satu sama lain berbeda. Namun sampai sekarang ini kalau kita kembali merujuk pada buku-buku logika, maka kita akan menemukan definisi yang kurang lebih baku tentang ilmu, definisi tersebut mengatakan ilmu yaitu hadirnya suatu gambaran ke dalam benak manusia, akan tetapi definisi ini masih bisa kita diskusikan dan kita pertanyakan kembali, apakah gambaran yang masuk ke dalam benak manusia itu merupakan hakikat ilmu itu sendiri, atau hanya sekedar bentuk dzhohirinya ilmu saja?

Kalu kita melihat literatur khazanah Islam, maka di situ kita akan menemukan bahwa Islam itu sendiri membagi ilmu menjadi dua bagian, yaitu ada hakikat (asli), dengan kata lain dzat ilmu itu sendiri, dan ada pula dzohir atupun far'i (cabang), nah jika yang dimaksud hadirnya gambaran sesuatu di atas tadi adalah hakikat ilmu itu sendiri, maka konsekuensinya adalah gambaran yang masuk ke benak tadi akan membawa manusia tersebut kepada kesempurnaan maknawi, yang mana kesempurnaan tersebut dapat diaplikasikan di berbagai sisi kehidupan manusia. Akan tetapi kita menemukan begitu banyak maklumat yang masuk ke benak manusia, yang saking  banyaknya sampai-sampai tidak dapat kita hitung dengan angka nominal, tetapi gambaran (ilmu) tersebut tidak bisa mengantarkan manusia kepada kesempurnaan, bahkan sebaliknya gambaran (ilmu) tersebut justru mengantarkan manusia pada jurang kehancuran.
 
Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa gambaran yang masuk ke dalam benak manusia bukanlah hakikat ataupun dzat ilmu,  melainkan bentuk dzohiri ataupun kulit ilmu  itu sendiri, karena Islam menjelaskan bahwa ilmu memiliki jauhar (substansi), dan jauhar tersebutlah yang memberi arti pada ilmu sehingga manusia dengan ilmunya dapat menjadi manusia seutuhnya yang dapat berbakti pada sesama manusia dan meyampaikannya pada puncak kesempurnaan. Apabila jauhar tadi hilang, maka ilmu tersebut tidaklah berarti lagi dan tidak ada bedanya dengan kebodohan, sebagaimana Imam Ali (as) menjelaskan hal ini dalam kata mutiara beliau:

"Berapa banyak orang alim, akan tetapi kebodohannya telah membunuhnya dan ilmu yang bersamanya tidaklah bermanfaat sama sekali".

Dari pernyataan beliau bisa kita ambil kesimpulan bahwa ilmu adalah sesuatu dan hakikat ilmu sesuatu yang lain. Akan tetapi apabila manusia dapat mengaplikasikan kulit atau gambaran ilmu tersebut dengan baik maka melalui sebuah proses maknawiah, manusia tersebut akan sampai kepada hakikat ilmu, sekarang apa sebenarnya hakikat ilmu itu? Bagaimana mungkin seseorang yang sudah menuntut ilmu puluhan tahun bahkan seumur hidup tapi yang di dapat hanya kulitnya dan sama sekali tidak pernah merasakan intisarinya!

Hakikat dan buah ilmu dalam perspektif Islam
Untuk mendapatkan definisi ilmu yang hakiki, maka kita harus merujuk pada Sohib hakikat yang mengetahui dzohir dan batinnya segala sesuatu, yang ilmunya tidak akan pernah salah dan tidak terbatas, karena jika kita mengkaji ilmu mantiq (logika) kita akan menemukan bahwa sampai saat ini bahkan sampai hari kiamat nanti, tidak ada satu manusiapun baik ia pakar logika ataupun filosof yang dapat mendefinisikan sesuatu dengan definisi yang hakiki kecuali para manusia suci yang merupakan pengejawantahan ilmu Ilahi. Hal ini tidak lain dikarenakan keterbatasan manusia dalam pengetahuan, oleh karena itulah mereka membuat suatu konsep dengan berbagai penjelasan dan perinciannya yang sesuai dengan daya faham yang mereka miliki dan tidak lebih dari itu! Jika kita kembali pada nas (baik itu ayat ataupun riwayat), maka kita akan menemukan definisi hakiki dari ilmu itu sendiri.

Kita sering mendengar hadis dari Rasulullah saww yang mana beliau bersabda:  "Ilmu adalah cahaya yang Allah swt letakkan di hati hamba-Nya yang Ia iginkan."

Jadi hakikat ilmu menurut paling sempurnanya manusia di alam jagat raya ini adalah sebuah cahaya dan bukan gambaran sesuatu yang masuk ke dalam benak manusia, sebagimana kita ketahui bahwa cahaya adalah suatu zat yang suci, dan hal yang suci tidak akan bertemu dengan dengan sesuatu yang kotor, oleh karena itu dalam proses penerimaan cahaya diperlukan tata cara yang khusus dan tidak semua orang mempunyai potensi untuk hal itu.
 
Adapun gambaran-gambaran yang masuk ke dalam benak manusia merupakan salah satu perantara untuk menerima cahaya tersebut, yang kemudian gambaran-gambaran tersebut direnungkan dan difahami serta diamalkan dengan baik dan ikhlas sehingga pada akhirnya sampai pada cahaya itu sendiri, jikalau gambaran-gambaran yang masuk ke benak manusia adalah hakikat ilmu itu sendiri maka kita tidak akan menemukan kefasadan (kerusakan) serta kehancuran di muka bumi ini, akan tetapi sangat disayangkan bahwa mayoritas manusia hanya bisa mengambil gambaran ilmu tersebut tanpa bisa merealisasikannya hingga menjadi cahaya kesempurnaan.

Dari sinilah kita harus bisa menerima realitas dan janganlah kita terkejut jikalau kita menemukan manusia yang bertahun-tahun menuntut ilmu, bahkan sampai orang terkagum-kagum dengan hasil penemuannya, dan mereka mampu menciptakan berbagai teori yang manusia di zamannya tidak dapat mencernanya dengan baik, akan tetapi perilakunya tidak sesuai dengan norma-norma kemanusian, dengan berbagai macam teori dan konsep yang ia ketahui ia berani melanggar ketetapan-ketetapan agama, bahkan sampai berani mengorbankan status sosialnya hanya karena ingin mencapai tujuan dan manfaat pribadinya.

Kondisi yang lebih memprihatinkan kita adalah, realitas tersebut justru menimpa mereka yang memiliki status sebagai pelajar agama, mereka yang memiliki peran begitu besar untuk membangun kondisi spiritualitas bangsa dan negara, kehadiran mereka sebagai pelita-pelita yang dapat menerangi kegelapan, kemanapun mereka pergi maka di situ akan terpancarkan cahaya sehingga manusia yang ada di sekitarnya tidak lagi merasa kegelapan dan pada akhirnya mereka dapat menyampaikan manusia yang berada di sekelilingnya tersebut pada tujuan mereka.

Akan tetapi apa daya dan upaya kita, ternyata realitas berbicara lain, kita melihat dan menemukan dengan mata kepala kita sendiri bahwa begitu banyak orang-orang yang mengaku sebagai pecinta ilmu dan berstatus sebagai pewaris para Nabi dalam menyampaikan misi-misi suci Ilahi, ternyata telah menyelewengkan fungsi ilmu itu sendiri. Mereka mempelajari khazanah ilmu-ilmu Islam akan tetapi mereka tidak mengamalkan apa yang mereka dapatkan selama masa belajarnya. Mereka memperdalam ilmu tapi bukan untuk mencapai keridhoan Ilahi melainkan demi mencapai tujuan dan manfaat pribadi.
 
Mereka pintar dan dapat mengagumkan setiap orang dalam berargumen akan tetapi pada saat yang sama mereka melupakan jati diri mereka, karena kepintaran mereka bukan semata-mata untuk membimbing orang lain menuju ke jalan Allah melainkan mereka ingin mendapatkan posisi yang sesuai dengan kecerdasan yang mereka miliki. Jika Islam mengajarkan untuk tidak memandang kemuliaan manusia hanya dari banyak dan lamanya ia belajar, maka  hari ini realitas itu telah barubah, mereka mengukur kemuliaan manusia hanya dari kuantitas dan lamanya ia belajar, walaupun sering sekali kita menemukan orang-orang yang banyak dan lama belajar cenderung meremehkan orang lain dan menganggap orang lain tidak tahu apa-apa dan menganggap merekalah yang paling bisa.

Mereka tidak lagi memperhatikan ucapan dan garak gerik mereka yang bertentangan dengan akhlak islami, hal inilah yang dari jauh-jauh hari telah diperingatkan oleh Imam Shodiq as:
" Bukanlah ilmu itu dikarenakan banyaknya belajar, sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang mana Allah swt meletakkannya di dalam hati hamba-Nya yang Ia inginkan".

Hal ini merupakan khayalan orang-orang yang menganggap bahwa mereka sudah berilmu, padahal mereka telah lalai akan hakikat dan buahnya ilmu itu sendiri. Ilmu hakiki tidaklah membuahkan sesuatu yang lain kecuali rasa takut pada Allah swt, sebagimana Allah menerangkan dalam Al-qur'an bahwa buah dari ilmu yang hakiki adalah rasa takut kepada-Nya
" Sesungguhnya hanya dari hamba-hamba-Nya yang berilmu yang takut kepada-Nya"(Al-Fathir:28)

Dan jika kita merujuk kembali kepada nas, maka di situ makna hakikat ilmu dan siapa saja yang menyandang hakikat tersebut, serta bagaimana kriteria orang-orang yang menyandang ilmu hakiki akan semakin jelas, sehingga kita bisa membedakan mana orang yang benar-benar berilmu dengan orang yang berkhayal bahwa ia berilmu. Wahai para pecinta ilmu! Marilah kita merenungi kembali apa sebenarnya hakikat ilmu itu, sehingga kita ataupun mereka yang mengaku pecinta ilmu dan pecinta kebenaran tidak terjerumus ke dalam jurang kehancuran yang akibat dari semua itu adalah murka Allah swt, Rasul-Nya dan para penerusnya yang di sucikan oleh Allah swt dari segala dosa dan kesalahan.[]

Penulis adalah kandidat sarjana pada jurusan Ulum al Qur’an Universitas Imam Khomeini Qom Iran

Diskusi: (2) >> feed
...
Oleh: awang, Januari 10, 2010

Bagus.. numpang kopi ya pak artikelnya..

...
Oleh: yazdi, Januari 16, 2010

sungguh,, ilmu yang dicari manusia yang berakal adalah yang menerangi diri pencarinya dan manusia di sekitarnya. hanya cahaya Allah swt yang dapat menerangi manusia. jika orang yang berilmu itu pergi maka merugilah manusia di sekitarnya bahkan seluruh umat manusia

Aturan Diskusi: Seluruh komentar yang masuk akan melalui proses seleksi dan pengeditan terlebih dahulu di meja redaksi sebelum kami tampilkan di Situs. Komentar yang ditulis dengan bahasa yang baik, sopan, tidak bersifat adu domba, menghujat dan membangun lebih mendapat perhatian redaksi, sehingga komentar tersebut akan dimuat di situs lebih besar. Setiap komentar bisa di komentari secara imbal balik. Redaksi berhak menolak setiap tanggapan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Selamat berdiskusi!.
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Tulis Kode:


busy
 
Selanjutnya >
 

Berita

Cache Directory Unwriteable
Advertisement