Tamu

Saat ini ada 13 pengunjung yang online
Anggota: 430
Berita: 176
WebLinks: 54
Pengunjung: 674202

Daftar Anggota






Saya lupa passwordnya?
Belum punya Username & Password? Daftar Baru!
Depan arrow Akhlak & Irfan arrow I N S A F !
I N S A F ! Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Kamis, 07 Januari 2010
Kalaulah lidah kita bisa menyembunyikan pengalaman dan kesadaran baik-buruk kita dengan kebohongan kepada orang lain, mata hati kita masih lebih tajam dari sekedar menutup-nutupinya. Dalam ukuran orang normal, kezaliman dengan segala bentuknya akan sangat mengganggu kedamaian jiwa pelakunya meski ia tampil kalem dan dingin. Kezaliman itu pula yang dapat menggoyang ketenangan jiwa kita yang melihatnya sampai kadang mengumpat dari belakang. Ada semacam kecamuk dan keresahan yang bahkan bisa terbaca di raut wajah, denyutan yang terasa di urat nadi, dan deg-degan yang teraba di dada sebagai perlawanan dari mata hati.
Sebaliknya, rasa setengah hati, masa bodoh, sikap acuh tak acuh terhadap gejala busuk dalam diri atau dalam lingkungan sosial menjadi kekuatiran yang serius akan kebutaan mata hati dan kematian malaikat kita. Semakin kita acuh tak acuh, semakin dalam lagi kita menggali kuburan diri kita di dalam diri kita sendiri.

Masa bodoh dan sikap acuh itu sesungguhnya ekspresi kelalaian diri terhadap dirinya sendiri sebelum kelalaiannya terhadap kelalaian orang lain.

Sikap dan perilaku tersebut, sangat mudah kita temukan pada sebagian besar elit politik di tanah air kita. Acuh, masa bodoh dan sombong. Buta mata hati, mengubur malaikat. Elite di negeri ini benar-benar memiliki tabiat buruk, penderitaan rakyat dan kesulitan rakyat tidak tecermin dalam perilaku mereka.

Dekadensi moral adalah kata tepat. Penderitaan rakyat, bagi sebagian elit politik seringkali di manfaatkan sebagai peluang 'komoditas' untuk memperkaya diri.

Lembaga-lembaga yang sejatinya bertugas menjaga dan menumbuhkan moralitas menjadi lahan subur untuk di komersialkan. Di negeri kita Indonesia yang sangat diagungkan nilai solidaritas social, tidak acuh pada orang lain, tepo seliro, ikut cawe-cawe telah kehilangan energinya dilindas ganasnya mesin individualism karena dirongrong oleh nafsu komersialisasi. Rakyat telah kehilangan kepercayaan, mungkin mereka yang duduk manis di “singasana” rakyat selain tidak berkualitas adalah jebolan universitas tawuran.

Solidaritas, tepo seliro yang menjadi cultural masyarakat kita, justru tenggelam bersama lembaga dan makelar perubahan.

Walaupun kita memaksa untuk optimistis bahwa masih banyak orang, lembaga dan makelar-makelar baik di negeri ini, tetap saja tidak bisa menutupi kegundahan terhadap fakta bahwa dekadensi moralitas bangsa ini begitu dahsyat. Sedahsyat kekayaan elit-elit di tanah air menumpuk kekayaan “haram” yang di legalkan. Mereka yang seharusnya menjadi anutan berubah menjadi hipokrit tanpa rasa malu.

Jika kondisi ini dibiarkan, tinggal menggulur waktu, kehancuran sebuah bangsa dan kerusakan hidup bernegara niscaya kita relakan.

Memang, menghasilkan produk manusia yang berkualitas, yang berjiwa social, ber-empati, peduli kepada rakyat dan putra putri bangsanya memang tak bisa ditempuh lewat jalan pintas. Ia mesti melalui pembelajaran dan pembinaan yang terus-menerus dan sungguh-sungguh.

Yah, insaf adalah langkah awal pembelajaran dan pembinaan diri kita dan seluruh bangsa. Dan ia adalah harapan yang besar untuk kita memandang kembali diri kita, bangsa dan alam semesta dengan tinjauan spiritual yang pernah kita destrusikan, membangkitkan kembali malaikat yang pernah kita kubur, dan menghidupkan kembali mata hati kita yang pernah kita butakan.

Selanjutnya, biarkan mata itu tertusuk besitan cahaya naluri, biarkan ia sakit sampai menjeritkan kembali keresahan, membuang kebusukan, kepekaan, kepedulian, perlawanan dari dalam batin, dan biarkan wajah kita padam tak lagi ramah, dada kita bertalu deg-degan tak lagi tenang.  Sebab, mata yang demikian inilah yang dirindukan Tuhan.

Insaf, jika didegradasikan dan diadaptasikan pada kalangan awam, akan membawa seseorang untuk menemukan kembali hakikat dirinya, meyakinkan kebebasan dan kemerdekaan eksistensialnya. Yakni, menyadari posisi terkininya di dunia serta jujur nasib diri sealakadarnya, kembali kepada diri sendiri, merdeka dan keluar dari segala kesibukan yang menimbuninya, dari yang diangankan sampai yang sedang dijalani. Di sini ia dapat menemukan dirinya menjadi diri sendiri serta mandiri dalam berpikir, berkehendak dan bertindak.

Walhasil, jika memang pembinaan diri dan bangsa itu perlu, kalau memang menanggalkan keakuan itu wajib, kalau memang keluar dari status quo itu lazim, kalau memang tahu diri itu penting, insaf pun menjadi penting, lazim, perlu dan wajib. Maka, insaf bukanlah tuntunan atau milik khusus jajaran elit kaum agamawan. Insaf harus tumbuh dalam diri-diri kita, mengalir di sepanjang sungai beriak. Semua manusia mau tidak mau melewati gerbang insaf. Jadi, insaf bukan tawaran!.[] M Turkan
Diskusi: (0) >> feed
Aturan Diskusi: Seluruh komentar yang masuk akan melalui proses seleksi dan pengeditan terlebih dahulu di meja redaksi sebelum kami tampilkan di Situs. Komentar yang ditulis dengan bahasa yang baik, sopan, tidak bersifat adu domba, menghujat dan membangun lebih mendapat perhatian redaksi, sehingga komentar tersebut akan dimuat di situs lebih besar. Setiap komentar bisa di komentari secara imbal balik. Redaksi berhak menolak setiap tanggapan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Selamat berdiskusi!.
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Tulis Kode:


busy
 
Selanjutnya >
 

Berita

Cache Directory Unwriteable
Advertisement