<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!-- generator="FeedCreator 1.7.2" -->
<rss version="2.0">
	<channel>
		<title>Merajut Kembali Toleransi Kebangsaan</title>
		<description>Comments for Merajut Kembali Toleransi Kebangsaan</description>
		<link>http://islamalternatif.net/iph</link>
		<lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 16:59:28 +0100</lastBuildDate>
		<generator>FeedCreator 1.7.2</generator>
		<item>
			<title>...</title>
			<link>http://islamalternatif.net/iph/index.php?option=com_content&quot;&amp;amp;&quot;task=view&quot;&amp;amp;&quot;id=165&quot;&amp;amp;&quot;Itemid=32#pc_143</link>
			<description>Sepakat dengan ajakan antum, seruan untuk menyamakan semua agama, atau menganggap agama yang lain juga benar, adalah seruan yang membingungkan, sebab siapapun menyakini hanya keyakinannyalah satu2nya yang benar, yang perlu ditumbuhkan adalah sikap toleran dalam menyikapi perbedaan. Semoga kita semakin dewasa dalam beragama. Bravo !!! ;)</description>
			<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 20:34:53 +0100</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>...</title>
			<link>http://islamalternatif.net/iph/index.php?option=com_content&quot;&amp;amp;&quot;task=view&quot;&amp;amp;&quot;id=165&quot;&amp;amp;&quot;Itemid=32#pc_144</link>
			<description>Bahasannya menarik, kata2 yang dipakai juga sederhana dan mudah dipahami, semoga lebih sering hadir... </description>
			<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 09:37:30 +0100</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>...</title>
			<link>http://islamalternatif.net/iph/index.php?option=com_content&quot;&amp;amp;&quot;task=view&quot;&amp;amp;&quot;id=165&quot;&amp;amp;&quot;Itemid=32#pc_251</link>
			<description>Sebenarnya, puncak toleransi kebangsaan telah kita nikmati pada saat kita memperjuangkan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 sampai dengan penyusunan perangkat pendukung suatu negara, pemerintahan seperti UUD dll. selesai dibuat. Tetapi, disaat kita memasuki pelaksanaan dan pencapaian akan harapan kemerdekaan, maka para tokoh kita hilang semangat kejujurannya, mereka masing-masing ingin memperkuat porsi kekuasaannya sendiri. Soekarno, melibas demokrasi dan berkuasa 21 tahun, begitu juga Soeharto yang membungkus kepemimpinannya dengan lebel demokrasi yakni menyelenggarakan beberapa kali pemilu tapi terkendali, sehingga dia bisa bertahan 32 tahun. Akhirnya, tatkala kita masuk era reformasi, kita terjebak dengan eforia kebebasan yang tak terkendali, bayangkan 44 parpol yang akan ikut Pemilu 2009. Sudahkan umat Islam mensukseskan Pemilu ini?. Jangan-jangan kita akhirnya akan jadi penonton dan bukan pemainnya.

Seyogianya, bangsa kita harus belajar dengan sistem negara dan pemerintahan di Iran karya mujaddid besar dunia Islam, Imam Khomaini. Beliau telah meletakkan suatu sistem negara dan pemerintahan yang Islami dan mendekati prinsip-prinsip ajaran Islam. Tapi sayang, gagasan yang mulia ini tak banyak negara yang rakyatnya mayoritas umat Islam mau mencontohnya. 

Di Indonesia ada daerah yang diberi kewenangan untuk menerapkan Syariat Islam seperti di NANGGROE ACEH DARUSSALAM (NAD), tapi sayang tak ada suatu lembaga pun baik pemerintahan sendiri maupun LSM atau ormas dan parpol Islam yang mau melakukan penelitian, pengkajian atas sistem yang telah diberlakukan saat ini, yakni sudah sejauhmanakah penerapan prinsip-prinsip ajaran Islam dapat dilaksanakan dalam penyelenggaraan pemerintahannya.  </description>
			<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 11:14:42 +0100</pubDate>
		</item>
	</channel>
</rss>
