Sejarah & Tokoh
Menangis untuk Imam Husein: Budaya Kaum Surga | Menangis untuk Imam Husein: Budaya Kaum Surga |
|
|
|
| Rabu, 06 Januari 2010 | |||
|
Pandangan Ahlussunah Wal Jamaah
Pendahuluan Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang besar bagi manusia, nikmat yang tak terbatas dan tak bisa dijangkau oleh pengetahuan manusia yang terbatas. Kenikmatan tersebut bisa berupa kenikmatan materi maupun ruhani. Luapan perasaan sedih atau senang misalnya, dan perasaan cinta adalah salah satu contoh dari kenikmatan tersebut. Betapa indahnya karena kita masih bisa merasa senang ketika mendapatkan berita yang menggembirakan, begitu juga betapa indahnya ketika hati kita masih bisa hanyut dalam kesedihan dikarenakan telah datang berita yang menyayat hati dan sanubari.Tak bisa kita bayangkan apabila kita sedikitpun tidak bisa merasakan kesedihan, sungguh malang keadaan kita kala itu. Pada saat itu hati kita menjadi seperti batu yang tak bisa merasakan kesedihan dan mata kita seperti padang tandus yang tak bisa mencucurkan air mata. Sungguh Tuhan telah memberikan kenikmatan ini untuk sekalian manusia, bukan tanpa tujuan, karena Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang sia-sia, kenikmatan tersebut pasti memiliki manfaat bagi manusia, baik itu manfaat psikologis, maupun manfaat lainnya seperti menumbuhkan rasa simpatik dan sepenanggungan di antara sesama manusia, apalagi kita bersedih meratapi manusia yang mulia. Sehingga karena hal ini adalah karakteristik setiap manusia normal, maka ia senantiasa ada pada setiap zaman dan pada setiap tempat. Oleh karena itu kita bisa menemukan titik persamaan di antara keberagaman yang ada pada masyarakat manusia ini dan tidak terbatas atau dibatasi dengan sekat keyakinan dan mazhab tertentu. Pembantaian Karbala bukanlah berita baru bagi kita. Peristiwa tersebut selalu menyayat hati seluruh manusia yang memiliki kepedulian akan kemuliaan, penghormatan akan kesucian, dan kecintaan akan keRasulan. Peristiwa di padang Karbala bukan hanya musibah bagi kaum Syiah saja, –di mana perhatian yang khusus dan serius terhadap Karbala adalah salah satu corong pembuka kebenaran dan menerangi keyakinan akidah, serta ajarannya- akan tetapi sebenarnya peristiwa itu juga merupakan musibah bagi seluruh manusia di dunia khususnya muslimin. Tak ada seorangpun -yang masih memiliki akal sehat- yang membenarkan pembantaian tidak berprikemanusiaan tersebut. Hal ini adalah sesuatu yang sangat jelas, karena tak ada seorangpun yang tega membiarkan cucunya sendiri terbunuh dan dihinakan oleh orang lain, begitu juga kita sebagai umat Islam yang tak mungkin rela dan acuh tak acuh melihat dan mendengar cucu Rasulullah Saww. -yang merupakan bapak seluruh kaum muslimin- dibantai. Tak ada satupun argumentasi rasional atau argumentasi Quran dan hadis yang membenarkan pembantaian tersebut, bahkan perasaan kita saja bisa menyalahkan perlakuan keji tersebut. Dalil-dalil mengenai tangisan untuk Imam Husein dan anjuran untuk melakukannya sebagai bukti kesedihan kita terdapat dalam berbagai sumber kitab hadis dan sejarah yang ada baik di kalangan Suni ataupun di Syiah. Dan di sini saya mencoba menguraikan bagaimana Rasulullah Saww. mengadakan majelis Karbala tersebut seperti yang dikutip dalam kitab-kitab ahlussunnah. Sehingga diharapkan majelis Karbala menjadi pengingat akan peristiwa yang menyedihkan umat Islam pada umumnya, dan menjadi pemersatu bagi umat Islam dalam membela kebenaran –seperti yang dilakukan oleh Imam Husein- dan melawan segala kezaliman. Selain itu majelis karbala bisa menjadi momen bersama dalam mempelajari sejarah dan menegakkan kebenaran sebagai bagian dari tugas bersama umat Islam tanpa dibatasi oleh sekat-sekat kemazhaban. Menangis adalah Sunnah Rasul Saww Sedih dan bersedih serta meratapi orang-orang dekat dan mulia merupakan perbuatan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saww, seperti yang ditulis di berbagai kitab hadis (Suni maupun Syiah). Seperti halnya Rasulullah Saww pernah menangisi dan meratapi putranya Ibrahim, seperti yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf , dia berkata : “Dan Anda Ya.. Rasulullah ?” dan beliau bersabda : “Wahai Ibn ‘Auf sesungguhnya (tangisan itu) adalah rahmah” dalam sabda lainnya beliau menjelaskan : إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا ، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ “Sesungguhnya mata itu mencucurkan air mata, dan hati bersedih, dan kita tidak mengatakan (memerintahkan/meyakini) kecuali apa-apa yang menjadi keridhoan Allah, dan sesungguhnya aku adalah orang yang bersedih dikarenakan perpisahanku dengan Ibrahim (putraku).”1 Di dalam hadis tersebut bisa kita pahami bahwa tangisan untuk orang yang dikasihinya adalah sebuah kebaikan dan rahmah. Dan juga ketika salah satu dari putri kesayangan beliau meninggal, Rasul Saww meluapkan isi hatinya dengan menangis seperti yang ditulis dalam Bukhari dan Muslim2 . Ketika itu Rasulullah Saww mencucurkan air matanya dan berkatalah Sa’ad padanya : Apakah itu Ya.. Rasulullah? هَذِهِ رَحْمَةٌ جَعَلَهَا اللَّهُ فِى قُلُوبِ عِبَادِهِ ، وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ “Air mata ini adalah rahmah, Allah telah menjadikan di dalam hati hambanya (kesedihan), dan sesungguhnya Allah merahmati kasih sayang pada hambanya”. Meratapi kesedihan orang-orang mulia bukan hanya fitrah manusia akan tetapi anjuran juga dari pihak Rasulullah Saww bagi mukminin dan mukminat seperti yang tertulis dalam musnad Ahmad bin Hanbal3 , bahwa ketika Rasulullah Saww kembali dari perang Uhud dan beliau melihat para wanita Anshar menangisi suaminya yang terbunuh di perang tersebut, beliau bersabda: وَلَكِنْ حَمْزَةُ لَا بَوَاكِيَ لَهُ [Akan tetapi tak ada satu tangisanpun bagi hamzah (paman Rasul Saww yang setia dalam setiap perjuangan)] setelah itu mereka terdiam kemudian mereka menangis lagi, dan tangisan itu adalah untuk meratapi hamzah (bukan yang lainnya). Kalimat وَلَكِنْ حَمْزَةُ لَا بَوَاكِيَ لَهُ juga memiliki arti yang lain “jangan lupa untuk menangisi Hamzah juga” dan di sini mengandung makna anjuran untuk menangisi pahlawan Islam serta celaan bagi yang meninggalkannya. Seperti halnya tangisan Sayyidah Zahra as atas kematian Ja’far (manusia mulia) , sehingga Nabi Saww bersabda4 : على مثل جعفر فلتبك البواكي Disini kita bisa melihat kemuliaan Ja’far sehingga Sayyidah Zahra as putri Rasulpun menangisinya. Bisa kita lihat juga pada Musnad Ahmad, di mana pada saat itu para wanita menangisi kematian putri Rasulullah Saww Raqiah, kemudian datanglah Umar dan memukul mereka dengan cemeti lalu Rasul melarangnya dan mengusirnya setelah itu Rasul Saww bersabda : مَهْمَا يَكُنْ مِنَ الْقَلْبِ وَالْعَيْنِ فَمِنَ اللَّهِ وَالرَّحْمَةِ “Dan Apa-apa yang terjadi (gejolak) pada hati dan mata hal itu adalah rahmat dari Allah Swt (maka janganlah dilarang kesedihan mereka)” setelah itu Nabi Saww pun mengusap air mata Fatimah as (dengan baju sucinya) sebagai rahmah baginya.5 Seperti yang kita tahu bahwa tangisan tidak hanya terjadi pada manusia biasa, akan tetapi terjadi pula pada Rasul Saww. dan keluarganya, bahkan terjadi pula pada para nabi-nabi sebelumnya. Bisa kita lihat pada kisah tangisan Nabi Ya’qub ketika hilangnya putra kesayangannya Nabi Yusuf as6 bahkan dalam tafsir Al-Kasysyaaf disebutkan bahwa menangisnya Nabi Ya’qub as selama 80 tahun lamanya, dan air matanya sampai kering7, dan matanya menjadi buta. Dalil Penolakan atas Pelarangan Ratapan Sebagian dalil yang dikutip dari kitab-kitab hadis ahlussunnah yang berkenaan dengan pelarangan tangisan untuk orang mati atau ratapan padanya seperti terdapat di dalam Shahih Bukhari dan Muslim yaitu : إِنَّ الْمَيِّت لَيُعَذِّب بِبُكَاءِ أَهْله عَلَيْهِ sebagian mengatakan بِبَعْضِ بُكَاء أَهْله عَلَيْهِ , بِبُكَاءِ الْحَيّ , يُعَذَّب فِي قَبْره بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ, مَنْ يَبْكِ عَلَيْهِ يُعَذَّب , yang artinya: Sesungguhnya orang yang mati akan disiksa dengan tangisan keluarganya. Akan tetapi hal ini tertolak dengan berbagai macam dalil akli maupun naqli : 1. Al-Fadhil an Nawawi dalam syarah Shahih Muslim8 mengatakan bahwa semua riwayat atas pelarangan tangisan terhadap orang mati adalah bersumber dari Umar bin Khatab dan putranya Abdullah (bukan bersumber dari Rasul). Begitu juga beliau mengatakan bahwa ‘Aisyah istri nabipun menolak fatwa mereka berdua (Umar dan putranya) mengenai pelarangan tangisan terhadap orang mati dan mengatakan bahwa mereka melakukan kekeliruan dan kesalahan dalam menyebutkan hadis. ‘Aisyah juga mengatakan bahwa tak ada hubungannya antara tangisan dan dosa sang mayit, dan dia berdalil dengan ayat Al-Quran Al-An’am ayat 164 : ا وَلا تَزِرُ وازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرى , artinya “dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” 9 2. Di dalam Tarikh Tabhari disanadkan dari Sa’id dikatakan bahwa 10: Ketika wafatnyaAbu Bakar, ‘Aisyah meratapi dan menangisi kepergian ayahnya itu, setelah itu datanglah Umar dan melarang mereka (para wanita) yang ikut menangisi kewafatan Abu Bakar. Mereka tidak mempedulikannya lalu mereka berhenti, lalu berkatalah Umar kepada Hisyam Ibnu Al-Walid :” Masuklah (Ibnu Hisyam) dan keluarlah (mengadapku) Putri Abi Qahafah”. Dan ‘Aisyah Berkata kepada Hisyam setelah mendengar ucapan Umar :”Sesugguhnya saya melarang kamu memasuki rumahku”, Lalu berkata Umar kepada Hisyam “ Masuklah saya mengizinkanmu (untuk masuk)”, lalu masuklah Hisyam dan keluarlah Ummu Farwah saudara Abu Bakar menuju Umar, dan memukulnya, berkali-kali, dan tercerai-berailah orang-orang yang menangisinya itu. Dan hal ini bertolak belakang dengan taqrir Nabi Saww ketika wanita Anshar menangisi para suaminya yang syahid di perang Uhud dan Rasul Saww bersabda : وَلَكِنْ حَمْزَةُ لَا بَوَاكِيَ لَهُ dan ketika meninggalnya Ja’far serta menangisnya para wanita termasuk sayyidah Zahra as dengan sabdanya : على مثل جعفر فلتبك البواكي disertai dengan ، وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ ketika meninggalnya salah satu putri kesayangannya. 3. Jikalau ratapan terhadap orang mati adalah perbuatan yang haram, maka kenapa Umar membolehkan wanita-wanita bani Makhzum untuk meratapi dan menangisi Khalid ibnu Al-Walid?11 Dan juga ketika wafatnya Nu’man , Umar meletakkan tangannya di atas kepalanya dan menangisinya.12 Karbala di Zaman Rasulullah Saww Rasulullah bukan hanya menangisi putra, putri atau orang-orang yang mulia akan tetapi Rasul Saww juga menangisi cucu kesayangannya Al-Husein as. Dan tangisan ini merupakan perkara yang khusus, dikarenakan berita kesyahidan Al-Husein as –yang belum terjadi pada zaman Rasul Saww hidup- disampaikan langsung oleh Jibril as, dan pada saat itu Rasul, keluarganya serta sabahat-sahabatnya ikut menangis meratapi kesyahidan cucu Nabi yang belum terjadi tersebut. Dan hal ini bisa kita katakan sebagai tangisan yang mengandung makna khusus bagi umat setelahnya. Karena tangisan itu dilakukan sendiri oleh Nabi Saww, keluarga dan sahabatnya. Bisa kita lihat dalam kitab-kita ahlussunnah, misalnya Ahmad bin Hambal13 dari hadis Imam Ali as yang disanadkan sampai ke Abdullah Ibnu Nujayin dari ayahnya, dan dia bersama Imam Ali as, ketika itu dihadapan Imam Ali as adalah nainawa (Karbala) dan Imam as sedang menuju ke tepi sungai furat , Imam bersabda : اصْبِرْ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ اصْبِرْ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ بِشَطِّ الْفُرَاتِ , “Bersabarlah Aba Abdillah -Al-Husein as- bersabarlah Aba Abdillah di tepi sungai Furat”, berkata perawi : aku berkata : Apakah itu ? bersabda Imam as : “Di suatu hari aku menemui Rasulullah Saww dan Rasul Saww mencucurkan air matanya, aku -Imam Ali as- bertanya, Wahai Nabi Allah, Apa yang menyebabkan air matamu tercucur? bersabda nabi Saww : Jibril as berkata kepadaku, bahwa putraku Al-Husein akan terbunuh di tepi sungai Furat, lalu Rasul Saww bertanya: Apakah engkau mencium tanahnya (karbala)? Imam Ali as menjawab: betul, lalu tangannya menggenggam tanah (karbala) dan memberikannya kepadaku lalu aku tak pernah menangis seperti pada waktu itu.13 Dengan hadis yang serupa ditulis pada kitab Shawa’iq Al-Muhriqah liibni Hajar, fashl ke-3 bab ke-12. Dan ketika Imam Ali as melewati kuburan Al-Husein as, bersabda : “Di sinilah tempat berhentinya rombongan Al-Husein, keluarga serta sahabatnya dan di sini pulalah tempat meninggalnya (syahidnya mereka), dan di sini pulalah tempat memancar dan mengalirnya darah-darah mereka, dan para pemuda dari keluarga Muhammad Saww. terbunuh di padang ini , dan menangislah seluruh langit dan bumi”14 Meriwayatkan pula As-Syafi’i di dalam bab indzar An-nabi Saww dan selanjutnya di dalam kitabnya a’laamu an-nubuwwah dari ‘Urwah dari ‘Aisyah berkata : ketika itu Al-Husein menemui kakeknya Rasul Saww dan datang Jibril menyampaikan kabar kepada Rasul Saww : “sesungguhnya ummatmu akan tercerai berai setelahmu dan mereka akan membunuh putramu yang ini (Al-Husein as), peristiwa tersebut akan terjadi setelah engkau meninggal dunia, kemudian Jibril as menjulurkan tangannya dan memberikan tanah putih, dan bersabda : di tanah ini lah akan terbunuh putramu (Al-Husein as).15 Dan nama tanah itu adalah tanah “الطف “(Karbala yakni di tepi sungai). Setelah itu ‘Aisyah melanjutkan : setelah Jibril as pergi lalu keluarlah Rasul Saww menuju sahabat-sahabatnya dengan membawa tanah di tangannya, pada saat itu yang hadir Abu Bakar, Umar, Ali, Hudzaifah, Utsman, Abu Dzar, dan pada waktu itu Rasulullan Saww dalam keadaan menangis, dan bertanyalah para sahabat : Apa yang kau tangisi wahai Rasulullah Saww? , dan bersabda Rasul : “Jibril telah mengabarkan kepadaku bahwa putraku Al-Husein akan terbunuh setelah kewafatanku dengan tanah yang bernama” الطف “(Karbala-yakni di tepi sungai), dan Jibril datang memberiku tanah ini dan mengabarkanku bahwa pada tanah itulah tempat syahidnya. Bahkan di halaman setelahnya diceritakan bahwa Rasul mengisyaratkan kepada ‘Aisyah bahwa ketika Al-Husein terbunuhdi Karbala maka tanah itu akan menjadi merah16 At-Tirmidzi juga menuliskan hadis tersebut dalam sunannya17 bahwa pada saat itu Ummu Salamah ra melihat Nabi Saww menangis di mana pada kepala dan jenggotnya terdapat tanah dan bersabda : “Al-Husein akan terbunuh mengenaskan secara keji dan itu tak pernah terbayangkan sebelumnya” Tidak hanya sampai di situ, di dalam kitab ahlussunnah pun diceritakan waktu kejadian yang lebih detil seperti yang ditulis dalam kitab As-Sawaiq dari Ibnu Abbas.18 Oleh sebab itu hadis mengenai kejadian Karbala dan ratapan ataupun tangisan Rasulullah Saww merupakan hadis mutawatir yang diriwayatkan dalam berbagai macam kitab hadis, baik itu tangisan Rasulullah ketika hari kelahiran Al-Husein, hari ke-7 dari kelahirannya, setelahnya di rumah Fatimah Az-Zahra as, di kamarnya, di mimbar, di sebagian safarnya, kadang-kadang menangis dalam kesendirian, kadang kala pula bersertanya Jibril, Imam Ali as dan Fatimah as, dan juga sahabat nabi. Sering nabi mencium Al-Husein di dada atasnya lalu menangis, dan menciumnya di kedua bibirnya lalu menangis, ketika melihat Al-Husein bergembira Rasul Saww menangis, dan ketika melihat Al-Husein bersedih Rasulpun menangis. Begitu bersedihnya Rasululullah pada masa itu seakan-akan hari Asyura dan peristiwa Karbala telah terjadi. Dari sinilah kita bisa melihat bahwa menangisi Al-Husein as di hari-hari Asyura merupakan sunnah Nabi yang dianjurkan.19 Mengapa Harus Menangisi Al-Husein? Kita sudah melihat sekilas bahwa Nabi Saww adalah orang yang pertama kali mengadakan upacara kesedihan atas kesyahidan cucunya Al-Husein as. Tentunya tangisan Nabi bukanlah sembarang tangisan, tangisan Rasul Saww juga bukan disebabkan hanya karena adanya hubungan nasab dan darah dengan Al-Husein sebagai cucu tersayangnya, akan tetapi mengandung makna yang lebih tinggi dari sekedar tangisan tersebut. Sebab seperti yang telah kita ketahui bahwa Nabi tidak pernah melakukan sesuatu, membiarkan apa yang dilihat dan didengarnya –yang salah satunya adalah tangisan atau kegembiraan- selain dari pada izin dan keridhoan Allah Swt, seperti yang difirmankan Allah Swt: وَما يَنْطِقُ عَنِ الْهَوى “dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya”20 إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحى “Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”21 ما كَذَبَ الْفُؤادُ ما رَأى “Hatinya (yang bersih) tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya”22 لَقَدْ كانَ لَكُمْ في رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ “Sesungguhnya pada (diri) Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagimu”23 Oleh sebab itu tangisan Rasul Saww terhadap Al-Husein memiliki nilai lain yang lebih tinggi dari hanya sekedar hubungan kekeluargaan kakek dan cucu, tetapi tangisan yang mengandung nilai risalah untuk agama Islam di masa yang akan datang. Risalah tersebut bisa kita sandingkan kepada tangisan Rasulullah Saww terhadap Al-Husein disebabkan posisi Al-Husein as yang memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan Allah, Rasul-Nya dan umatnya. Hal ini bisa kita kaji dalam beberapa sumber kitab ahlussunnah : A. Tafsir Qur’an Ulama Ahlusunnah 1. Al-Husein salah seorang dari ahlul bait nabi yang disucikan Allah Swt sehingga jauh daripadanya kenistaan, kekotoran dan dosa: Ayat Al-Tathir, Qs 33:33, “Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan (segala) kenistaan dari kalian, hai ahlulbait, dan mensucikan kalian sebersih-bersihnya”, Ketika ayat itu turun Rasul memasukkan Ali, Fatimah, Hasan dan Huhsein ke dalam jubahnya, terkenal pula dengan hadis Kisa yaitu doa nabi kapada ahlul bait. Jadi yang dimaksud ahlulbait itu adalah Ali, Fatimah, Hasan, Husein.24 2. Al-Husein adalah salah satu Al-Qurba (Keluarga dekat) yang dimana Allah dan Rasul Saww sendiri yang mewajibkan kecintaan terhadap mereka seperti yang tertulis pada firman Tuhan. Ayat al-Muwaddah: Qs:26:23:” “Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu suatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada kerabat(ku) (Qurba).” Yang dimaksud Qurba di sini adalah Ali, Fatimah, Hasan Husein. al-Zamakhshari menyatakan; Telah diriwayatkan bahwa selepas turun ayat di atas ada seseorang berkata; “Wahai Rasulullah Saww siapakah karabat kamu yang diwajibkan ke atas kami untuk mengasihi mereka, “Rasulullah saww menjawab: “Ali, Fatimah, dan kedua anak mereka (yakni Al-Hasan dan Al-Husein).”25 3. Al-Husein disebut sebagi putra-putranya Rasulullah Saww, sebagai orang-orang yang terdepan dalam mewakili ummat Nabi, dalam bermubahalah dengan para pendeta kaum Najran yang tidak menerima kenabian Muhammad Saww. Ayat Mubahalah : Qs:3:61 “Barang siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datangnya ilmu (yang menyakinkan kamu) maka katakanlah (kepadanya) marilah kita memanggil anak-anak kami (Abna’ana) dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami (nisa’ana) dan isteri-isteri kamu, diri kami (anfusna) dan diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta.” (Ali Imran: 61) Imam Kazhim a.s. bersabda: “Pada peristiwa mubahalah dengan para Uskup Kristen Najran, Rasulullah Saww hanya membawa Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Hasan dan Husein a.s. Ini berarti, diri (anfusana) berarti Ali bin Abi Thalib, wanita (nisa`ana) berarti Fathimah, dan anak-anak (abna’ana) berarti Hasan dan Husein yang telah dinyatakan oleh Allah sebagai putra-putra Rasulullah SAWW sendiri”.26 4. Al-Husein merupakan salah satu Ahlul Bait Nabi yang memiliki akhlaq yang mulia sebagai pemimpin ummat yang mendahulukan kepentingan umatnya diatas kepentingan pribadinya. Surat Al Insan : 5-23 Mengenai pengorbanan Ahlul Bait dalam menolong faqir miskin dan yang membutuhkan termasuk di dalamnya Al-Husein as . bahwa “ketika al-Hasan dan al-Husein sakit, lalu Imam Ali as dan Sayyidah Zahra as bernazar diikuti pula oleh seorang hamba bernama Fiddah, bernazar jika keduanya (al-Hasan dan al-Husein sembuh, mereka akan berpuasa tiga hari. Kemudian keduanya sembuh, tetapi mereka tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan, lalu ‘Ali meminjam dari Syam’aun seorang Yahudi Khaibar sebanyak tiga aswa’ gandum (sya’ir). Fatimah menggiling satu sau‘an dibuat 5 roti sebanyak bilangan mereka (‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husein dan Jariah). Kesemua roti itu diletakkan di hadapan mereka untuk berbuka puasa, tiba-tiba muncul di hadapan mereka seseorang pengemis dan berkata: “As-salamu-‘alaikum Ahlul Bait: berilah aku makan niscaya Allah akan memberi kalian makan dari hidangan surga. Maka mereka mengutamakan pengemis tersebut lalu mereka tidur dan tidak makan kecuali meminum air dan besoknya mereka berpuasa lagi, ketika sampai waktu petang dan tangan mereka sedang memegang makanan tiba-tiba muncul seorang yatim berdiri di hadapan mereka, mereka pun memberikan makanan tersebut, dan pada hari yang ketiga datang seorang tawanan meminta makanan, merekapun memberikan kepadanya seperti hari-hari sebelumnya. Maka pada keesokan harinya, ‘Ali dengan memegang tangan al-Hasan dan al-Husein untuk menemui Rasulullah Saww dan ketika Rasul Saww melihat mereka dalam keadaan gemetaran dan menggigil kelaparan, Rasul Saww bersabda bersabda: apakah yang telah terjadi yang menyebabkanku sedih melihat kalian, lalu Rasul Saww pun bangun dan pergi bersama-sama mereka dan melihat Fatimah di mihrabnya duduk kelaparan berbongkok sampai bertemu bagian atasnya dengan perutnya dan mencucurkan air matanya, maka keadaaan ini membuat sedih Rasulullah Saww, kemudian Malaikat Jibril turun dan berkata: Wahai Muhammad ambillah dia (Fatimah), Allah memberikan tahniah pada Ahlul Baitmu lalu Jibril pun membacakan Surah (al-Insaan)” 27 5. dan lain-lainnya, di sini hanya beberapa saja yang disebutkan. B. Di dalam kitab Hadis Ahlussunnah di antaranya adalah 1.Di dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir, Rasulullah Saww telah bersabda: حسين مني و أنا من حسين أحب الله من أحب حسينا حسين سبط من الأسباط Husein dariku dan aku pula dari Husein, Allah mencintai siapa saja yang mencintai al-Husein as adapun al-Husein adalah keturunanku putera puteriku (az-Zahra).28 2. Dan Al-Husein as merupakan salah satu Imam (pemimpin dunia akhirat) dan wasyi (Wakil) Nabi setelahnya, dan ini bisa dilihat di dalam salah satu kitab aqidah ahlusunnah wal jamaah29 Betapa tingginya Kedudukan Al-Husein as, sehingga tangisan Rasul Saww sebanding dengan kemuliaannya. Seperti halnya Nabi-nabi sebelumnya yang menangisi putra penerus kenabiannya, yang menangis ketika kehilangan putra-putra mereka seperti kisah nabi Ya’qub as. Di mana posisi nabi Yusuf as pada saat itu adalah sebagai putra dan penerus risalah ayahnya. Begitu juga Al-Husein as di mana dia sebagai cucu kesayangannya dan sebagai penerus risalahnya, sehingga apabila datang berita bencana yang akan menimpanya maka sudah sepantasnyalah menangisi Al-Husein sebagaimana Nabi kita Saww menangisinya pula. Penutup Peristiwa memilukan Karbala dan menangisi serta meratapi Al-Husein adalah sesuatu yang dianjurkan oleh Rasul Saww sendiri. Tangisan ini membawa pengaruh yang besar bagi ajaran Nabi Saww, dan hari-hari Asyura merupakan hari-hari duka bagi seluruh manusia khususnya kaum muslim tanpa melihat mazhab apa yang dianutnya. Sebab Rasul Saww sendirilah yang melakukannya. Dengan menjadikan Asyura sebagai duka bersama kaum Muslim di sini kita akan menemukan titik persamaan ajaran nabi Saww dan juga nilai-nilai kemanusiaan yang bisa diambil daripadanya. Bersama-sama merenungi hikmah dibalik tragedi Karbala merupakan tugas bersama bagi kaum muslimin, sebab bagaimana mungkin Al-Husein as sebagai junjungan dan pemimpin umat yang harusnya dimuliakan dan dilindungi, terbunuh secara keji di padang Karbala. Mudah-mudahan Majelis Asyura menjadi subur di sepanjang zaman tanpa melihat perbedaan mazhab dan keyakinan.
Daftar Pustaka 1. Shahih Bukhari Bab Janaiz no 1303 (Shamilah), atau Shahih Bukhari jilid II, hal 85 Darul Fikr, Beirut. 2. Shahih Bukhari Bab Janaiz no. 1284 (Shamila), Bab Baka’ ‘alal mait no. 11 Shahih Muslim, atau shahih bukhari hal.147 juz I dan Shahih Muslim jilid 3, hal ke-39 Darul Fikr. 3. Musnad Ahmad no. 4984 (Shamila), Atau Musnad Ahmad jilid ke-2 hal ke-40, Darul Fikri, Beirut. 4. Istii’ab fi Ma’rifat Al-Ashhab jilid ke-1, hal. 243. 5. Musnad Ahmad bin Hanbal no. 3158 (Shamila) 6. Qs : Yusuf : 84 7. Tafsir Al-Kasysyaf jilid II, hal. 339 8. Syarah Shahih Muslim An-Nawawi Juz III, hal. 339 (Shamila) , juz VI hal. 228. Dar Al-Kitab Al-‘Arabi. 9. Qs: Al-An’am :164 10. Tarikh Tabhari, hal 348-349, juz 2 (Shamila), atau juz2, hal 614 (Zikr Wafat Abu Bakar), beirut Al-A’lami. 11. Al-Istii’ab Fi Ma’rifati Al-Ashhab jilid II, hal. 431 12. Al-Istii’ab Fi Ma’rifati Al-Ashhab jilid IV, hal. 1507 13. Musnad Ahmad Juz II, hal 119 (Shamila) hadis ke-613, atau Musnad Ahmad, jilid I, hal.85, Dar Shadr; Majma Az-Zawaid Lilhaitami, jilid IX hal 187, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiah, tahun 1408; Musnad Abi Ya’li Al-Maushuli jilid I, hal.298, Al-Mu’jam Al-Kabir Lithabarani jilid 3, hal.105, hadis ke-2811, Kanz Al-‘Umal jilid 13, hal. 655 hadis 37663. 14. As-Sawa’iq Al-Muhriqah hal 193 15. A’lam An-Nubuwwah,bab ke-12, hal. 23. 16. Mu’jam Al-Kabir jilid III, hal. 107, hadis ke-2814 dan 2815 (Shamila), Al-Haisyami di dalam Majma’ Az-Zawaid jilid 9, hal. 188. 17. Al-Bukhari dalam Tarikh Al-Kabir jilid III hal. 324 hadis 1098, Sunan At-Tirmidzi, Jilid 13, hal. 391 , hadis ke-4140 (Shamila); Al-Mustadrak Al-Hakim jilid IV, hal. 19 18. Musnad Ahmad juz I , hal. 283 19. Al-Khashaish Al-Huseiniyyah, hal. 105-232 20. Qs: An-Najm:3 21. Qs: An-Najm:4 22. Qs: An-Najm:11 23. Qs: Al-Ahzab :21 24. lihat kitab sumber riwayat Ummu salamah : al-Dur- al-Manthur karangan al-Suyuti, hadis dikeluarkan oleh al-Tabrãni daripada Umm Salamah, jilid 5 hlm 198-199; Sahih tirmidzi, jilid 13, hlm 246; Musnad Ahmad, jilid 6, hlm. 306, Sahih Muslim, jilid 7, hlm. 120, dan lain-lain 25. Zamaksyari dalam tafsir al-kasysyaf 26. Imam Fakhruddin Ar-Razi di dalam At-Tafsirul Kabirnya 27. Al-Zamakhshari dari Ibn Abbas rd 28. Al-Mu’jam Al-Kabir juz 22, hal 274, hadis ke-702 29. Yanabi’ Al-Mawaddatah lidzawil Qurba juz III hal. 353.
Disarikan dari : 1. Kitab Muqaddimah “Al-Majalis Al-Fakhirah fi ma’tam al-itrati an-nabi”, muallif As-sayyid ‘abdul Al-husein syarafi ad-din, penerbit al-haqaiq 2. Kitab “liyali baisyawar munadharah wal hiwar” muallif As-sayyid Muhammad Al-Musawi As-Syirazi, penerbit Dar al-Qari 3.Maktabah Shamila
Penyusun : Muhammad Habri Zen S.Si Mahasiswa Internasional University of Ali Al-Bait Qom Iran
Oleh: alex_capc, Januari 20, 2010 Thanks atas artikelnya. Selama ini saya hanya menemui hadis hadis yang yang diriwayatkan dari sahabat saja, tetapi sangat sedikit dari kalangan ahlul bait. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Dimanakah saya bisa mendapatkannya? Thanks Oleh: yusuf, Januari 22, 2010 wah kalau begitu asyuroan harusnya diperingati oleh semua kaum muslim dong... jangan hanya orang2 syiah aja... tapi bagaimana tanggapan orang muslim kebanyakan di indonesia dengan asyuranya??? Oleh: yusuf, Januari 22, 2010 kalau begitu sebagiknya asyura di indonesia diadakan bukan hanya oleh orang2 syiah tapi juga oleh sebagian besar kaum muslim di indonesia..biar tau tuh rakyat indonesia mana yang adil mana yang zalim Aturan Diskusi: Seluruh komentar yang masuk akan melalui proses seleksi dan pengeditan terlebih dahulu di meja redaksi sebelum kami tampilkan di Situs. Komentar yang ditulis dengan bahasa yang baik, sopan, tidak bersifat adu domba, menghujat dan membangun lebih mendapat perhatian redaksi, sehingga komentar tersebut akan dimuat di situs lebih besar. Setiap komentar bisa di komentari secara imbal balik. Redaksi berhak menolak setiap tanggapan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Selamat berdiskusi!.
|
|||
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|














