| Kapitalisme Vs. Sosialisme: Buktikan Anda Bebas Memilih! |
|
|
|
| Rabu, 06 Januari 2010 | |||
|
Tulisan ini terinspirasi dari sebuah diskusi yang berjudul "Sosialisme Vs Kapitalisme (dimana keberpihakan anda??)". Di awal artikelnya, penulis menjewer kuping kapitalis dengan mengatakan, “kapitalisme adalah akumulasi, eksploitasi, dan ekspansi, yang ujung-ujungnya adalah sebuah pertumbuhan ekonomi. Dan di antara ketiga hal tersebut, yang menjadikan kapitalisme sangat tidak manusiawi adalah EKSPLOITASI”. Selanjutnya penulis memuja puji sosialis demikian, “sedangkan sosialisme, lebih memegang prinsip kontrol penuh negara dalam perencanaan ekonomi, dan diharamkan adanya pemilik modal.” Tentu saja dua paragraph diatas cukup menggelitik jiwa awam saya, kenapa ..?. Kalau mau jujur, sebenarnya dua ideology diatas yakni sosialis maupun kapitalis sama-sama mengalami krisis eksistensialis. Saya sangat-sangat percaya dengan analisis Robert Heilbroner, seorang ekonom terkemuka di Amerika Serikat yang di kenal sebagai bapak pembela Sosialis dalam sebuah makalahnya “The Triumph of Capitalism”, The New Yorker, edisi 23 Januari 89 di katakannya: ”Pertarungan kapitalisme dan sosialisme sudah berakhir. Sosialis keok, kapitalis menang”. Juga pernyataan lain, dia sangat yakin kapitalisme runtuh. Lihat bukunya “The Nature and Logic of Capitalism”, (New York, W.W. Norton, 1985,p.143) Sejatining Kapitalis Analisis yang saya ketengahkan lebih pada sejarah kemunculannya, dari segi faham filosofisnya, kaitannya dengan konsep pemikiran lain dan seterusnya. Namun, bagi saya, kapitalisme tidak signifikan dari segi argumentasi, namun kuat dan besar dari sisi fenomena. Permunculannya sangat gemerlap. Oleh karena itu membahasnya sebagai fenomena dan ciri-cirinya lebih penting. Karl Raymond Popper dan Francis Fukuyama pernah menyebutkan bahwa masyarakat Amerika saat ini adalah bentuk terakhir peradaban umat manusia. Menurut mereka berdua, masyarakat manapun yang hendak melanjutkan kemajuan, akan berakhir pada bentuk masyarakat Amerika saat ini. Jika ada yang berharap manusia bisa mencapai sebuah peradaban yang lebih dari itu, ia seorang utopian. Tentu mereka berdua menjadi begitu tersohor dan ‘di-tersohor-kan’ tidak lepas dari rekayasa di balik layar. Faham kapitalisme dan produk sejenis, tentu diadopsi oleh elit tertentu demi mempersiapkan umat manusia dijadikan batu bata bangunan imperial yang mereka bangun. Karena segala sesuatu dinilai dari uang dan uang adalah kekuasaan, mereka merambah dalam setiap bentuk kekuasaan, modal, pendidikan dan media massa. Bentuk moderennya muncul di zaman kolonial, di Inggris terdapat beberapa keluarga Yahudi yang salah satunya bernama Rothschild. Puncak keluarga itu adalah Baron Rothschild. Mereka begitu dekat dengan kerajaan. Inggris menjajah dua pertiga dunia dengan menggunakan serbuk mesiu dan modal dari Baron. Tentu, setelah mereka menguasai tanah-tanah itu, Baron mendapat bagian dari jutaan pound hasil rampasan mereka dari kekayaan India, Afrika dan kontinen Amerika. Dengan itu mereka menjadi lebih kaya dari sebelumnya. Saat modal sudah terkumpul, mereka pindah dari Inggris ke Amerika, para milyarder di sana mengumumkan independensi dari Inggris yang berakhir dengan keruntuhan empire Inggris Raya. Di sana kaum indrustialis menemukan tempat yang ideal untuk membangun kerajaan mereka. Mereka mulai dari ladang-ladang kapas tambang-tambang emas, menggunakan tenaga kerja masyarakat kulit hitam Afrika yang diperbudakan. Lalu saat minyak muncul sebagai emas hitam mereka berbondong-bondong membeli seluruh sumber minyak di Texas dan membentuk Seven Sisters, persatuan tujuh perusahaan minyak dunia. Shell, Mobil, Texaco, Exxon, BP, Caltex, Amco. Menggunakan pengaruh di kekuasaan, mereka juga tidak lupa menyedot sumber minyak di timur tengah dan Indonesia?. Masa demi masa berlalu dan mereka tetaplah yang kaya, hanya saja mereka senatiasa mengubah bentuk kekayaan. Sekali ladang kapas, emas, berlian, minyak, lain waktu mesin uap, otomotif, kasino, minuman beralkohol, narkotika, senjata dan kini informasi dan infotainment. Semenjak dekade 50an, mereka berpaling kepada televisi, perangkat yang baru terjadi. Mereka mendirikan stasiun tv seperti NBC, CBS. Sebelumnya mereka mengusai 100% dari industri perfileman Hollywood. Maha-Studio semacam Universal, Metro Goldwyn Meyer, United Artist, Warner Bros, Twentieth Century Fox berada di tangan mereka dan dipergunakan untuk membentuk sistem nilai dan pandangan dunia yang seiring dengan tujuan-tujuan komersial mereka. Kebutuhan dibikin-bikin dan konsumerisme merajalela. Baik buruk, indah, jelek ditentukan oleh produk yang dibeli. Tidak perlu diingatkan lagi, untuk mengembangkan kekayaan mereka menghalalkan segala cara. Mereka kini menguasai hampir 88% kekayaan dunia. Walaupun sangat mungkin mereka sedang mengusai 12% sisanya. Memerankan ‘hansip dunia’ bagi pusat-pusat kekuasaan dan kaum kapitalis multinasional salah satu strategi. Untuk itu mereka rela mengorbankan kepentingan rakyat Amerika sekalipun. Walaupun Amerika dan Russia masih merupakan dua adidaya militer, namun berbeda dengan sebelumnya mereka kali ini lebih banyak bekerjasama dalam rangka menjaga new world order. Ini dimulai semasa perang Teluk. Menengok arti “new world order” (tatanan dunia baru), kita dapat menafsirkan arti yang mereka kehendaki adalah setelah runtuhnya komunisme dan sosialisme, dunia harus kembali ke pangkuan adidaya tunggal yaitu AS. Teratur di bawah hegemoni tatanan kapitalisme. Oleh sebab itu muncul istilah global village atau globalisasi, yang menurut plesetan salah seorang sohib global-shitasi. Artinya dunia harus mengadopsi satu cara berpikir, budaya, sistem nilai. Kapitalisme!. Melihat kinerja kapitalisme dalam dua abad kiprahnya, kita dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya kapitalisme adalah faham konservatif. Ia didesain untuk menjaga kondisi yang ada. Memproteksi status quo. Jangan silau dengan jargon mereka tentang “new world order”. ‘New’ di sini berarti mengembalikan dunia pada bentuk kekuasaan tunggal, mengingatkan kita pada kekaisaran romawi pada puncak kejayaannya dan Inggris pada zaman kolonial. Dalam rangka mencapai tujuan itu, pertama mereka harus melembagakan sebuah asumsi; akhir kesempurnaan adalah yang ada saat ini. Mereka sangat alergi dengan segala gerakan perbaikan hakiki. Persis apa yang ditasbihkan oleh Karl Raymond Popper dan Francis Fukuyama. Segala protes sosial, akarnya selalu dicari di keluhan-keluhan psikologis. Mereka yang revolusioner adalah manusia kalah dan teroris. Persis yang divulgarkan oleh rasionalitas "Either with us or with the terrorist", pilih aku atau teroris!. Sejatineng Sosialis Analisis ini juga bukan pada tatanan system yang bergelayut disana, namun, sejarah sosialis ketimbang argumentatif. Siapa sangka gerakan-gerakan pro demokrasi di Eropa Timur sepanjang tahun 1989 mempunyai akibat politis yang begitu hebat dan luas. Gerakan-gerakan yang semula lebih banyak bergerak “di bawah tanah” tiba-tiba bangkit menjadi kekuatan yang menakutkan sekaligus menjadi mesiu pelumat status quo mahapanjang pemerintahan partai komunis yang represif dan totaliter disana. Tidak ada pula yang bisa menghapus ingatan, bagaimana kokohnya Tembok Berlin, yang hampir lima puluh tahun menjadi symbol keangkeran komunisme Eropa Timur itu, tiba-tiba begitu rapuh dan ambruk. Runtuhnya Tembok Berlin pada tanggal 9 November 1989 itu disambut dengan pesta pora rakyat dengan meneriakkan yel-yel: death to Marx, death to Lenin, death to Socialism. Ternyata perubahan konstelasi politik di Eropa Timur saat itu tidak hanya menggugah perhatian orang yang berkecimpung didalamnya. Perubahan itu juga telah memantik munculnya pandangan-pandangan filosofis baru dan merenovasi system sosialisme dalam kancah akademis dan intelektual. Apalagi pada saat yang sama, Uni Soviet (almarhum), negeri yang dipandang sebagai tanah kelahiran system sosialisme itu, tengah mengalami keguncangan dan pergolakan hebat dalam negeri. Disana pada waktu itu sedang berlangsung apa yang dikenal dengan perestroika, perombakan dan restrukturisasi massif dalam bidang politik dan ekonomi yang di komandoi langsung oleh Mikhail Gorbachev, dan sebelum itupun, Yuri Andropov telah me-restruktur, karena kaum komunis dan sosialis yang berkuasa dinilai telah gagal menjawab tantangan kesulitan ekonomi yang menyiksa rakyatnya. Namun restrukturisasi system itu malah mengubur impian rakyat Russia dan pretel-nya (cerai berai) Soviet Union. Sosialisme, dalam level konsepsional dan level praktik nyata, seperti yang kita saksikan di China, Uni Soviet, Cuba, Veneyuela dan Negara-negara Eropa Timur sejak dari sononya sudah mensyaratkan system politik yang kurang lebih otoriter, bahkan totaliter yang oleh inisiator diamininya sebagai “prinsip kontrol penuh Negara”. Dengan kata lain, otoriterisme dan totalitarisme itu sudah built-in dalam sosialisme. Asumsi saya, otoriterisme dan totalitarisme itu sudah jadi komponen lengkap, integral dengan sosialisme, dalam teori sekaligus praktik. Jadi yang runtuh dari negara-negara yang dibangun dengan system sosialis adalah sosialisme dengan segenap komponen-komponennya. Lalu, saudara inisiator dalam memuja-pujinya menulis, “prinsip yang diutamakan oleh negara-negara sosialis adalah sebuah pemerataan ekonomi”. Tiba-tiba saja saya ber-andai-andai, jika saya memiliki rumah bertingkat empat dan tanah luas, oh… sumringahnya saya, meski sekedar andai-andai, namun, celakanya “pemerataan ekonomi” itu menjadi bibir saya kecut dan tak lagi sumringah, karena atas nama “pemerataan ekonomi” tadi, rumah bertingkat dan tanah luas itu harus lebur dalam kepemilikan bersama dan menjadi milik bersama. Berita-berita gembira semacam itu bisa kita tulis dan paparkan di koran-koran hingga menghabiskan entah berapa lembar, tapi berbagai praktik di Negara-negara sosialis pada gilirannya dalam banyak hal berita-berita manis itu tong kosong belaka. Timbul pertanyaan, mengapa rezim-rezim partai komunis di Eropa Timur yang begitu angker dan kokoh itu, tiba-tiba gampang goyah dan begitu mudahnya runtuh. Apakah atau dapatkah kita katakan dengan berbagai asumsi bahwa kapitalisme telah meraih kemenangan yang pernah jaya raya namun rapuh juga di penghujung abad ke-20 ini?. Masih asumsi saya, dan saya masih percaya dengan analisis Robert Heilbroner. Mereka sama-sama gagal mengantarkan penganutnya untuk meraih kesejahteraan social sekaligus moral. Sosialisme dan kapitalisme sama-sama palsu, imitasi dan sama-sama memenderitakan umat manusia sebanding sejarah umat manusia apalagi dalam periode sejarah masyarakat modern. Kedua-duanya terlalu memboroskan human cost secara tidak manusiawi demi doktrin pemerataan (sosialis) dan pertumbuhan (kapitalis). Kedua-duanya sama-sama berada dalam tepi jurang kehancuran. Paling tidak keduanya telah “sekarat” menunggu ajal menjemputnya. Nalar bodoh saya seolah menyimpulkan bahwa sosialis dan kapitalis bukan saja gagal menjadi ideology yang memberikan referensi secara tidak memuaskan dalam mewujudkan system social. Tapi lebih dari itu, kegagalan tersebut harus diberi “kartu merah” harus diusir dari lapangan kehidupan social, ekonomi dan politik. Oleh karena itu, menjajakan sosialis dan kapitalis sebagai pilihan purna sebagai ideology dan system social sungguh tidak lagi layak tawar. Lalu, di mana posisi kita berkaitan dengan fenomena kapitalisme dan sosialisme? Diakui atau tidak, ternyata dua system inilah yang saat ini berkembang dan memang dikembang biakkan pada tatanan kehidupan social kita, oleh karena itu tidak ada pilihan bagi kita sementara ini dan kita “terpaksa” mesti menjalaninya. Namun ada tiga hal penting: -jika kita membekali diri dengan pandangan dunia yang dapat membendung pikiran kita dari hegemoni kedua sistem social gagal total tadi, kita bisa berharap dalam prakteknya, bertahan dalam perjuangan menyampaikan pesan agama yaitu puncak kemanusian yang tiada lain adalah kehambaan terhadap Pangkal keberadaan dan bukan mendefinisikan manusia hanya pada sisi mortalnya. Tentu dengan bantuan Pemilik agama. -jika tidak, artinya kita gagal mengadopsi sebuah pandangan dunia yang kokoh, dengan bekal pengetahuan agama, kita dapat mengisi bagian tertentu dari bangunan kapitalisme dan sosialisme. Kita bisa mengambil posisi sebagai justifikator kekuasaan dan hegemoni kebatilan. Dengan demikian, kita membangun struktur hegemoni 'mini' dengan seorang raja 'kerdil' di atasnya, kita sendiri. -atau dalam gambaran ketiga, kita menjadi manusia pasif yang pokoknya merasa ada yang dikerjakan. Untuk siapa? apa tujuannya? Tak usah dipersulit! Yang realistis saja!. Buktikan Anda bebas memilih! [M Turkan]
Oleh: unknown, Januari 16, 2010 Begini saja.. wajar Kalo kapitalisme nyatanya jadi nomer satu, dan sosialisme kalah dibanding dengannya.. karena... ya karena gk ada lagi sistim lainnya yang bisa menunjukkan jatidirinya! Mana sistim perekonomian Islam? Coba tunjukkan.. Kalau semisalnya Muslimin berhasil menunjukkn "Ini lho sistim perekonomian Islam dan prinsip-prinsipnya...", siapa sih yang tidak mau menerima? Kalau memang sistim perekonomian Islam itu keren, siapa juga yang tidak tertarik? Bandingkan saja perekonomian negara Islami seperti Iran, dengan negara kapitalis seperti Amerika... bandingkan sistemnya.. dengan melihat secara kasat mata, lebih tangguh mana? Hanya saja salahnya kaum kapitalis tidak punya agama, itu saja.. seandainya agama Islam adalah agama mereka, orang2 Amerika pasti jadi umat paling mulia di muka bumi.. selain memiliki agama yang benar, mereka juga punya sistim ekonomi dan sosial yang handal! Sementara ini Islam kan hanya bisa "ngomong" dan tidak bisa mnunjukkan jatidiri. Oleh: jamluddin, Januari 24, 2010 SALAM Ekonomi Islami itu berat, banyak orang kaya yang nggak suka dengan sistem itu. Sumber daya alam itu terbatas, oleh karena itu cara utama untuk menghilangkan kemiskinan dimuka bumi adalah dengan menyadarkan manusia bahwa mereka tidak boleh mengambil dari dunia ini melebihi kebutuhan primer. Jika manusia mengambil dari dunia melebihi kebutuhan primer maka banyak manusia yang lain tidak akan kebagian dari kekayaan dunia ini sehingga ia menjadi miskin bahkan kelaparan. Imam Ali as telah memperingatkan kita akan hal ini melalui hadisnya: “janganlah kalian meminta di dunia ini lebih dari cukup, dan janganlah kalian mencari dari dunia ini melebihi batas yang telah ditentukan (Nahjul Balagah: Khutbah 45) “Ketahuilah segala sesuatu yang kau peroleh dari dunia ini melebihi kebutuhan makanmu maka kamu didunia ini hanyalah penimbun (harta) milik orang lain” (al-Bihaar : 61/90/73) “Peganglah dari harta dengan kadar untuk kebutuhan primermu, dan utamakanlah untuk hari hajatmu (akhiratmu).” (Nahjul Balagah: surat 12) Lihat pula Nahjul Balagah: Khutbah 159. Dengan demikian cara utama untuk mengentaskan kemiskinan adalah memperingatkan orang kaya bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk mengisi kevakuman finansial. Imam Ali as juga pernah menyampaikan hal ini dengan sangat jelas dan tegas: “Barang siapa yang nikmat Allah swt besar padanya, besar pula cadangan makanan manusia padanya. Maka kekalkanlah nikmat tersebut dengan memenuhi cadangan makanan manusia dan janganlah kalian tukarkan untuk kehilangan (hilangnya nikmat tersebut). Betapa sedikit nikmat yang telah hilang dari seseorang hampir kembali padanya.” (al-Kaafi : 1/37/4) Jika orang kaya mengabaikan hal tsb maka kita mesti membiasakan diri untuk mengucapkan hadis dari Imam Ja’far as: “Jika engkau melihat kemiskinan maka ucapkanlah selamat datang wahai tanda orang-orang saleh. Jika engkau melihat kekayaan maka ucapkanlah dosa yang segera datang hukumannya”. (al-Kaafi 12/263/2) Aturan Diskusi: Seluruh komentar yang masuk akan melalui proses seleksi dan pengeditan terlebih dahulu di meja redaksi sebelum kami tampilkan di Situs. Komentar yang ditulis dengan bahasa yang baik, sopan, tidak bersifat adu domba, menghujat dan membangun lebih mendapat perhatian redaksi, sehingga komentar tersebut akan dimuat di situs lebih besar. Setiap komentar bisa di komentari secara imbal balik. Redaksi berhak menolak setiap tanggapan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Selamat berdiskusi!.
|
|||
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|














