|
Apapun akar dari penstereotipan kaum perempuan, namun fenomena ini telah menjadi isu dan topik perdebatan beberapa dekade lalu. Pada saat itu, di Barat muncul gerakan-gerakan feminisme yang mengkritik sistem sosial masyarakat yang menjadikan perempuan sebagai warga kelas dua. Kata feminisme yang diartikan sebagai gerakan pembelaan terhadap hak-hak perempuan, untuk pertama kalinya digunakan pada dekade 1970-an. Namun, perjuangan kaum perempuan untuk meraih hak-hak mereka yang selama ini terampas memiliki sejarah yang lebih panjang dari itu.
Bagi sebagian orang akan terlintas pertanyaan, mengapa ketika membahas fenomena-fenomena sosial, masalah yang berkaitan dengan kaum perempuan dibahas secara terpisah, sementara pembahasan mengenai laki-laki tidak demikian? Kita sering mendengar kata-kata “penulis perempuan”, “hari perempuan”, “konferensi perempuan”, “sinema perempuan”, “sutradara perempuan”, dan lain-lain. Seolah-olah, semua profesi yang dianggap biasa di kalangan laki-laki, menjadi istimewa bagi perempuan.
Di manakah akar dari permasalahan ini? Apakah hal ini terjadi karena perempuan dalam struktur sosial memainkan peran sekunder? Atau, apakah hal ini disebabkan oleh masih diterimanya pandangan sebagian filsuf dan pemikir kuno dalam masyarakat dewasa ini? Filsuf seperti Jean Jacques Rosseau, menyatakan, “Mencari hakikat persepsional dan pengetahuan adalah sesuatu hal di luar batas kemampuan perempuan. Perempuan seharusnya menelaah bidang-bidang keilmuan yang praktis saja. Kewajiban mereka adalah mengamalkan prinsip-prinsip keilmuan yang telah ditemukan oleh laki-laki.”
Apapun akar dari penstereotipan kaum perempuan, namun fenomena ini telah menjadi isu dan topik perdebatan beberapa dekade lalu. Pada saat itu, di Barat muncul gerakan-gerakan feminisme yang mengkritik sistem sosial masyarakat yang menjadikan perempuan sebagai warga kelas dua. Kata feminisme yang diartikan sebagai gerakan pembelaan terhadap hak-hak perempuan, untuk pertama kalinya digunakan pada dekade 1970-an. Namun, perjuangan kaum perempuan untuk meraih hak-hak mereka yang selama ini terampas memiliki sejarah yang lebih panjang dari itu.
Jika kita mundur lebih jauh dari tahun 1970-an, yaitu ke tahun-tahun pertama pada abad ke-20, pemikiran mengenai pembelaan terhadap hak-hak perempuan mulai diangkat beberapa penulis perempuan di Barat, di antaranya oleh Virginia Woolf. Woolf dalam buku romannya mengecam atmosfer superioritas laki-laki dalam masyarakat Eropa saat itu. Woolf juga mengkritik peran perempuan yang dibatasi pada urusan keluarga dan rumah tangga. Ia meyakini, bila kesempatan diberikan kepada kaum perempuan, mereka akan mampu menghasilkan karya yang banyak.
Setelah Virginia Woolf, muncul pula para penulis lannya yang menyuarakan kritikan-kritikan terhadap hegemoni laki-laki terhadap kaum perempuan. Gerakan-gerakan ekstrim untuk membela hak-hak perempuan ini umumnya disetir oleh para cendikiawan. Para cendikiawan tersebut bahkan menisbahkan sifat-sifat kelelakian kepada perempuan untuk membesar-besarkan kemampuan perempuan, serta menyebut perempuan sebagai makhluk yang lebih baik daripada laki-laki.
Menurut pandangan kaum feminis, media-media massa berperan besar dalam membentuk pandangan masyarakat tentang perempuan, terutama sinema atau film. Sejak dimulainya sejarah sinema, kaum perempuan tidak memiliki peran yang signifikan. Mereka selalu menjadi kaum pinggiran dan hanya dimanfaatkan dalam melodrama yang menyentuh hati, sinema-sinema horor, atau film-film yang bertema seksual. Seiring dengan meluasnya gerakan feminisme, bentuk kehadiran perempuan dalam sinema pun mengalami perubahan.
Gerakan feminisme menginginkan agar perempuan dalam sinema tidak ditampilkan dalam peran-peran yang monoton dan tipikal, melainkan peran-peran yang melindungi hak-hak perempuan secara ekstrim dan fanatik. Bahkan kelompok-kelompok yang fanatik sampai menuntut dihapuskannya peran perempuan dalam sinema karena dalam hal ini perempuan hanya dijadikan bahan eksploitasi. Laura Mulvey, seorang aktivis feminisme, menyatakan bahwa sinema adalah alat untuk memenuhi kesenangan laki-laki.
Perlu disebutkan bahwa satu abad yang lalu, yaitu sejak dimulainya industri sinema, perempuan hanya dihadirkan sebagai penghias sementara laki-laki ditampilkan sebagai lakon utama dan pahlawan pembebas. Puluhan tahun berlanjut sampai perempuan berhasil keluar dari peran-peran yang sesuai selera laki-laki itu. Salah satu era penting dalam perubahan ini adalah pada era Perang Dunia Kedua. Pada era tersebut, sutradara bernama John Ford menampilkan kepribadian kaum perempuan yang mandiri dan bekerja di pabrik, rumah sakit, dan suratkabar, sekaligus bekerja keras di dalam rumah tangga.
Namun segera setelah perang berakhir, sinema Amerika kembali menampilkan peran-peran perempuan sebagai penghias layar serta mencela aktivitas perempuan dalam masyarakat. Marie Hesscel, kritikus sinema terkenal, mengenai sinema AS pada era tersebut mengatakan, “Kebaikan di tengah kaum perempuan Amerika adalah sebuah seni yang hilang. Mereka berperilaku bagaikan bajingan supaya mirip dengan laki-laki.”
Pada periode itu pula, sebagian sineas menampilkan perempuan sebagai sosok yang indah, namun beracun dan pembuat makar. Sosok-sosok perempuan seperti ini banyak ditampilkan dalam genre sastra dan sinema hitam. Genre sinema ini dibangun oleh John Houston lewat filmnya yang berjudul Maltese Falcon. Aliran ini dianggap sebagai reaksi atas aliran film yang berkembang pada era perang.
Namun demikian, adapula sebagian sineas Barat seperti Antonioni, Alan Resnais, dan Francois Truffaut yang menampilkan perempuan dalam sudut pandang yang baru, yang melawan arus yang berkembang pada zaman itu. Kecenderungan seperti ini berlanjut hingga akhirnya memuncak pada tahun-tahun akhir abad ke-20. Dalam karya para sineas ini, perempuan ditampilkan sebagai manusia yang memiliki kehendak dan kemampuan, sehingga karenanya, mempunyai posisi dan kedudukan dalam masyarakat.
Sementara itu, sinema di negara-negara belahan Timur, juga mendapatkan pengaruh yang signifikan dari arus perubahan pada penampilan sosok perempuan dalam sinema. Para sineas generasi baru di Timur banyak mengambil langkah-langkah positif berkenaan dengan sosok perempuan yang mereka tampilkan dalam sinema. Negara di Timur yang paling signifikan dan serius dalam mengubah citra perempuan dalam sinema adalah Iran. Sejak kemenangan Revolusi Islam di Iran, sinema negara ini menampilkan tokoh-tokoh perempuan dalam sosok dan peran yang baru, yang sangat mengangkat nilai-nilai kemanusian seorang perempuan.
Sejak dimulainya industri perfilman di Iran hingga saat sebelum menangnya Revolusi Islam, peran perempuan dalam sinema Iran jauh dari realitas dan bersifat rendahan. Namun, Revolusi Islam telah menunjukkan wajah perempuan yang berbeda kepada dunia melalui sinema. Dalam sinema pasca Revolusi Islam, perempuan tidak lagi dibagi antara perempuan kuno dan modern sebagaimana dalam film-film di masa-masa sebelumnya, melainkan ditampilkan dalam peran-peran yang bervariasi sebagaimana yang ada dalam kenyataan masyarakat.
Perbedaan mencolok antara sinema pasca Revolusi Islam dengan sinema di masa lalu adalah dijaganya syariat Islam dalam film-film pasca Revolusi. Dalam film-film pasca Revolusi Islam, perempuan diharuskan tampil dengan menutup aurat dan tidak ada adegan-adegan yang sensual. Dengan demikian, kaum perempuan dalam sinema Iran pasca Revolusi Islam tampil dengan membawa peran yang signifikan, bukan sebagai obyek eksploitasi keindahan tubuh.
Pada awal dekade 90-an, dimulailah era baru sinema Iran. Dalam era ini, kaum perempuan ditampilkan sebagai sosok yang lebih aktif dan independen. Dengan kata lain, perempuan dalam sinema kontemporer Iran memiliki kepribadian yang tidak tergantung kepada orang lain dan berperilaku atas dasar keinginan dan pemikirannya pribadi. Dalam film-film tersebut, perempuan digambarkan sebagai sosok yang mampu menentukan nasibnya sendiri. Selain itu, perempuan juga dideskripsikan sebagai kaum yang berperan aktif dalam revolusi dan perang.
Dalam sebagian besar film-film Iran kontemporer, perempuan ditampilkan sebagai unsur aktif dalam masyarakat yang selalu berusaha meraih kemajuan dalam kehidupannya. Salah satu kelompok film dalam era kontemporer Iran adalah film-film bertema perlawanan suci, yaitu film yang dilatarbelakangi suasana perang bangsa Iran ketika mempertahankan negaranya dari agresi Irak. Film-film bertema perang umumnya dipenuhi dengan tokoh-tokoh lelaki. Namun, dalam film-film perang Iran, perempuan dan laki-laki mendapatkan porsi yang hampir sama. Hal ini terjadi karena dalam kenyataannya, Perang Iran-Irak selama delapan tahun bagi rakyat Iran adalah sebuah perjuangan suci membela tanah air, sehingga kaum perempuan pun secara aktif terlibat dalam perjuangan ini.
Salah satu sutradara Iran terkemuka yang aktif membuat film bertema perlawanan suci adalah Ibrahim Khatami Kia. Sutradara yang telah menghasilkan delapan film sinema dan satu serial televisi ini tidak sekadar mngangkat pertempuran dalam filmnya, melainkan lebih banyak menyentuh sisi-sisi humanisme dan salah satu porosnya adalah perempuan. Dalam film-film karya Ibrahim Khatami Kia, perempuan Iran selalu ditampilkan sebagai sosok yang mampu memilih, penuh cinta, berakal, berhati nurani, bertanggung jawab, dan teguh.
Peran perempuan lainnya yang menonjol dalam sinema Iran adalah peran sebagai ibu. Dalam pandangan Islam, seorang ibu memiliki kedudukan yang mulia dan merupakan poros utama dalam kehidupan masyarakat karena ibu-lah yang akan menentukan kualitas generasi-generasi masa depan.
Film berjudul “Ibu” karya sutradara terkenal Iran, Ali Hatami, mungkin bisa disebut sebagai film monumental yang mengangkat tema seorang ibu. Dalam film ini, digambarkan tentang seorang ibu yang berhasil menciptakan hubungan emosional yang sangat erat di antara anak-anaknya. Film ini juga menyimbolkan hubungan yang erat antara anak-anak bangsa dengan tanah air mereka.
Film lain yang juga mengangkat peran indah seorang ibu adalah film berjudul “Rang-ge Khudo” atau “Warna Tuhan”, karya Majid Majidi. Di dalam film ini digambarkan seorang anak buta yang berkat bimbingan neneknya, dapat mengenal warna-warni alam, hakikat dunia, nilai-nilai kebaikan, dan tradisi masyarakat. Film yang mengharukan ini memperlihatkan betapa luasnya kasih sayang seorang ibu kepada anak dan cucunya.
Rakhsan Bani I’timad, seorang sutradara perempuan Iran, adalah di antara sekian banyak sutradara Iran yang sering mengangkat tema-tema perempuan. Dia berusaha menampilkan wajah sejati kaum perempuan dalam masyarakat Iran ke layar film. Film-film karya Rakhsan Bani I’timad terpenting, yang berbicara tentang perempuan, antara lain berjudul “Narges”, “Rusari Abi” atau Selendang Biru, dan “Zir-e Pust-e Shahr” atau Di Bawah Kolong Kota. Dalam film Di Bawah Kolong Kota, Rakhsan Bani I’timad menampilkan seorang ibu yang kuat dalam membimbing anak-anaknya.
Andre Tarkovsky, seorang sutradara Polandia, pernah menyatakan, “Para sutradara dapat dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah para sutradara yang ingin merekonstruksi dunia melalui pola-pola yang baku. Kelompok kedua adalah para sutradara yang ingin merekonstruksi dunia agar sesuai dengan impian dan harapannya. Kelompok kedua ini adalah para penyair dalam dunia sinema.”
Dalam sinema Iran, mungkin banyak sutradara kelompok pertama yang hanya sekedar menceritakan segala kejadian yang ada di sekitarnya. Namun, banyak pula sutradara penyair yang menampilkan perempuan dan masyarakat yang sesuai dengan impiannya. Apapun juga, yang jelas, sosok perempuan dalam sinema haruslah ditampilkan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, dalam arti tidak dijadikan bahan eksploitasi sensual dan memainkan peran-peran yang mengangkat harga diri dan jatidiri seorang perempuan. Dengan cara ini, film akan menjadi inspirasi bagi kaum perempuan untuk terus maju dan membangun dirinya.[]
Sumber: IRIB
| Diskusi: () >> |
 |
|